Seluk-Beluk Suntikan Likuiditas Purbaya, Ini Kondisi Terbaru Bank RI

Zefanya Aprilia & Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Senin, 06/07/2026 14:00 WIB
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri penandatangan komitmen hibah lahan PT Lippo Cikarang kepada negara untuk mendukung program 3 Juta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang berlangsung di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Dok. Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menyuntikkan dana Rp 400 triliun ke perbankan Tanah Air pada awal semester II-2026. Suntikan dana ini dimaksudkan untuk memperkuat likuiditas perbankan.

Sebelumnya, penyuntikkan likuiditas sebesar Rp 400 triliun ini ditetapkan setelah, Purbaya mengadakan rapat dengan bos-bos Himbara pada akhir Juni (26/7/2026).


Purbaya mengatakan, pemerintah kembali memutuskan untuk kembali menempatkan dana yang selama ini menganggur di Bank Indonesia (BI) ke Bank Himbara, seperti Mandiri, BRI, BNI, BTN, hingga BSI.

Dia mengakui, dari total tahun lalu yang sudah ditempatkan ke Himbara sekitar Rp 300 triliun, telah ditarik kembali beberapa bulan terakhir hingga yang tersisa Rp 170 triliun di perbankan pada bulan Juni lalu.

Melihat kondisi perbankan, pemerintah memasukkan kembali penempatan dana beberapa bulan terakhir hingga totalnya kembali Rp 200 triliun, sebelumnya akhirnya memberikan tambahan Rp 100 triliun sebanyak dua kali hingga akhir tahun hingga totalnya akan ada Rp 400 triliun dana penempatan pemerintah di Himbara.

"Kan Rp 170 triliun sudah dikembalikan lagi ke Rp 200 triliun. Lalu tambah lagi Rp 100 triliun sampai akhir tahun fix, dan yang fleksibel yang kita bisa keluar masuk Rp 70 triliun sampai dengan Rp 100 triliun," papar Purbaya.

Menurut Purbaya, dengan total penempatan dana Rp 400 triliun, bank-bank Himbara mengaku sudah tenang terkait dengan ketahanan likuiditas.

"Ya sudah saya bilang kamu besok libur saja semua. Sabtu bisa libur lagi, artinya kondisinya lebih bagus daripada yang mereka perkirakan sebelumnya," ucap Purbaya.

Ruang Nafas Perbankan

Purbaya percaya diri pertumbuhan kredit perbankan bisa tumbuh di kisaran 14-15% pada tahun ini, setelah pemerintah menjaga kecukupan likuditas bank.

Dia mengatakan, untuk menjaga kecukupan likuiditas hingga akhir tahun nanti, pemerintah akan kembali menempatkan dana menganggur yang selama ini hanya bersemayam di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara alias Himbara, dengan total Rp 400 triliun.

Purbaya menuturkan percaya diri pertumbuhan kredit perbankan bisa tumbuh di kisaran 14-15% pada tahun ini, setelah pemerintah menjaga kecukupan likuditas bank.

Ia mengatakan, untuk menjaga kecukupan likuiditas hingga akhir tahun nanti, pemerintah akan kembali menempatkan dana menganggur yang selama ini hanya bersemayam di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara alias Himbara, dengan total Rp 400 triliun.

Dengan likuiditas yang lebih memadai itu, sektor perbankan ia anggap memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit kepada dunia usaha.

"Jadi akan cukup likuiditas di sektor perbankan kita. Jadi harusnya bunga di pasar akan turun. Ekonomi siap lari lagi," ujar Menkeu dikutip Senin (29/6/2026).

Purbaya menekankan, nilai dana yang akan diguyur ke sistem perbankan itu merupakan arahan Presiden agar berbagai hambatan terhadap pertumbuhan ekonomi dapat segera diatasi, termasuk soal masalah keringnya likuiditas.

Penambahan likuiditas ia anggap akan memperkuat kepercayaan pelaku usaha, meningkatkan investasi, sekaligus mendukung penguatan ekonomi nasional.

"Pak Presiden ingin ekonominya tetap jalan, semua gangguan dihilangkan. Kalau kita balikan perspektif ekonomi, ekonomi akan lari lagi. Orang cenderung investasi di negara yang ekonominya akan lari," jelasnya.

Purbaya menilai penguatan likuiditas akan mendorong mekanisme pasar kembali bekerja secara optimal sehingga fungsi intermediasi perbankan dapat berjalan lebih efektif. "Jadi saya memaksa market mechanism berjalan," ujar Menkeu.

Berdasarkan komunikasi dengan perbankan, Purbaya mengklaim tambahan likuiditas tersebut akan memberikan ruang mereka untuk kembali menjalankan rencana ekspansi kredit yang sebelumnya sempat tertahan.

"Mereka bilang kalau nggak dibantu, kredit akan tumbuh turun pertumbuhannya ke 8%, 7%, 6%. Ketika kita balikin lagi, rencana kredit yang mereka selama ini tahan karena antisipasi kurangnya likuiditas akan dijalankan lagi. Pasti kreditnya tumbuh double digit, mungkin 13-14%," katanya.

Apabila kondisi likuiditas tetap terjaga sesuai desain pemerintah, Menkeu optimistis pertumbuhan kredit nasional dapat meningkat lebih tinggi hingga mencapai kisaran 14-15% pada tahun ini. Jauh lebih tinggi dari ramalan Bank Indonesia (BI) yang hanya di kisaran 8-12% sepanjang 2026.

"Kalau uangnya diatur cukup seperti yang kita desain, pertumbuhan kredit tahun ini tebakan saya bisa 14-15%," ujarnya.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan, kehadiran dana SAL memberikan dampak positif yang terukur pada struktur pendanaan, termasuk efisiensi biaya dana yang secara langsung memperluas ruang penyaluran kredit.

Adapun fokus Bank Mandiri ke depan tetap pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang solid, didukung penghimpunan dana murah yang berkelanjutan melalui penguatan ekosistem dan akselerasi digital. Strategi ini menjadi fondasi penting bagi struktur pendanaan Bank Mandiri yang kuat dan resilien.

Dari sisi penyaluran kredit, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan yang sejalan dengan laju industri hingga akhir tahun. Perseroan akan terus mengoptimalkan fungsi intermediasi secara selektif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang disiplin.

"Sebagai mitra strategis pemerintah dan penggerak ekonomi kerakyatan, penyaluran kredit Bank Mandiri difokuskan pada segmen UMKM yang memiliki peran besar dalam mendorong perekonomian nasional. Dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan menjaga kualitas aset secara disiplin, Bank Mandiri siap memberikan kontribusi positif dalam mendukung agenda prioritas pemerintah," pungkas Novita.

Bank Cari Dana

Di tengah ketatnya likuiditas, perbankan Indonesia ramai-ramai menerbitkan obligasi di tengah ketatnya persaingan likuiditas. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terdapat tujuh bank yang tahun ini menerbitkan obligasi.

Di antaranya, salah satu big banks RI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang pada bulan Maret lalu menerbitkan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BRI Tahap II tahun 2026. Obligasi itu terdiri dari tiga seri, dan total dana yang diincar sekitar Rp4,4 triliun.

Selanjutnya, bank pembangunan daerah (BPD) pentolan, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) alias BJB yang terbit pada April 2026 lalu. Yakni, Obligasi Keberlanjutan I Bank BJB Tahap II Tahun 2026 yang terdiri dari membidik total dana sekitar Rp1 triliun.

Pada bulan April 2026, PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) turut menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Bank Mandiri Taspen Tahap II Tahun 2026 Seri A dan Seri B. Total dana yang diincar sekitar Rp1,5 triliun.

Bank-bank swasta juga menerbitkan obligasi. PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) telah menerbitkan obligasi satu seri pada bulan Februari 2026, dan pada bulan Juni 2026. PT Bank UOB Indonesia telah menerbitkan obligasi satu seri pada Januari lalu, dan akan menerbitkan obligasi tiga seri pada bulan Juli ini.

Pada bulan Juli ini, PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) tengah bersiap menerbitkan obligas dua seri dan PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC) akan menerbitkan obligasi satu seri.

Menurut, Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan keadaan ini tidak terlepas dari persaingan likuiditas pasar yang ketat. Namun, hal ini tidak serta merta menunjukkan bahwa industri perbankan.

"Langkah ini lebih merupakan strategi pendanaan agar bank memperoleh sumber dana jangka menengah dan panjang yang lebih stabil di tengah pertumbuhan kredit yang tetap tinggi, biaya dana yang meningkat, dan persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang semakin intensif," kata Trioksa kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).

Dengan menerbitkan obligasi, kata dia, bank dapat menjaga struktur pendanaan tetap sehat, mengurangi ketergantungan pada deposito yang lebih mahal, serta mempertahankan kemampuan menyalurkan kredit tanpa menekan margin keuntungan.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Purbaya Sebut APBN Kuat Tanggung Subsidi Energi Saat Perang