Penjual Mebel Bekas Susah Payah Putar Otak, Nasib Cuma Laku 1-2 Unit

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Senin, 06/07/2026 11:30 WIB
Foto: Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa yang tidak kenal dengan pusat penjualan mebel bekas maupun baru di kawasan Jalan Dr. Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan. Di tempat tersebut, para pedagang menjajakan sejumlah perabotan kantor maupun rumah tangga mulai dari kursi, meja, brankas, hingga lemari arsip.

Harganya perabotan tersebut dijual dengan harga beragam, mulai dari Rp 200 ribu sampai dengan sekitar Rp 1 juta. Barang-barang yang dijual para pedagang mebel di kawasan Manggarai ini diklaim berasal dari dalam maupun luar negeri.

Biasanya, kursi-kursi kantor hingga meja kerja didapatkannya dari kantor yang sudah tidak beroperasi. Setelah itu, mereka pun melakukan rekondisi agar barangnya memiliki kualitas yang baik.


Dari pantauan CNBC Indonesia langsung di lokasi, Kamis (2/7/2026), pegawai aktif mengangkut dan merapikan barang-barang furnitur. Tak hanya itu, mereka juga merangkap sebagai informan bagi calon pembeli yang berkunjung ke toko.

Bahkan, beberapa dari mereka juga melakukan pengecekan kondisi barang dan melakukan perbaikan pada beberapa barang yang rusak. Alhasil, mayoritas pekerja mebel tersebut menjalani pekerjaannya dengan multitasking. Ternyata, kondisi ini berkaitan erat dengan penurunan penjualan furnitur beberapa waktu terakhir, sehingga sejumlah toko melakukan efisiensi operasional dan tenaga kerja.

Sebagai contoh, salah satu pedagang mebel bekas di Manggarai, Abdul mengaku omzet penjualannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi nasional yang membuat permintaan masyarakat lesu.

"Sekitar 50% ada kalau pedagang- pedagang furnitur. Kalau per hari kadang-kadang laku, kadang-kadang enggak, paling laku taruh lah bangsa 2 atau 1," ujar dia kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (6/7/2026).

Abdul menceritakan, dirinya menjual kursi kantoran dengan kualitas terbaik seharga Rp 750 ribu hingga Rp 1,25 juta. Sedangkan, untuk kursi kantoran biasa dibanderol seharga Rp 250-450 ribu per kursi.

Sementara itu, ia juga menjual kursi untuk digunakan cafe dan kampus seharga Rp 250 ribu per kursi. Akan tetapi, untuk kursi kampus hanya laku saat tahun ajaran baru saja. Selebihnya, jika tidak ada permintaan sama sekali Abdul hanya bisa melamun tanpa kegiatan.

Walaupun Abdul telah menyediakan berbagai jenis dan varian kursi maupun furnitur lainnya, tetap saja tren penjualannya cenderung stagnan. Pada akhirnya, karyawan toko pun dikurangi yang tadinya bisa mencapai enam, sekarang hanya sisa dua.

Untuk gajinya sendiri, kata dia, toko tersebut memberikan dua skema, yakni harian dan mingguan. Kalau untuk mingguan sekitar Rp 1,05 juta, dan harian bisa di kisaran Rp 150 ribu per orangnya.

"Kalau ginian kan nawarin-nawarin (langsung) enggak bisa, kadang-kadang larinya ke online (karena lebih murah dan bisa dapat baru)," jelasnya.

Meskipun ada persaingan ketat dengan toko online, Abdul tetap optimis minat masyarakat untuk membeli furnitur secara langsung tetap ada. Sebab, calon pembeli bisa melihat langsung dan ada garansi.

Beralih ke toko mebel berikutnya, penjual bernama Sandi mengaku aktif menjual berbagai produk furnitur bekas. Ia mendapatkan barang tersebut dari kantor-kantor yang sudah tidak beroperasi atau sudah tidak gunakan.

Sandi bilang, barang-barang yang didapatkannya langsung diperbaiki atau rekondisi agar bisa digunakan kembali secara normal. Bahkan, untuk kain-kainnya pun diganti baru semua.

Menariknya, Sandi langsung mengecek barang-barang tersebut secara pribadi. Hal ini membuatnya yakin memberikan garansi lebih lama dibandingkan toko lainnya. Adapun garansi yang Sandi berikan adalah tiga bulan sejak hari pembelian.

Terlepas dari itu, Sandi menyebut, produk furniturnya tetap sulit terjual. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan dari masyarakat.

"Tahun ini turun banget kalau dibandingkan sama tahun lalu. Ini paling murah kursinya Rp 200 ribu yang gak pakai tangan," kata Sandi.

Di samping itu, dia juga menyediakan jasa perbaikan di kisaran Rp 200 ribu dan bisa lebih tergantung kondisi kerusakan dari furnitur. Saat ini, Sandi mengelola toko furniturnya berdua ditemani oleh satu orang rekannya.

Sementara Angga, penjual furnitur bekas di lokasi sama mengaku penjualan memang tak menentu, tapi dia masih berupaya menyediakan barang terbaik di tempatnya. Harga kursi paling murah di tempat Angag dibanderol sekitar Rp 200 ribu, dan bisa seragam mereknya. Jadi, jika ada kantor yang ingin membeli furnitur di tempatnya bisa disesuaikan.

"Barang luar (impor) itu bergantung dapatnya emang beda sih (kualitas) barangnya," jelas dia.

Seperti toko furnitur di sekitarnya, Angga bekerja hanya ditemani oleh satu orang saja, yaitu atasannya sendiri alias pemilik toko.

Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist) Foto: Suasana mebel bekas di kawasan Jl Dr Sahardjo, Manggarai, Jakarta Selatan pada Kamis (2/7/2026). (Dok Ist)


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tau Tau Defisit, Ada Apa Dengan Neraca Dagang Indonesia?