Kementan Ajak Petani Asuransikan Lahan, Puso Bisa Klaim Rp 6 Juta/Ha
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak petani untuk mengasuransikan lahan pertaniannya sebagai salah satu langkah menghadapi potensi dampak El Nino. Melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), petani hanya perlu membayar premi sekitar Rp36 ribu per hektare per musim, karena sebagian besar premi disubsidi pemerintah.
Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi mengatakan, asuransi menjadi bagian dari strategi mitigasi pemerintah untuk meminimalkan risiko kerugian petani apabila terjadi gagal panen atau puso akibat kekeringan.
"Kita ada asuransi. Jadi kalau mitigasi meminimalkan risiko dampak itu salah satunya ada asuransi, dan yang jelas arahan Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman), bantuan benih gratis bagi yang terdampak puso," kata Suwandi saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, petani yang mengikuti program asuransi dapat mengajukan klaim apabila lahannya mengalami puso setelah melalui proses verifikasi petugas di lapangan.
"Itu sesuai dengan masing-masing petani yang melakukan usulan dengan pihak asuransi yang ngasih. Dari petani mengajukan, ada pendaftarannya dan ada preminya. Nah, preminya disubsidi pemerintah 80%, 20%-nya saja petani bayar premi. Nanti kalau kena puso bisa klaim sekitar Rp6 juta per hektare. Tinggal lapor, terjadi puso dan diverifikasi oleh petugas lapangan. Kalau memang benar-benar puso ya dilakukan itu," jelasnya.
Menurut Suwandi, premi yang dibayarkan petani relatif kecil dibandingkan manfaat perlindungan yang diperoleh.
"Preminya sekitar Rp36.000 per hektar, untuk satu musim tanam ya, 4 bulan lah kira-kira. Tapi nanti kalau kena puso kan bisa klaim Rp6 juta," terang dia.
Di luar program asuransi, Kementan juga memastikan petani yang belum menjadi peserta AUTP tetap akan mendapatkan bantuan apabila terdampak gagal panen. "Tapi di luar itu, yang nggak asuransi, dikasih bantuan benih gratis oleh Pak Menteri langsung," ujarnya.
Suwandi pun mengimbau petani bersiap menghadapi musim kemarau dengan menerapkan berbagai langkah antisipasi agar risiko puso dapat ditekan.
"Dan minta tolong kepada petani untuk siap siaga, antisipasi dengan langkah-langkah bertani dengan teknik sistem pengairan yang tidak boros, nyemek-nyemek, sederhana begitu. Kemudian gunakan benih-benih yang tahan kekeringan dan sudah direkomendasikan, kemudian dipantau dan dijaga pertanaman. Petugas lapangan bergerak di lapangan mengawal itu, ada disebut namanya brigade kekeringan," pungkas Suwandi.
(hoi/hoi) Add
source on Google