Prabowo Sebut RI Temukan Ladang Gas Besar di Wilayah Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia dikarunia sumber daya alam yang luar biasa, termasuk diantaranya panas bumi, batu bara hingga gas alam.
Yang terbaru, Indonesia, kata Prabowo, telah menemukan cadangan gas yang sangat besar di Lapangan Andaman di lepas Pantai Aceh. "Cadangan gas yang sangat besar, baru saja kita menemukan gas di andaman. kita masih punya ladang besar di Masela, di Maluku Barat Daya, di Natuna,"
"Di Kalimantan kita juga temukan baru saja ladang-ladang besar dan baru kita ketahui," terang Prabowo dalam Peresmian Peluncuran BBM Biodiesel B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Dalam catatan CNBC Indonesia, yang terbaru Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan proyek gas di Blok Andaman mulai beroperasi penuh (onstream) pada tahun 2028. Target tersebut diproyeksikan lebih cepat dibandingkan dengan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela, Maluku.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa terus mengikuti tahapan Final Investment Decision (FID) agar konstruksi fasilitas produksi dapat segera dieksekusi dalam waktu dekat.
"Alhamdulillah, PJBG/GSA Antara K3S Mubadala dan PLN untuk gas Andaman 160 MMSCFD baru saja selesai diteken guna keperluan FID yang Insya Allah dalam waktu dekat ini FID selesai, rencana onstream 2028 lebih cepat dari Masela," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Nantinya, pasokan gas sebesar 160 juta kaki kubik per hari (mmscfd) tersebut akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Sementara itu, sisa gas sebesar 140 mmscfd dari Lapangan Tangkulo yang memiliki cadangan 1 Trillion Cubic Feet (TCF) saat ini masih dalam tahap pencarian calon pembeli serta pematangan konsep pengelolaan.
"Adapun pengembangan selanjutnya dari lapangan Selayar dan lapangan terdekat lainnya dengan Total Cadangan Gas yg telah ditemukan sebesar 10 TCF," kata Djoko.
Pembangunan fasilitas di Blok Andaman dirancang menggunakan skema hibrida yang menggabungkan infrastruktur lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore). Proses pemisahan kandungan gas, kondensat, serta unsur pengotor dilakukan menggunakan kapal FPSO di laut sebelum gas bersih dikirim ke darat melalui pipa bawah laut sepanjang 80 kilometer (km).
"Gas dari sumur-sumur offshore di Andaman tidak dapat langsung dibawa ke darat krn mengandung Co2 yang cukup tinggi dan juga H2S, yg sangat korosif, bisa membuat pipa cepat berkarat bocor dan rapuh sehingga co2 dan h2s nya harus dipisahkan terlebih dahulu," paparnya.
Sedangkan, fasilitas produksi di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) rencananya akan dibangun di kawasan KEK Arun, Lhokseumawe, dan telah mendapatkan izin persetujuan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Blok Andaman saat ini dioperasikan oleh Mubadala Energy dengan kepemilikan hak partisipasi sebesar 80% dan Harbour Oil 20% menggunakan skema kontrak gross split.
(pgr/pgr) Add
source on Google