Penjualan Elektronik di Glodok Keok, Pedagang Bilang Gedung Bisa Mati
Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Harco Glodok yang pada masa lalu terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Jakarta, kini keadaannya kian meredup dan lengang. Terpantau Senin (29/6/2026), deretan ruko di Harco Glodok kini memilih untuk membuka toko online juga seiring dengan penurunan drastis jumlah pengunjung yang datang berbelanja.
Kondisi sepi yang berkepanjangan ini memicu keluhan dari para pedagang elektronik setempat. Sebab, menyusutnya jumlah pengunjung Harco Glodok berimbas langsung terhadap penurunan omzet penjualan mereka. Situasi ini memaksa para pedagang untuk bertahan dengan hanya mengandalkan loyalitas dari para pelanggan setia yang tersisa.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Harco Glodok masih menawarkan sejumlah barang elektronik seperti TV, Sound System, Speaker, Printer, Laptop, Komputer, PlayStation, Lampu, Rice Cooker, Blender, Mixer, dan barang elektronik lainnya. Meski menjajakan berbagai jenis produk elektronik, toko-toko di sana cenderung sepi dan lengang.
Salah satu pedagang mesin pompa elektrik di Glodok, Peter mengaku saat ini dirinya mengandalkan penjualan melalui platform marketplace sekalipun ia tetap memiliki toko fisik di Harco Glodok. Dia juga bilang, jika para pedagang tidak pandai mencari peluang, maka peluang meraih keberhasilan dalam menjual produk akan semakin sulit terwujud.
"Kalau kita di sini, semuanya satu gedung ini berharap di online. Kalau nggak ada online, nggak ada. Mati gedung ini udah, coba lihat aja, nggak ada yang lewat juga," ujar dia saat ditemui CNBC Indonesia, Senin (29/6/2026).
Beralih ke toko berikutnya, salah satu penjaga toko Sound System yang bernama Arie menyatakan, penjualan produk di tempatnya tampak tidak menentu. Ada masanya penjualan Sound System di tokonya mengalami penurunan, namun di waktu lain justru mengalami kenaikan.
Toko yang dijaga Arie pun lebih banyak didatangi oleh pengunjung loyal yang sudah biasa membeli barang elektronik secara langsung di Harco Glodok.
"Penjualannya tergantung ya, karena tergantung bulanan kadang turun kadang naik. Gak menentu, tapi Alhamdulillah ada aja yang beli," jelasnya.
Pedagang elektronik lainnya, Marco mengaku aktif menjual laptop. Namun, sejauh ini tren penjualan laptop di tokonya tergolong sepi yakni hanya laku belasan dalam sebulan. Produk laptop yang banyak diincar pembeli adalah laptop second atau bekas dengan harga kisaran Rp 3 jutaan. Laptop baru juga punya peminat dengan harga jual sekitar Rp 6,5 jutaan.
"Kalau dibilang bagus (penjualan) sih kurang, karena kebanyakan sekarang kan online," imbuh dia, Senin (29/6/2026).
Berbeda dengan pedagang lainnya, Marco tetap memilih berjualan di toko offline. Selain bisa melihat langsung kondisi barangnya, para pengunjung juga bisa terhindar dari potensi penipuan.
"Karena kita bisa lihat langsung, minimal nggak akan ketipu lah, ketahuan tokonya ada di mana. Kalau online kan biasa nggak ada toko, terus pake nama disini (di Glodok) aja kan banyak. Itu masalahnya begitu (yang menipu)," ucap Marco.
Melihat kondisi itu, Marco memilih untuk memangkas jumlah stok barang di tempatnya. Selain itu, dia juga melakukan penelitian pasar barang apa saja yang masih diminati oleh masyarakat agar penjualannya kembali membaik.
Lebih lanjut, salah satu pedagang elektronik di Harco Glodok, Iwan mengaku omzet penjualan barang elektronik di tempatnya cenderung menyusut. Pasalnya, para pengunjung sudah mulai jarang mencari barang elektronik secara langsung ke toko, mengingat saat ini banyak toko online yang menawarkan barang tersebut dengan harga murah.
Dari situ, Iwan pun mengurangi stok barang elektronik di tempatnya. Di samping itu, Iwan menilai, saat ini masyarakat cenderung memilih membeli alat elektronik yang bisa digunakan sehari-hari saja, seperti lampu bohlam.
Sebaliknya, barang elektronik seperti mixer, blender, hingga rice cooker sulit terjual. Bahkan, dalam satu bulan barang-barang tersebut belum tentu laku terjual.
Tak hanya itu, ketika ada gelaran Piala Dunia 2026, tidak banyak yang membeli STB di tokonya Iwan. Mengingat, saat ini banyak orang yang sudah memiliki TV digital setelah siaran TV analog dihentikan pada 2022 lalu.
"Enggak juga ya, sekarang udah pada beli TV digital itu, dulu waktu pertama (penghentian siaran TV analog) ya banyak. Kalau sekarang enggak begitu," tandas Iwan.
(dce) Add
source on Google