Hujan Rudal Rusia Hantam Ukraina! Mayat Bergelimpangan, Jet NATO Siaga
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak skala besar ke ibu kota Kyiv serta berbagai wilayah lain di Ukraina pada hari Kamis (2/07/2026). Serangan mendadak ini menyebabkan kebakaran hebat dan kehancuran pada bangunan tempat tinggal warga sipil di beberapa distrik.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengonfirmasi dampak mengerikan dari gempuran udara tersebut melalui saluran Telegram miliknya. Ia menyatakan sedikitnya 10 orang tewas dan 34 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan itu.
Adapun dalam data terbaru korban tewas telah mencapai 17 orang dan berpotensi terus bertambah.
"Kyiv sedang diserang oleh rudal balistik dan UAV," ungkap Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko, dikutip CNBC International.
Kementerian Pertahanan Rusia segera merilis pernyataan resmi mengenai operasi militer terbarunya ini. Moskow mengeklaim target serangan adalah fasilitas industri militer serta kompleks energi di Ukraina.
"Serangan masif menggunakan senjata presisi jarak jauh berbasis udara, darat, dan laut serta drone penyerang," sebut Kementerian Pertahanan Rusia.
Selain Kyiv, serangan udara tersebut juga menyasar pangkalan udara militer di wilayah Dnipropetrovsk, Poltava, Cherkasy, dan Chernihiv. Belum diketahui secara pasti jumlah total rudal yang ditembakkan maupun yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Ukraina.
Aksi militer masif ini langsung memicu alarm kewaspadaan tinggi di negara-negara tetangga Ukraina. Negara NATO, Polandia misalnya, merespons cepat dengan menerbangkan jet tempur dan menyiagakan radar pengintai mereka.
"Jet tempur telah mulai beroperasi, sementara sistem pertahanan udara berbasis darat dan pengintaian radar telah mencapai status kesiapan," tulis Komando Operasional Angkatan Bersenjata Polandia melalui platform X.
Sementara itu, pemerintah Finlandia sempat memberlakukan zona pembatasan penerbangan sementara di wilayah timur Teluk Finlandia. Duta Besar Ukraina untuk AS, Olga Stefanishyna, menambahkan bahwa seluruh warga terpaksa menghabiskan malam di dalam bungker perlindungan.
Serangan terjadi tak lama setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan warganya mengenai potensi serangan masif ini pada Rabu malam. Ia bahkan memilih untuk mempercepat perjalanannya di Irlandia demi segera pulang ke tanah air.
Zelensky menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memang telah merencanakan gempuran besar ini sejak lama. Ia menilai pemimpin Kremlin tersebut sama sekali tidak memiliki niat untuk berdamai.
"Kepala negara Rusia sepenuhnya menolak untuk mengakhiri perang," kecam Presiden Volodymyr Zelensky melalui media sosial.
Zelensky menegaskan bahwa Kyiv sebenarnya sudah mencoba membuka pintu diplomasi melalui berbagai jalur formal maupun informal. Namun, upaya damai tersebut selalu bertepuk sebelah tangan karena ambisi Rusia.
"Dan meskipun melalui semua saluran resmi dan tidak resmi yang mungkin - termasuk melalui orang-orang yang dekat dengannya - kami telah menyampaikan bahwa perang dapat dan harus diakhiri, dan bahwa kami di Ukraina siap untuk pertemuan dan negosiasi yang bermakna, dia hanya melihat agresi lebih lanjut terhadap Ukraina dan terhadap negara-negara tetangga lainnya dan Eropa secara keseluruhan," tambah Zelensky.
Sebelum serangan ini terjadi, Zelensky baru saja menyetujui operasi militer selama 40 hari untuk menekan Kremlin. Di sisi lain, Ukraina juga terus mengintensifkan serangan pesawat nirawak jarak jauh ke dalam wilayah Rusia.
Serangan drone Ukraina sukses menghantam kilang minyak dan fasilitas militer di kota-kota besar Rusia termasuk Moskow dan St. Petersburg. Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan strategi ini sengaja diambil untuk melumpuhkan sumber daya perang musuh.
(tps/sef/luc) Add
source on Google