Dulu Booming Kini Muncul Fenomena Aneh di Surga Batu Akik Jakarta
Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir satu dekade lalu Indonesia mengalami demam batu akik. Namun, seiring dengan berjalannya wakktu, popularitas batu akik terus memudar.
Salah satu pusat perdagangan batu akik, Jakarta Gems Center (JGC) atau Pasar Batu Akik Rawa Bening di Jatinegara tampak terlihat jauh lebih sepi ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Rupanya, sepinya pasar tersebut dikarenakan peminat dari batu akik mulai menurun. Meski pengunjung masih lalu-lalang memenuhi lorong pasar, hanya segelintir yang benar-benar melakukan transaksi. Kondisi itu membuat omzet pedagang terus tergerus.
Pedagang batu akik, Arif menyatakan, tren penurunan daya beli batu akik semakin terasa setelah pandemi Covid-19. Akan tetapi, kondisi tersebut semakin berat karena saat ini pedagang membutuhkan waktu satu atau dua bulan untuk menjual satu buah batu akik.
"Sekarang satu bulan belum tentu laku satu. Kadang dua bulan juga belum ada yang beli," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (8/9/2026).
Dirinya bilang, penurunan pembeli batu akik ini disebabkan oleh lesunya ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Alhasil, batu akik yang tergolong barang hobi menjadi salah satu pengeluaran yang lebih dahulu dikurangi di tengah ketidakpastian ekonomi sekarang.
Tak hanya pembeli yang menyusut, pola transaksi pun berubah. Arif mengungkapkan, saat ini justru lebih banyak orang yang datang menawarkan koleksi batu akik untuk dijual dibandingkan membeli produk yang sama di pasar. Dalam sebulan, ia bisa menerima 10 hingga 15 orang yang ingin melepas batu miliknya, sementara pembeli yang benar-benar membeli hanya satu atau dua orang.
Sejumlah jenis batu akik yang dijual di Pasar Rawa Bening, Jakarta. (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: Sejumlah jenis batu akik yang dijual di Pasar Rawa Bening, Jakarta. (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) |
Bahkan, ia juga menilai kebijakan efisiensi anggaran pemerintah ikut memengaruhi penjualan. Selama ini, sebagian pembeli berasal dari kalangan pegawai pemerintah maupun tamu daerah yang datang ke Jakarta dan membeli batu akik sebagai koleksi atau buah tangan. Kini, jumlah pembeli dari segmen tersebut disebut sudah jauh berkurang.
Pedagang batu akik bernama Jeje pun mengamini apa yang diutarakan oleh Arif. Dia bilang, penjualan batu akik di Pasar Rawa Bening turun drastis sejak pandemi Covid-19. Saking parahnya, satu buah cincin batu akik belum tentu dapat terjual dalam waktu satu atau dua bulan.
"Kalau masih bisa bilang omzet per hari, itu sudah bagus sekali menurut saya," ujar dia.
Di sisi lain, pedagang senior Sandi Shadewo mengaku, di masa jayanya, para pedagang batu akik bisa mengumpulkan omzet Rp 10 juta dalam satu hari. Akan tetapi, saat ini para pedagang hanya mampu mengantongi omzet sekitar Rp 1 juta per hari.
Untuk bertahan, sebagian pedagang mulai beralih menawarkan batu akik melalui media sosial dan platform e-commerce. Contohnya adalah Adi, seorang pedagang batu akik, yang mengandalkan TikTok untuk menjangkau calon pembeli dari mancanegera seperti Malaysia dan Brazil. Namun, persaingan di pasar online jauh lebih ketat lantaran pedagang harus menawarkan harga yang lebih murah agar produknya dilirik.
Pada akhirnya, di tengah lesunya pasar, para pedagang masih berharap batu akik kembali mendapat perhatian masyarakat. Para pedagang optimistis kekayaan batu mulia dari daerah seperti Garut, Bacan, Aceh, Sukabumi hingga Kalimantan masih memiliki nilai tinggi. Sayangnya, jika daya beli dan minat masyarakat terhadap batu akik tak kunjung pulih, maka masa kejayaan produk tersebut bakal sulit terulang kembali.
(wur/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
