Perusahaan Raksasa Rokok PHK Massal Ribuan Karyawan, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa industri rokok British American Tobacco (BAT) mengumumkan akan memangkas sekitar seperlima dari total tenaga kerjanya pada tahun ini sebagai bagian dari transformasi besar-besaran untuk menekan biaya operasional dan mempercepat penerapan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), di seluruh bisnisnya.
Perusahaan yang merupakan salah satu grup tembakau terbesar di dunia itu menyatakan akan menghapus 5.500 posisi kerja hingga akhir tahun, sekaligus mengalihdayakan (outsourcing) 3.500 pekerjaan lainnya. Secara total, langkah tersebut akan berdampak pada sekitar 9.000 karyawan dari total sekitar 47.000 pekerja yang dimiliki BAT secara global.
Langkah efisiensi tersebut diambil ketika BAT menghadapi penurunan permintaan terhadap rokok konvensional, sekaligus meningkatnya tekanan untuk berinvestasi pada produk alternatif nikotin.
Perusahaan yang masuk dalam indeks FTSE 100 di Bursa Efek London itu mengatakan pengurangan tenaga kerja merupakan bagian dari "program transformasi" yang ditargetkan mampu menghasilkan penghematan biaya tahunan sebesar 600 juta pound sterling pada akhir 2028.
CEO BAT Tadeu Marroco mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun perusahaan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
"Kami sedang membangun organisasi yang siap menghadapi masa depan, yang lebih lincah, lebih disiplin dalam pengelolaan biaya, dan lebih didukung oleh teknologi," kata Marroco, dikutip dari The Guardian, Selasa (30/6/2026).
Ia mengakui bahwa kebijakan tersebut akan berdampak terhadap banyak karyawan BAT.
"Perubahan ini memengaruhi banyak rekan kerja kami, dan kami berfokus untuk mendukung mereka melalui masa transisi ini dengan kepedulian dan rasa hormat, sembari mempersiapkan bisnis untuk masa depan," ujarnya.
BAT memastikan bahwa langkah pengurangan tenaga kerja tidak akan menyentuh operasinya di Amerika Serikat, yang dijalankan melalui anak usahanya, Reynolds American.
Transformasi Digital dan AI
Langkah efisiensi ini merupakan kelanjutan dari strategi transformasi digital yang telah dijalankan BAT dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun lalu, BAT menjalin kemitraan dengan perusahaan konsultan teknologi Accenture untuk mengalihdayakan sebagian pekerjaan perusahaan.
Saat mengumumkan kerja sama tersebut, Marroco mengatakan kemitraan dengan Accenture akan memberikan BAT akses terhadap "solusi AI canggih" yang dimiliki perusahaan konsultan tersebut.
BAT menyatakan sejumlah pekerjaan di Inggris, Polandia, Rumania, Kosta Rika, Meksiko, Singapura, dan Malaysia telah dialihkan ke Accenture sejak kerja sama tersebut mulai berjalan.
Transformasi perusahaan ke arah digital juga sebelumnya ditegaskan oleh CFO sementara BAT, Javed Iqbal.
Pada Februari lalu, Iqbal mengatakan kepada Financial Times bahwa rencana penyederhanaan perusahaan akan membuat BAT menjadi "lebih digital dan lebih berfokus pada AI."
Permintaan Rokok Global
Selain melakukan restrukturisasi organisasi, BAT juga terus mengurangi kapasitas produksi rokok konvensional seiring melemahnya permintaan global terhadap produk tersebut.
Perusahaan yang memproduksi berbagai merek rokok terkenal seperti Dunhill dan Peter Stuyvesant itu sebelumnya telah menutup sejumlah fasilitas produksi rokok tradisional.
Pada Januari lalu, BAT mengumumkan penutupan pabrik rokok terbesar kedelapan miliknya yang berlokasi di Afrika Selatan. Perusahaan menyebut keputusan tersebut diambil karena meningkatnya persaingan dari perdagangan rokok ilegal.
Di tengah perubahan perilaku konsumen menuju produk alternatif nikotin, BAT juga memperkirakan volume industri rokok global akan kembali mengalami penurunan tahun ini.
Grup tersebut memprediksi volume industri rokok dunia akan menyusut sekitar 2,5% sepanjang tahun ini, memperpanjang tren penurunan permintaan terhadap rokok konvensional yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]