Perang AS-Iran Makan Korban Baru, Singapura Menyerah
Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura akhirnya "menyerah". Warga akan membayar tarif listrik dan gas yang lebih tinggi, pada kuartal ketiga (Q3), dari Juli hingga September.
Pengumuman diberikan Otoritas Pasar Energi (EMA) Selasa (30/6/2026). Hal ini didorong perang Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan biaya produksi listrik dan gas di negeri kota itu.
Mengutip laman Channel News Asia (CNA), perusahaan utilitas energi milik negara Singapura SP Group mengatakan tarif listrik rumah tangga dari Juli hingga September akan menjadi 4,64 sen per kWh. Harga listrik akan menjadi 31,91 sen per kWh untuk Juli hingga September.
Dari data SP Group rata-rata tagihan listrik bulanan rumah tangga untuk flat dengan empat kamar milik Badan Perumahan dan Pembangunan (HDB) di Singapura saat ini sebesar S$100,74 (sekitar Rp1.389.205). Nilai ini diperkirakan akan meningkat menjadi S$117,88 (sekitar Rp 1.629.754) dari bulan Juli hingga September.
Kenaikan ini mungkin bukan yang pertama bagi warga Singapura. Pasalnya SP Group sempat menyatakan bahwa tarif listrik pada kuartal-kuartal berikutnya diperkirakan akan meningkat lebih lanjut karena dampak penuh dari kenaikan harga gas alam telah dimasukkan ke dalam perhitungan tarif.
EMA mengatakan situasi di Timur Tengah "tetap tidak pasti". Tetapi tambahnya, jika membaik, harga bahan bakar yang lebih rendah pada gilirannya dapat menyebabkan tarif listrik dan gas kota yang lebih rendah pada kuartal keempat tahun 2026.
Setel AC di Suhu 25 Derajat Celcius
Sementara itu, warga diminta memilih sejumlah opsi untuk menghemat biaya listrik. Salah satunya menyetel AC dengan suhu sedang, misalnya 25 derajat Celcius atau lebih tinggi.
Warga juga diminta mematikan lampu atau peralatan saat tidak lagi digunakan. Mereka diminta mulai memilih peralatan hemat energi.
"Hal ini tidak hanya membantu mengurangi tagihan listrik rumah tangga namun juga berkontribusi terhadap ketahanan energi Singapura," kata EMA.
Perlu diketahui, Singapura sangat bergantung pada energi impor. Di mana sekitar 95% listriknya dihasilkan dari gas alam impor.
source on Google [Gambas:Video CNBC]