Internasional

AS Kehabisan Rudal! Eropa Takut Pasokan Senjata NATO Macet Total

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 22:00 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump meninggalkan konferensi pers pada KTT NATO di Den Haag, Belanda, 25 Juni 2025. (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara Eropa kini dilanda kecemasan luar biasa setelah basis industri pertahanan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tidak lagi mampu memasok senjata yang telah dijanjikan kepada sekutu NATO. Krisis pasokan ini terjadi akibat menipisnya timbunan persenjataan Pentagon yang terkuras habis untuk mendanai konflik di Ukraina serta perang dengan Iran.

Mengutip laporan The Guardian, Selasa (7/7/2026), Washington sepanjang tahun ini telah menunda hingga membatalkan pengiriman serangkaian paket persenjataan utama ke Eropa. Alokasi yang tersendat tersebut mencakup rudal penjelajah Tomahawk, artileri roket bergerak Himars, serta rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3).

AS sendiri diperkirakan telah menghabiskan sekitar 50% dari total 2.330 stok rudal Patriot mereka hingga April tahun ini demi menghadapi perang dengan Iran. Padahal, rudal-rudal interseptor tersebut merupakan pilar krusial untuk menangkal ancaman serangan udara Rusia sekiranya konflik bersenjata meluas ke wilayah Eropa.


Kondisi kritis ini kian nyata setelah bombardir rudal Rusia menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai puluhan warga di Ukraina pada hari Senin (6/7/2026) kemarin. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan bahwa militernya gagal mengadang sekitar 23 rudal balistik Moskow yang ditembakkan bersamaan dengan rentetan drone.

"Alasan dari hal ini justru karena pasokan rudal pencegat yang tidak mencukupi," tulis Zelensky melalui pernyataan resminya.

"Sangat penting bagi dunia, terutama Amerika dan mitra Eropa kami, untuk keluar dari KTT NATO di Ankara dengan keputusan-keputusan kuat demi mendukung pertahanan langit kami, dan dengan demikian, melindungi nyawa orang-orang biasa," lanjut Zelensky menegaskan.

Kelangkaan ini memicu kemarahan terpendam di berbagai ibu kota Eropa yang selama ini terpaksa menahan diri demi mencegah keretakan hubungan transatlantik dengan pemerintahan Donald Trump. Terlebih lagi, AS menuntut anggota NATO menaikkan anggaran pertahanan hingga 5% untuk dialokasikan kembali guna membeli senjata buatan Amerika.

Seorang diplomat Eropa mengungkapkan ada lima hingga enam masalah sekaligus yang memperparah situasi ini, mulai dari penipisannya stok akibat perang Iran dan Ukraina, hingga kebijakan AS memindahkan sumber daya militer ke Asia. Eropa sadar posisi mereka bukan lagi prioritas utama bagi Washington karena pasokan baru lebih didahului untuk sekutu seperti Israel.

"Kami tahu bahwa kami bukanlah pelanggan nomor satu," keluh diplomat Eropa tersebut secara anonim.

Mantan penasihat keamanan nasional AS, Phil Gordon, menambahkan bahwa kelangkaan ini murni terjadi karena keterbatasan fisik komoditas senjata, bukan karena faktor pilih kasih. Sebagai contoh, rencana pengiriman rudal Tomahawk ke Jerman terpaksa batal karena ribuan rudal tersebut sudah dilesatkan dalam perang melawan Iran.

"AS menembakkan 1.000 Tomahawk di Iran, jadi ini bukannya mereka tidak memprioritaskan Jerman, melainkan rudal itu memang tidak ada," jelas Gordon.

"Kesimpulan nyata dari hal ini adalah bahwa orang-orang Eropa harus menjadi lebih mandiri dan mengandalkan satu sama lain," pungkas Gordon.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Prabowo - Modi Sepakat Resmikan 16 Kerja Sama Strategis RI-India