MARKET DATA
CNBC Insight

Kerusuhan Pecah di Singapura, 18 Tewas Gegara "Rebutan" Gadis Cimahi

Thea Arbar & MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
04 July 2026 21:15
Ilustrasi resesi Singapura. AP/
Foto: Ilustrasi resesi Singapura. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura pernah dilanda salah satu kerusuhan paling berdarah dalam sejarah modernnya akibat sengketa hak asuh seorang gadis kelahiran Cimahi, Jawa Barat. Peristiwa yang terjadi pada Desember 1950 itu menewaskan sedikitnya 18 orang, melukai 173 orang, serta memicu kerusakan besar di berbagai penjuru kota.

Perselisihan bermula dari perebutan hak asuh Maria Hertogh, gadis keturunan Belanda yang lahir di Cimahi pada 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada Perang Dunia II, ayah Maria ditahan, sementara ibunya, Adelaine, menitipkan putrinya kepada seorang perempuan Melayu bernama Aminah karena tidak sanggup merawatnya seorang diri.

"Dia tumbuh besar sebagai Muslim, dipakaikan pakaian Melayu, diajarkan bahasa Melayu, dan diberi nama Muslim, yakni Naadra Maarof," demikian tertulis dalam buku The Tangled World: The Story of Maria Hertogh (2015).

Sejak diasuh Aminah, Maria dibesarkan dalam lingkungan Melayu-Muslim. Seusai perang berakhir pada 1945, Aminah membawa Maria ke Singapura tanpa sepengetahuan ibu kandungnya. Sementara itu, Adelaine kembali ke Belanda dan selama bertahun-tahun berupaya mencari keberadaan putrinya hingga akhirnya menemukan Maria berada di Singapura.

Adelaine kemudian meminta bantuan pemerintah kolonial Inggris untuk mendapatkan kembali hak asuh Maria. Ia bahkan menawarkan uang sebesar US$500 sebagai pengganti biaya pengasuhan. Namun, Aminah menolak menyerahkan Maria.

Di sisi lain, Maria yang telah berusia 13 tahun memilih tetap tinggal bersama keluarga Muslim Melayu dan bahkan telah menikah dengan seorang pria Melayu-Muslim.

Perselisihan tersebut berlanjut ke pengadilan hingga tingkat Pengadilan Tinggi Singapura. Pada 11 Desember 1950, hakim memutuskan Maria harus dikembalikan kepada ibu kandungnya di Belanda. Putusan itu memicu kemarahan sebagian komunitas Muslim Melayu yang menilai keputusan tersebut sekaligus memutuskan pernikahan Maria secara paksa.

Ketegangan semakin meningkat setelah media memuat foto Maria berada di lingkungan gereja bersama simbol-simbol Kristen. Di tengah menguatnya sentimen anti-kolonial, foto tersebut memicu anggapan bahwa Maria dipaksa meninggalkan agama Islam.

Harian Pikiran Rakyat edisi 12 Desember 1950 menulis, "Kerusuhan yang merupakan demonstrasi anti-Eropa secara besar-besaran itu telah timbul ketika lebih dari 3.000 orang Islam bangsa India, Pakistan, dan Malaya mengadakan suatu demonstrasi untuk menentang putusan hakim di Singapura terkait Bertha Hertogh."

Aksi protes kemudian berubah menjadi kerusuhan massal. Berdasarkan laporan harian Merdeka edisi 12 Desember 1950, ribuan massa merusak fasilitas umum, kantor pemerintahan, serta kendaraan milik warga Eropa. Polisi berusaha membubarkan massa dengan tembakan peringatan, memperketat pengamanan, dan mengerahkan kendaraan lapis baja, tetapi situasi justru semakin tidak terkendali.

Menurut Perpustakaan Nasional Singapura, kerusuhan tersebut mengakibatkan 72 mobil terbakar, 119 mobil lainnya mengalami kerusakan, serta menyebabkan kerusakan bangunan dengan nilai kerugian sekitar US$20.000. Selain itu, sedikitnya 18 orang tewas dan 173 lainnya mengalami luka-luka sebelum pemerintah memberlakukan jam malam dan mengerahkan aparat bersenjata untuk memulihkan keamanan.

Kasus Maria Hertogh hingga kini dikenang sebagai salah satu konflik sosial dan keagamaan paling berdarah dalam sejarah Singapura. Sengketa hak asuh seorang gadis kelahiran Cimahi itu berubah menjadi kerusuhan besar yang meninggalkan dampak mendalam bagi hubungan antar komunitas di negara tersebut.

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa kini.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Singapura Kembangkan Proyek Pembangkit Listrik 200 MW di Sulteng


Most Popular
Features