MARKET DATA
Laporan dari Papua

Cerita Eks Transmigran Mengais Rejeki di Merauke, Temukan Hal Berharga

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
08 July 2026 12:30
Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026).  (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah laju modernisasi dan kehidupan kota yang makin individualis, budaya gotong royong ternyata masih hidup di ujung timur Indonesia. Di Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, semangat saling membantu itu masih menjadi bagian dari keseharian warga, terutama di kalangan petani yang mayoritas merupakan perantau dari Pulau Jawa.

Bagi Abdul Rokhim, petani yang kini menetap di Merauke, gotong royong bukan sekadar tradisi lama yang dipertahankan, melainkan cara hidup yang membuat warga tetap terhubung satu sama lain di tanah rantau. Di kawasan eks transmigrasi seperti Kurik, para pendatang datang dari latar belakang berbeda, namun dipertemukan oleh nasib yang sama: sama-sama merantau, sama-sama menggarap sawah, dan sama-sama membangun hidup baru di Papua.

"Kalau di sini masih kental gotong royong. Karena di sini kan eks-transmigrasi, ini kan mayoritas pendatang. Jadi, biasa kan kalau sama-sama merantau di satu tempat itu kayak bersaudara, masih kental lah gitu kalau di sini," kata Abdul Rokhim saat ditemui CNBC Indonesia di sawahnya yang berlokasi di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan.

Abdul bercerita, kawasan pertanian di Papua Selatan, khususnya Merauke, memang banyak dihuni pendatang. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat. Kehidupan sebagai sesama perantau inilah yang kemudian menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat.

Di tengah hamparan sawah Merauke, gotong royong hidup dalam bentuk yang sangat nyata. Saat musim tanam tiba, para petani saling membantu mengerjakan lahan satu sama lain agar pekerjaan cepat selesai. Sistemnya sederhana: hari ini membantu sawah milik tetangga, besok gantian dibantu di lahan sendiri.

Menurut dia, cara itu membuat pekerjaan tanam bisa lebih cepat selesai.

"Musim tanam, itu masing-masing kita saling bantu, biar cepat, biar setengah hari selesai gitu, nanti bisa berikutnya tempat yang lain saling dibantu lagi," ujarnya.

Bagi Abdul, pola kerja seperti itu bukan hal baru. Di kampungnya kini, gotong royong sudah menjadi semacam kesepakatan sosial yang berjalan alami. Petani tak harus selalu mengandalkan buruh harian atau mengeluarkan ongkos besar untuk menyelesaikan pekerjaan di sawah. Mereka cukup saling bantu, lalu bergantian.

Di tengah ongkos produksi pertanian yang terus menjadi tantangan, gotong royong juga punya nilai ekonomi yang besar. Abdul mengaku, budaya saling membantu membuat petani bisa menekan pengeluaran, terutama saat tidak punya cukup uang untuk membayar tenaga kerja.

"Yang jelas gotong royong kan penting menurut saya, untuk menambah persaudaraan, menambah silaturahmi, untuk meringankan beban pekerjaan kita. Terutama dari finansial kan gitu. Jadi umpamanya saya mau olah lahan, umpamanya tidak punya uang gitu, suruh teman atau tetangga atau saudara bantu, sudah kita bantu-bantu saya gantian gitu saja kan, kita nggak keluarkan uang, cuma tenaga saja kan. Salah satunya begitu, gotong royong membantu dari sisi finansial," tutur dia.

Bukan hanya mengurangi beban biaya, gotong royong juga membuat pekerjaan di sawah lebih cepat selesai. Di musim tanam, kecepatan sering kali jadi penentu, apalagi ketika petani harus berpacu dengan musim dan kondisi air.

"Gotong royong membantu dalam hal kecepatan juga bisa," kata Abdul.

Budaya saling membantu itu rupanya tak berhenti di sawah. Di lingkungan pemukiman warga, gotong royong juga masih terlihat saat ada tetangga yang membangun rumah. Warga akan datang membantu, terutama ketika harus mengangkat kayu dan memasang rangka atap rumah, pekerjaan yang sulit diselesaikan jika hanya seorang diri.

"Kalau dari lingkungan perumahan itu memang kental sekali (gotong royong), macam kita mendirikan rumah. Itu masih ada," ujarnya, Jumat (3/7/2026).

Ia lalu bercerita bagaimana warga biasa berkumpul untuk membantu proses pembangunan rumah tetangga.

"Masih ada gotong royong. Jadi mendirikan rumah, terutama mendirikan rangka atapnya itu ya, kuda-kuda fondasi atap rumah. Biasa itu tetangga-tetangga diberitahu, jadi gotong royong kasih naik kayu gitu, sama-sama gitu. Jadi kalau kita mengharapkan tukang kalau cuma tukang 2-3 orang kan nggak mampu bayarnya," jelas dia.

Cerita Abdul memperlihatkan gotong royong di Merauke bukan sekadar romantisme desa, melainkan fondasi yang menjaga kehidupan sosial warga tetap berjalan. Di kawasan eks transmigrasi, hubungan antarwarga tak hanya dibangun oleh kedekatan tempat tinggal, tetapi juga oleh kesamaan nasib sebagai perantau yang harus saling menopang.

Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026).  (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Petani di Desa Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sulap Merauke Jadi Lumbung Padi, Ribuan Hektare Lahan Dijadikan Sawah


Most Popular
Features