Internasional

Negara Muslim Ini Akan Jadi Tuan Rumah KTT NATO 2026

tps, CNBC Indonesia
Rabu, 01/07/2026 17:35 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Turki. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara mayoritas muslim, Turki, akan menjadi tua rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO 2026. Ankara akan mengumpulkan 32 pemimpin negara anggota NATO, serta para pejabat tinggi dari kawasan Teluk dan Asia-Pasifik, pdari 7 hingga 8 Juli nanti.

KTT ini sengaja digelar dengan misi utama untuk memperkuat draf deterensi militer serta menunjukkan persatuan internal blok tersebut. Ini terjadi di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal penarikan mundur pasukan, jet tempur, hingga kapal perang Paman Sam dari Eropa akibat perselisihan anggaran pertahanan dan keengganan sekutu membantu pengamanan jalur energi Selat Hormuz.


"NATO terus menjadi platform yang tak tertandingi dan fundamental bagi keamanan dan pertahanan Euro-Atlantik," kata Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler, merujuk laporan Reuters Rabu (1/7/2026).

"Kami menilai periode yang sedang kita lalui ini bukan sebagai krisis, melainkan sebagai proses penyesuaian terhadap lingkungan keamanan yang berubah," tambahnya menyebut konflik beberapa negara NATO dengan AS.

Guler menambahkan bahwa komitmen penangkalan nuklir (extended deterrence) dan kehadiran militer Washington tetap menjadi pilar strategis yang sangat krusial bagi stabilitas pakta pertahanan tersebut. Oleh karena itu, KTT nanti diharapkan membuat draf pembentukan peta jalan konkret untuk memperkuat pilar pertahanan mandiri Eropa.

"Diharapkan kontak dan upaya dalam menciptakan peta jalan konkret untuk memperkuat pilar Eropa akan diintensifkan pada KTT tersebut," tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Guler, juga menegaskan bahwa AS sebenarnya tidak berniat untuk keluar dari NATO. Melainkan hanya menuntut sekutu Eropa dan Kanada untuk memikul tanggung jawab lebih besar terhadap keamanan kawasan Euro-Atlantik.

Turki sendiri muncul sebagai kekuatan militer terbesar kedua di tubuh NATO. Turki tercatat telah berhasil memangkas ketergantungan industri pertahanannya dari pihak luar secara drastis melalui pengembangan teknologi lokal mandiri.

Kendati demikian, Ankara menyayangkan sikap sejumlah negara Barat yang kerap menjaga jarak dan mengucilkan Turki dari berbagai proyek inisiatif pertahanan bersama di Eropa. Hal ini karena perbedaan pandangan politik.

"Kami percaya bahwa mengecualikan kapasitas penting seperti (Turki) dari inisiatif pertahanan Eropa adalah pendekatan yang tidak akurat secara strategis," kritik Guler yang mendesak Eropa mengadopsi pendekatan visioner demi efektivitas pertahanan kawasan.

Guna membuktikan komitmennya terhadap aliansi, Turki menegaskan kesiapannya untuk mengejar target belanja pertahanan sebesar 5% dari PDB pada tahun 2035 mendatang. Di mana negeri itu akan fokus pada alokasi anggaran pada sektor pesawat nirawak (drone), sistem pertahanan udara terintegrasi "Steel Dome", proyek angkatan laut, serta keamanan siber.

Mengingat kebutuhan draf rudal pertahanan udara domestik yang mendesak, Guler mengonfirmasi bahwa Ankara saat ini tetap membuka opsi pembelian sistem Patriot dari AS maupun draf sistem SAMP-T milik konsorsium Prancis-Italia.

"Pendekatan inti kami dalam masalah ini jelas: kami terbuka untuk semua kerja sama yang memenuhi kebutuhan keamanan negara kami, yang mencakup pembagian teknologi dan produksi bersama, serta berkelanjutan dan sejalan dengan semangat aliansi," pungkasnya.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gelombang Panas Ekstrem Lumpuhkan Eropa