Bahlil: Ekspor Listrik ke Singapura Harus Saling Menguntungkan
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana ekspor listrik dari Indonesia ke Singapura harus memberikan manfaat yang adil bagi kedua belah pihak.
Bahlil menjelaskan, saat ini proses negosiasi mengenai jual-beli listrik tersebut masih terus berjalan. Dia menyebutkan bahwa pemerintah memegang kendali terhadap penentuan harga dan perizinan dalam setiap kesepakatan yang akan diambil nantinya.
"Gini, ekspor listrik itu MOU-nya sudah saya tandatangan tiga tahun lalu, eh satu tahun lalu. Namun, itu prosesnya masih berjalan, negosiasinya masih berjalan. Untuk regulasi, untuk harga, dan berbagai perizinan itu domain pemerintah. Dan itu adalah urusannya dengan Kementerian ESDM," jelasnya saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Pemerintah juga membuka skema yang dilakukan dalam transaksi listrik tersebut secara business-to-business (B2B). Nantinya, Badan Pengelola Investasi Danantara maupun pihak swasta dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan asal Singapura asalkan tetap mengedepankan aspek keekonomian yang kompetitif bagi Indonesia.
"Namun pada implementasinya, itu kan B to B. Bisa BUMN Danantara dengan BUMN-nya Singapura, ataupun opsi lain swasta dengan swasta. Yang penting memenuhi syarat dalam aturan dan saling menguntungkan. Itu paling penting, ya," kata Bahlil.
Hingga saat ini, pihaknya belum menerbitkan aturan teknis mengenai mekanisme jual beli secara detail karena belum adanya titik temu mengenai nilai komersial. Kementerian ESDM masih melakukan pendalaman untuk mendapatkan kesepakatan harga yang dinilai menguntungkan sebelum meresmikan tata cara perdagangannya.
"Harganya belum, harganya belum deal. Belum win-win. Justru saya kan bilang, harganya belum ada titik temu, makanya belum ada kesepakatan di harga. Kalau sudah ada harganya baru saya buat aturannya, ya," tandasnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P Roeslani menyatakan bahwa Danantara yang akan bertindak sebagai pelaku ekspor tersebut bekerjasama dengan perusahaan asal Singapura yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries dan Singapore Energy Interconnections.
"Kita sebagai perusahaan dari Indonesianya yang akan (mengembangkan listrik). Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker-nya ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN," terang Rosan ditemui di Istana Negara, Senin (6/7/2026).
Rosan menjabarkan, pembangkit listriknya salah satunya akan dibangun di wilayah Batam, Bintan dan Karimun (BBK) dengan total 3,4 Giga Watt (GW) selama beberapa tahub.
"Tapi pembangunan pertama antara 600 Mega Watt sampai 1,2 Giga Watt. Ini tapi sifatnya renewable ya," ungkap Rosan.
(pgr/pgr) Add
source on Google