Internasional

Jepang Bakar Duit Rp 1.300 T Demi Selamatkan Mata Uang Yen

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 02/07/2026 14:07 WIB
Foto: Mata uang Yen Jepang (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas keuangan Jepang dilaporkan telah menggelontorkan dana raksasa sebesar 11,7 triliun yen atau setara US$ 74 miliar (Rp 1.331,07 triliun) sepanjang bulan April dan Mei lalu untuk membeli mata uangnya sendiri. Intervensi pasar secara masif ini terpaksa dilakukan demi menahan kejatuhan nilai tukar yen, yang terus merosot hingga menyentuh level terendah baru dalam 40 tahun terakhir.

Mengutip laporan CNBC Internasional, mata uang Jepang tersebut kembali melemah drastis hingga menyentuh angka 162,83 per dolar AS pada hari Selasa. Jatuhnya nilai tukar ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar bahwa pemerintah Tokyo akan segera masuk kembali ke pasar valuta asing untuk melakukan intervensi darurat dalam waktu dekat.


Namun, para investor dan ahli strategi ekonomi memperingatkan bahwa langkah intervensi sepihak dari Tokyo tidak akan mampu membalikkan tren pelemahan yen. Hal ini disebabkan oleh melebarnya jarak tingkat suku bunga acuan antara Bank of Japan (BOJ) dan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), di mana The Fed diproyeksikan akan mempertahankan kebijakan moneter restriktif dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.

Langkah BOJ yang baru menaikkan suku bunga acuan ke level 1% dinilai masih terlalu rendah untuk dapat menyaingi imbal hasil dolar AS. Sehingga fenomena carry trade terus menekan mata uang yen ke luar dari pasar domestik.

"Intervensi dapat memperlambat kejatuhan, menghukum spekulasi yang berlebihan, dan memberi sinyal ketidaknyamanan resmi. Namun, intervensi tidak dapat membatalkan hitungan matematika," jelas pakar strategi investasi global di Franklin Templeton Institute, Christy Tan, dikutip Kamis (2/7/2026).

Restu AS Menjadi Kunci 

Para pengamat ekonomi menegaskan bahwa pelemahan yen saat ini murni dipicu oleh keperkasaan dolar AS secara global. Jadi, ini bukan karena hilangnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Jepang.

Indikator ini terlihat dari pergerakan kurs silang euro-yen yang cenderung jauh lebih stabil, di mana yen tercatat melemah hingga 3,9% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini namun hanya turun tipis 0,9% terhadap mata uang euro.

Oleh sebab itu, strategi intervensi yang dilakukan sendirian oleh Tokyo dinilai hanya akan memberikan efek penguatan yen yang bersifat sementara. Beberapa manajer portofolio obligasi menyarankan bahwa Tokyo harus mendapatkan dukungan dan koordinasi multilateral dari Washington agar intervensi mata uang asing tersebut dapat menghasilkan reaksi penguatan yen yang jauh lebih bertenaga dan permanen di pasar finansial global.

"Selama investor dapat meminjam dengan murah dalam yen dan menghasilkan lebih banyak dalam dolar, carry trade akan terus membawa yen menjauh," tambah Christy Tan.

"Tokyo menginginkan yen yang lebih kuat tanpa sepenuhnya menerima konsekuensi biaya kebijakan dari penguatan tersebut."

Dilema Kebijakan Sanae Takaichi

Di sisi lain, pelemahan mata uang yen ini nyatanya tidak sepenuhnya memberikan dampak buruk bagi korporasi kakap di Jepang. Depresiasi yen terbukti berhasil mendongkrak nilai pendapatan luar negeri serta menguntungkan para eksportir besar, yang tecermin dari kokohnya performa bursa saham Jepang serta hasil survei kuartalan Tankan BOJ yang menunjukkan tingkat optimisme tinggi dari para produsen manufaktur skala besar.

Kendati demikian, beban biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat luas kini dilaporkan terus membubung tinggi di lapangan. Melemahnya nilai tukar yen secara otomatis mengerek kenaikan harga barang-barang impor, menjepit anggaran belanja rumah tangga sipil, serta memicu lonjakan ekspektasi inflasi yang cukup berisiko.

Kondisi ini menciptakan dilema kebijakan makroekonomi yang sangat rumit bagi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi. Kabinet baru tersebut kini dipaksa bekerja ekstra keras untuk terus mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, sembari di saat yang sama harus menguras anggaran negara demi mengucurkan subsidi guna melindungi masyarakat dari lonjakan biaya energi dan pangan.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: 3 Negara Dilanda Gempa, Waspada Megathrust