Rupiah Gonjang-ganjing Bikin Investor Asing Pikir Panjang Masuk RI

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 13:10 WIB
Foto: Ilustrasi Lahan Industri. (Dok Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus bergejolak belakangan ini dinilai tidak serta-merta menjadi angin segar bagi investasi asing di sektor industri. Alih-alih memborong lahan karena harganya menjadi lebih murah dalam valuta asing, investor luar negeri justru cenderung mengambil sikap bertahan atau wait and see.

CEO Leeds Property Hendra Hartono mengungkapkan, ketidakstabilan rupiah justru merusak kalkulasi jangka panjang para investor, khususnya terkait tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI).

"Kalau rupiah lagi gonjang-ganjing begini, investor asing tidak bakal langsung masuk. Walaupun mereka melihat rupiah murah, mereka justru sedang menghitung how low can it go? Kalau beli sekarang, nanti kalau rupiah terus melemah mereka makin rugi. Apalagi kalau disewakan kembali, ROI-nya jadi tidak ketemu saat dikonversi ke dolar," ujar Hendra kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/7/2026).


Adapun industri merupakan sektor paling akhir yang disentuh oleh investor asing saat masuk ke suatu negara. Biasanya, mereka melewati siklus adaptasi yang panjang sebelum berani menyuntikkan modal besar untuk pabrik atau lahan.

"Investor asing itu tidak datang langsung cari pabrik. Mereka lewat siklus dulu; tinggal di hotel, bicara dengan corporate lawyer atau pengusaha lokal untuk joint venture. Lalu mereka sewa service apartment, pindah ke service office untuk tim kecil, baru cari kantor besar. Terakhir, kalau sudah yakin dengan stabilitas politik dan ekonomi di Indonesia, baru mereka investasi di pabrik," jelasnya.

Oleh karena itu, industri menjadi sektor yang paling rentan terkena dampak psikologis dari ketidakpastian makroekonomi saat ini. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan investor akan menghindari komitmen jangka panjang.

"Sektor industri ini paling rentan di antara semuanya untuk pelemahan rupiah ini. Kalau rupiah terus melemah, orang tidak akan melihat jangka panjang. Akhirnya semua orang bilang 'saya sewa saja pabrik'. Nah, itu yang kita tidak mau. Kita maunya mereka beli lahan, bukan cuma sewa-sewa terus besok-besok bisa exit," tegas Hendra.

Meski pasar industri secara umum tertahan, masih ada pergerakan pada subsektor gudang logistik dan pabrik siap pakai atau ready-built factory.
Menariknya, aktivitas ini didominasi oleh korporasi asal Tiongkok.

Hal ini terjadi karena kondisi ekonomi domestik di negara asal mereka sedang melambat, sehingga mereka agresif mencari peluang di negara berkembang atau emerging market seperti Indonesia yang masih menawarkan margin keuntungan dua digit.

"Saat ini fokusnya tinggal ke perusahaan China. Di sana ekonominya sedang melambat, sementara di Indonesia margin yang mereka bisa dapat masih bagus. Namun karena mereka maunya serba cepat dan cenderung ingin meminimalkan risiko jangka panjang, mereka larinya ke pengembang gudang atau pabrik yang sudah siap pakai," ujar Hendra.

Sebagai catatan, mata uang Garuda kembali dibuka di zona merah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini. Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah mengawali perdagangan dengan terdepresiasi 0,33% atau melemah ke level Rp18.050/US$. Dengan pembukaan tersebut, rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000/US$.

Posisi ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan terakhir, rupiah melemah 0,11% ke level Rp17.990/US$.
 


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar Tembus Rp 17.600, Prabowo Sebut Ekonomi RI Tetap Aman