Harapan Besar dari Sawah Merauke: Metode Tanam Baru Pacu Produktivitas
Merauke, CNBC Indonesia - Ada yang berbeda dari metode tanam pertanian padi di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Jika biasanya mereka menanam dengan metode tanam hambur, kini sebagian petani di wilayah ini mulai meninggalkan metode tanam tersebut dan beralih ke cara tanam baru memakai , atau yang oleh petani setempat kerap disebut metode paralon.
Perubahan itu bukan sekadar soal alat. Bagi petani, metode baru tersebut mulai terlihat dampaknya di lapangan, seperti pertumbuhan tanaman yang dinilai lebih rapi, lebih sehat, dan berpotensi memberi hasil lebih tinggi dibanding pola tanam yang biasa mereka gunakan.
Abdul Rokhim, petani dari Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, mengatakan metode paralon mulai dipakai sebagai bagian dari program Kementerian Pertanian. Menurut dia, perbedaan dengan cara tanam sebelumnya sudah tampak bahkan sebelum panen tiba.
"Ini program dari Kementerian Pertanian, program baru, memakai drum seeder atau paralon. Jadi kelebihannya memang dari sisi perawatan lebih mudah, terus dilihat dari kerapiannya lebih rapi. Jadi yang jelas kalau dilihat dari sekarang saja, ini sudah kelihatannya produksi lebih tinggi lah. Kita lihat dari sisi pertumbuhannya gitu," kata Abdul Rokhim saat ditemui di lahannya di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026).
Ia menuturkan, tanaman yang ditanam dengan metode baru terlihat lebih sehat dibanding sebelumnya.
"Lebih sehat, terus anakannya lebih banyak," ujarnya.
Petani lain di wilayah yang sama, Angga Dwi Hardianto, juga melihat hasil serupa. Ia mengaku selama ini petani di daerahnya lebih lazim menggunakan tabela hambur atau tanam benih langsung dengan cara disebar. Namun setelah diperkenalkan dengan metode paralon, ia menilai pertumbuhan tanaman lebih menjanjikan.
"Hasil untuk sementara lebih bagus dari tabela, kita kan biasa di sini menggunakan tabela hambur. Ini ada program dari kementerian, kita disuruh pakai program paralon, tabela paralon ini. Sampai sekarang masih bagus, karena kita kemarin juga hemat tenaga, hemat waktu. Kemarin kita penyemprotan, kita pakai drone. Pemupukan juga kita memakai drone. Jadi, hemat tenaga lebih banyak," ujar Angga.
Metode paralon pada dasarnya tetap menggunakan prinsip tanam benih langsung. Bedanya, benih sebelumnya direndam terlebih dahulu, kemudian ditiriskan, dan dimasukkan ke alat berbentuk tabung dengan roda dan lubang-lubang kecil, lalu ditarik mengikuti petak sawah. Dari lubang itulah benih keluar dengan jarak yang lebih teratur.
Dengan cara itu, sebaran benih menjadi lebih rapi dan tanaman punya ruang tumbuh yang lebih baik.
"Lebih rapi, lebih rapat juga. Jadi ada legowonya, mungkin sirkulasinya lebih bagus. Sirkulasi udara, matahari lebih bagus. Jadi bisa juga untuk lebih mencegah jamur atau penyakit lainnya," katanya.
Optimisme petani di Merauke tak lepas dari target hasil yang dibidik. Angga menyebut produktivitas di wilayahnya selama ini rata-rata masih berada di kisaran 4,5 ton hingga 5,5 ton per hektare. Sementara dengan metode baru, potensi hasil disebut bisa menembus 10 ton per hektare.
Adapun soal target hasil, ia mengaku optimistis. "Optimis, iya," ujarnya ketika ditanya apakah metode baru itu berpotensi menghasilkan panen lebih baik.
Optimisme serupa juga datang dari Abdul Rokhim. Meski belum memasuki masa panen, ia menilai tanda-tanda peningkatan hasil sudah terlihat dari pertumbuhan tanaman di lapangan.
"Karena pertumbuhan kita tanam sekarang dengan yang Tabela Hambur kemarin berbeda. Kesuburannya beda, anakannya beda. Anakannya lebih banyak yang sekarang, Tabela Paralon ini," kata dia.
Program modernisasi tanam padi di Merauke ini merupakan bagian dari program yang tengah digarap Kementerian Pertanian, yakni Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS).
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry mengatakan ide tersebut mulai dikembangkan dua tahun lalu, setelah Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mempelajari peningkatan produktivitas padi di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Vietnam, dan China.
"Jadi sejarahnya PMAAS ini kita mulai 2 tahun yang lalu. Jadi ini hasil kunjungan ide murni dari Pak Menteri Pertanian. Jadi beliau mengunjungi beberapa negara, di Amerika, di Vietnam, di China. Beliau melihat peningkatan produktivitas padi di sana, dan beliau tertarik dalam metode tanam," kata Fadjry.
Menurut dia, metode tersebut telah diuji di beberapa daerah dan menunjukkan hasil yang dinilai menjanjikan.
"Dari mulai pertanian itu 20 hektare, ada yang 40 hektare, ternyata promising, kita dapat 10,4 ton per hektare. Nah, tahun kemarin kita coba 300 hektare di Sukamandi, ya 8-9 ton. Jadi pada musim gadu, potensinya di atas 10 ton, musim rendeng dia turun sedikit," ujarnya.
Fadjry menjelaskan, inti dari metode baru ini adalah penataan jarak tanam dan peningkatan populasi rumpun per hektare. Menurut dia, pola tanam yang lebih rapi membuat jumlah populasi tanaman bisa jauh lebih tinggi dibanding metode lama, sekaligus menekan kebutuhan benih.
"Makanya kita ajarin tanam yang lebih rapi, lebih rapi jarak tanamnya itu. Biaya tanamnya juga dari Rp3 juta bisa hanya jadi Rp500-600 ribu, sudah hemat," kata dia.
Ia menilai pendekatan ini bukan hanya soal alat, tetapi soal mengubah cara tanam agar produktivitas bisa terdongkrak.
"Nah, harapan kita kalau terpenuhi rumpunnya, terpenuhi kebutuhan haranya, bisa dobel produksinya. Dan itu sudah kita buktikan di dua musim tanam ini," ujar Fadjry.
Bagi petani di Merauke, perubahan itu kini sedang diuji di lapangan. Di tengah hamparan sawah pasang surut Papua Selatan, metode yang semula terdengar asing itu perlahan mulai dibaca sebagai harapan baru: panen yang lebih tinggi, kerja yang lebih ringan, dan biaya yang lebih hemat.
(luc/luc) Add
source on Google