Trump Klaim Selalu Menang & Dihormati, Faktanya "Digebuki" Sana-Sini
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengklaim dirinya tengah berada dalam rentetan kemenangan besar, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, sejumlah perkembangan politik, hukum, hingga kebijakan luar negeri menunjukkan bahwa klaim tersebut masih jauh dari kata final dan akan diuji oleh sejarah.
Dalam berbagai kesempatan, Trump menegaskan pemerintahannya telah membawa AS kembali berjaya.
"Kita dihormati oleh semua orang. Tidak ada yang menertawakan kita lagi. Kita bukan lelucon lagi. Kita adalah negara paling kuat di dunia," ujar Trump saat membuka Great American State Fair pekan lalu, seperti dikutip CNN International, Rabu (1/7/2026).
Sebelumnya, dalam pidato kenegaraan pada Februari, ia juga berseloroh bahwa rakyat AS "terlalu banyak menang" hingga tak sanggup lagi menerima lebih banyak kemenangan.
Memasuki masa jabatan keduanya, Trump memang mengantongi sejumlah kemenangan penting, terutama dari Mahkamah Agung AS yang didominasi hakim konservatif. Sejumlah putusan memperkuat kewenangan presiden dalam isu imigrasi dan membatasi intervensi pengadilan terhadap kebijakan Gedung Putih, memperkuat agenda politik yang menjadi ciri khas gerakan Make America Great Again (MAGA).
Meski demikian, Mahkamah Agung tidak selalu berpihak kepada Trump. Pengadilan menolak upayanya menghapus kewarganegaraan berdasarkan kelahiran (birthright citizenship) dengan menegaskan perlindungan tersebut dijamin oleh Amandemen Ke-14 Konstitusi AS. Ketua Mahkamah Agung John Roberts menegaskan maksud para penyusun amendemen tersebut sudah sangat jelas.
"Kita menepati janji itu hari ini," tulis Roberts dalam putusan mayoritas.
Selain itu, pengadilan juga membatasi ambisi Trump dalam perang dagang setelah memutuskan bahwa presiden tidak memiliki kewenangan sepihak untuk mengenakan tarif impor tanpa dasar hukum yang jelas. Putusan tersebut menjadi pukulan terhadap salah satu agenda ekonomi utama Trump.
Di ranah politik domestik, dominasi Trump atas Partai Republik masih terlihat kuat. Ia berhasil mempertahankan pengaruh besar terhadap arah partai dan menyingkirkan sejumlah politikus yang dianggap tidak lagi sejalan dengan agenda MAGA
Namun, mulai muncul tanda-tanda bahwa cengkeramannya tidak lagi sepenuhnya solid, terutama setelah muncul perlawanan dari sebagian anggota Partai Republik di Kongres terhadap beberapa agenda legislatifnya.
Trump juga mengklaim keberhasilan besar dalam kebijakan luar negeri. Ia menyebut AS kini kembali disegani dunia. Salah satu yang ia tonjolkan adalah keberhasilan operasi militer terhadap Venezuela serta peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota NATO. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan memuji kepemimpinan Trump.
"Ini presiden Anda, tetapi juga pemimpin dunia bebas, mengambil peran kepemimpinan sebagaimana mestinya," kata Rutte.
Namun, sejumlah analis menilai gambaran tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Di balik peningkatan anggaran pertahanan NATO, hubungan AS dengan sejumlah sekutu tradisional justru mengalami ketegangan.
Di Timur Tengah, konflik dengan Iran juga dinilai belum menghasilkan kemenangan strategis yang benar-benar menguntungkan Washington, sementara posisi global AS dinilai semakin dipertanyakan dibandingkan era pemerintahan sebelumnya.
Bagi pendukung Trump, gaya kepemimpinannya yang penuh kontroversi dan mengguncang tatanan lama justru menjadi bukti keberhasilan. Kebijakan perampingan birokrasi federal, pembubaran sejumlah lembaga, hingga perubahan besar terhadap pemerintahan dipandang sebagai keberhasilan memenuhi janji kampanye untuk merombak sistem Washington.
Sebaliknya, para pengkritik menilai langkah-langkah tersebut justru mengikis institusi demokrasi, melemahkan pengaruh global AS, serta menimbulkan dampak sosial dan politik yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.
(luc/luc) Add
source on Google