Iran Masih Terpuruk! IMF Prediksi Ekonomi Minus 5,4% Tahun Ini

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 19:00 WIB
Foto: Orang-orang memegang bendera nasional "Singa dan Matahari" pra-Revolusi Iran selama unjuk rasa mendukung protes nasional di Iran, di Roma, Italia, 13 Januari 2026. (REUTERS/FRANCESCO FOTIA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi naik proyeksi ekonomi Iran pada 2026. Meskipun demikian, ekonomi Iran diprediksi masih berada di zona minus, yakni -5,4% akibat perang dengan Amerika Serikat dan Israel.

IMF memproyeksikan ekonomi Iran akan mencapai -5,4% pada 2026 pada 'World Economy Outlook' edisi Juli 2026. Angka tersebut naik 0,7% dari proyeksi pada WEO edisi April, di mana IMF memperkirakan ekonomi Iran -6,1% pada 2026.


"Pertumbuhan di Iran pada tahun 2026 direvisi naik sebesar 0,7 poin persentase, relatif terhadap April, menjadi -5,4%, mencerminkan hasil yang lebih baik untuk ekspor minyak pada bulan Maret dan April serta beberapa pelonggaran pembatasan ekspor negara tersebut, dan direvisi turun sebesar 0,3 poin persentase untuk tahun 2027 karena kontraksi yang kurang signifikan pada tahun sebelumnya," tulis IMF pada laporannya.

IMF menilai pengimpor komoditas di Timur Tengah dan Afrika Utara diperkirakan akan tetap relatif tahan terhadap guncangan neraca perdagangan negatif akibat harga energi dan pangan yang lebih tinggi, sementara negara-negara di Kaukasus dan Asia Tengah terus mengalami dorongan pertumbuhan yang menguntungkan.

IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3% pada tahun 2026, turun dari rata-rata 3,5% pada 2024-2025 dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook/WEO) Juli 2026.

IMF menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi karena efek berkelanjutan dari perang di Timur Tengah.

"Perlambatan moderat ini mencerminkan dampak perang di Timur Tengah," kata IMF.

IMF melihat risiko terhadap prospek lebih seimbang daripada pada bulan April tetapi masih condong ke sisi negatif. Kemungkinan konflik Timur Tengah yang kembali terjadi membayangi dan dapat memperpanjang volatilitas harga komoditas, semakin mengancam rantai pasokan, menaikkan harga, dan membebani kondisi keuangan.

"Fragmentasi perdagangan dapat meningkat, kemungkinan merugikan produksi dan meningkatkan harga," terang IMF.

Meskipun demikian, IMF melihat ekonomi dunia telah mengatasi guncangan akibat perang dengan lebih baik daripada yang dikhawatirkan sejauh ini.

Lonjakan harga minyak yang lebih besar dapat dihindari berkat pengurangan persediaan, peningkatan produksi di luar Teluk, dan tindakan untuk membantu mengurangi permintaan minyak. Selain itu, meskipun kondisi keuangan mengencang tajam pada bulan April, kondisi tersebut telah mereda dan tetap mendukung menurut standar historis.

"Sekarang perkiraan kami mengasumsikan bahwa Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli, dengan kondisi kembali normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Asumsi harga komoditas didasarkan pada harga pasar per 10 Juni, yang menyiratkan harga minyak rata-rata $89 per barel untuk tahun 2026," menurut outlook IMF.

"Pada intinya, kami memperkirakan pemulihan berbentuk V, pertumbuhan yang lebih lemah tahun ini dibandingkan dengan perkiraan pra-perang kami, diikuti oleh pemulihan tahun depan," tegas IMF.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ketua MUI Sebut Alasan Prabowo Tidak Disukai Asing