Amran Punya Jurus Baru Bikin Pendapatan Petani Tembus Rp 16 Juta/Bulan

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 11:12 WIB
Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mendorong percepatan modernisasi pertanian lewat sistem intensifikasi. Salah satu yang kini didorong pemerintah adalah penerapan metode tanam baru yang disebut PM AAS (Pertanian Modern-Advanced Agriculture System), yang diklaim mampu mendongkrak produksi sekaligus menaikkan pendapatan petani.

Amran mengatakan, upaya percepatan ini telah dibahas bersama jajaran dinas pertanian hingga penyuluh di seluruh Indonesia. Fokusnya bukan hanya mengejar produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lewat transformasi pertanian modern.

"Hari ini kami kumpulkan Kepala Dinas, kemudian Direktur Wilayah PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah kita melakukan akselerasi dengan intensifikasi," kata Amran saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026).


Menurut dia, sistem intensifikasi akan dipercepat melalui pertanian modern yang diarahkan langsung untuk memperbaiki taraf hidup petani. .

"Sistem intensifikasi kita akselerasi, yaitu pertanian modern sekarang, kemudian kesejahteraan petani. Petani sejahtera. Jadi pertanian modern bertransformasi, pertanian modern menjadikan petani sejahtera," ujarnya.

Salah satu contoh yang disorot Amran adalah metode PM AAS. Ia menyebut metode tersebut sudah diuji coba di lahan seluas 1.600 hektare selama dua tahun. Hasilnya, produktivitas padi disebut bisa menembus 10 ton per hektare, bahkan di beberapa lokasi mencapai 12 ton per hektare. Sementara hasil minimalnya berada di kisaran 9 ton per hektare.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Contoh sederhana sekarang ada metode baru, metode PM AAS. Ini sudah 1.600 hektare kita uji coba. Itu produksinya 10 ton bahkan ada 12 ton. Minimal 9 ton. Nah, kita mencoba daerah-daerah irigasi kita tanami metode ini. Katakanlah sekarang rata-rata nasional kan 5,5 ton (per hektare). Kalau 11 ton kan berarti dua kali lipat," tutur dia.

Ia lalu menggambarkan dampaknya bila metode ini diterapkan secara luas. Misalnya, bila produktivitas naik 3 ton per hektare dan diterapkan di lahan 1 juta hektare, maka tambahan produksi bisa mencapai 3 juta ton. Jika lahan irigasi itu ditanami tiga kali dalam setahun, maka tambahan produksi bisa naik menjadi 9 juta ton gabah.

"Katakanlah naik 3 ton saja, kalau 1 juta hektare kita tanami berarti 3 juta ton. Kalau ditanam 3 kali 1 tahun khusus daerah irigasi berarti 9 juta ton. 9 juta ton itu katakanlah rendemen 55 persen itu berarti 5 juta ton peningkatan. Ini kita kejar," ujarnya.

Tak hanya produksi, Amran juga mengklaim metode ini bisa mengerek pendapatan petani secara signifikan. Ia menyebut, jika metode tersebut berjalan optimal di daerah irigasi dengan tiga kali masa tanam per tahun dan produksi menyentuh 10 ton per hektare, maka pendapatan petani bisa melonjak berlipat.

"Kalau ini bisa optimal untuk daerah irigasi, tiga kali tanam, produksi 10 ton, pendapatan petani per bulan, satu keluarga yang dulunya itu Rp5 juta, meningkat menjadi Rp16,3 juta per orang. Ya katakanlah Rp15 juta per orang. Itu meningkat tiga kali lipat," kata Amran.

Ia menegaskan, arah kebijakan pertanian modern saat ini memang ditujukan untuk mengejar kesejahteraan petani. Menurut dia, jika petani sejahtera, maka dorongan untuk terus menanam juga akan semakin kuat dan pada akhirnya ikut mengerek produksi pangan nasional.

"Nah, sekarang kita kejar pendekatannya adalah kesejahteraan. Transformasi pertanian modern besar-besaran, itu dengan memperhatikan kesejahteraan petani," ucap dia.

Lebih lanjut, Amran menyebut PM AAS bukan varietas benih baru, melainkan metode tanam yang merupakan gabungan antara metode dari Arkansas (Amerika Serikat) dan sistem Jajar Legowo. Lewat metode ini, populasi tanaman per hektare ditingkatkan jauh lebih tinggi dibanding pola tanam biasa.

"Nggak, cuma metodenya. Metode gabungan antara Arkansas dengan metode Jajar Legowo. Nah ini prinsip kerjanya adalah penggabungan. Jadilah metode AAS," jelasnya.

Ia menjelaskan, metode ini memanfaatkan ruang tanam yang tetap memberi ruang cahaya seperti pola Jajar Legowo, tetapi dengan populasi tanaman yang jauh lebih padat. Jika sebelumnya populasi tanaman berkisar 300 ribu-360 ribu batang per hektare, maka lewat metode ini jumlahnya bisa ditingkatkan hingga sekitar 1 juta batang.

Dengan kepadatan tanaman yang lebih tinggi, biaya produksi memang naik. Namun, Amran menyebut kenaikannya relatif kecil dibanding lonjakan pendapatan yang dihasilkan.

"Biayanya naik. Dulu biayanya Rp13 juta, naik menjadi Rp15 juta. Tapi dulu pendapatannya Rp20 juta, ini menjadi Rp65 juta. Dulu untungnya Rp5 juta, sekarang bisa Rp16 juta. Nah itu urutan-urutannya," kata Amran.

Selain menaikkan populasi tanaman, metode ini juga disebut bisa menghemat tenaga kerja karena proses tanam tidak lagi melalui tahapan semai, cabut, lalu pindah tanam. Pola yang dipakai adalah direct seeding atau tanam benih langsung.

"Kemudian ada lagi, menghemat tenaga kerja yang dulunya kan semai dulu, cabut baru tanam kembali. Sekarang langsung direct seeding," pungkasnya.


(wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Mentan: PT DSI Bikin Transparan Ekspor Sawit-Penerimaan Naik