Internasional

Gencatan Senjata Rusak! AS-Iran Saling Serang, Trump Lempar Ancaman

tps, CNBC Indonesia
Senin, 29/06/2026 06:10 WIB
Foto: Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (7/5). (Pool via WANA (West Asia News Agency)/ via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Proses perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mandek setelah militer AS meluncurkan serangan udara balasan ke sejumlah target militer Iran. Operasi tempur udara ini dipicu oleh aksi nekat Teheran yang kembali menyerang kapal-kapal komersial di jalur energi strategis Selat Hormuz.

Mengutip laporan CNBC, Senin (29/06/2026), jet tempur Komando Sentral AS (CentCom) menggempur 10 target militer di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada hari Minggu kemarin. Serangan udara ini menyasar infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan pesawat nirawak (drone), serta kemampuan kapal ranjau milik Iran.

Langkah agresif Washington diambil setelah kapal tanker komersial berbendera Panama, M/T Kiku, dihantam oleh serangan drone Iran saat melintasi selat pada hari Sabtu dengan mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah. Selain itu, CentCom juga mendeteksi bahwa Iran sempat menembak kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di lepas pantai Oman pada hari Kamis, meskipun kapal tersebut tetap mampu melanjutkan pelayarannya.


Merespons gempuran udara AS di fasilitas pesisirnya, Iran langsung meluncurkan serangan rudal balistik dan drone balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu malam. Angkatan bersenjata Kuwait mengonfirmasi bahwa pertahanan udara mereka sibuk menghalau rudal musuh, sementara Kementerian Luar Negeri Bahrain mengutuk keras agresi berbahaya ini.

"Apa yang dilakukan Teheran bukanlah tindakan sekilas, bukan pula insiden terisolasi, melainkan pendekatan yang disengaja dan pola agresi berulang yang sistematis," kecam otoritas Bahrain dalam rilis resminya.

Aksi saling serang ini langsung memicu reaksi keras dari negara-negara tetangga di kawasan Teluk, di mana Uni Emirat Arab dan Qatar kompak mengutuk serangan Iran sebagai pelanggaran fatal terhadap kedaulatan wilayah serta hukum internasional. Arab Saudi juga ikut mengecam keras agresi Iran terhadap keamanan serta kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.

Eskalasi berdarah ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengancam akan membumihanguskan wilayah Republik Islam tersebut jika draf damai terus dilanggar. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa pesawat AS telah menggempur basis misil Iran karena mereka melanggar perjanjian gencatan senjata lagi.

"Mungkin akan tiba suatu titik di mana kita tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan akan terpaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" ancam Trump.

Pernyataan keras tersebut menambah panjang deretan ancaman ekstrem Trump yang berulang kali ingin mengirim Iran kembali ke "zaman batu". Pada bulan April lalu, Trump sempat mengancam bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" sembari memunculkan momok perang nuklir, yang kemudian ia sambung pada bulan Mei dengan memperingatkan bahwa waktu bagi Iran terus berjalan cepat dan tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka.

Ketidakpastian Meja Perundingan di Swiss

Bencana militer ini pecah tepat seminggu setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MOU) yang ditujukan untuk menyusun kesepakatan damai permanen setelah berbulan-bulan terlibat perang terbuka. Di bawah kerangka kerja gencatan senjata 60 hari tersebut, kedua belah pihak seharusnya menahan diri, namun kini mereka saling menuduh lawan telah melanggar kesepakatan terlebih dahulu termasuk saat militer AS menggempur Iran pada hari Jumat akibat tuduhan pelanggaran konyol.

Seorang sumber diplomatik asal Pakistan yang terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa meskipun negosiasi saat ini sedang dibekukan akibat aksi saling serang, semua delegasi tetap mempertahankan perwakilan mereka di Switzerland. Keberadaan para utusan tersebut bertujuan untuk segera memulai kembali diskusi meja bundar saat mendapatkan lampu hijau dari pemerintah masing-masing, meskipun sumber tersebut tidak merinci pihak mana yang pertama kali memutuskan untuk menjeda perundingan.

Di sisi lain, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Trump membantah kabar yang menyebut perundingan damai telah dibatalkan secara sepihak. Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa draf komunikasi teknis di balik layar masih berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.

"Tidak ada yang dibatalkan. Pembicaraan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman tetap berada di jalur yang benar untuk beberapa hari ke depan sesuai rencana," tegas pejabat senior AS tersebut.

Media Axios bahkan melaporkan bahwa AS dan Iran sebenarnya telah sepakat untuk menghentikan aksi saling gempur di laut dan berencana mengadakan pertemuan langsung pada akhir pekan ini. Di tengah ketidakpastian politik ini, CentCom memastikan bahwa arus lalu lintas kapal tanker komersial di Selat Hormuz masih tetap berjalan karena lebih banyak tanker yang berhasil keluar dan meredakan kekhawatiran pasokan.

Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah dunia jenis Brent untuk kontrak Agustus ditutup merosot 4,34% ke level US$ 71,99 (Rp 1,28 juta) per barel pada hari Jumat. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Agustus juga menurun 3,74% ke posisi US$ 69,23 (Rp 1,2 juta) per barel, yang menjadi momen pertama kalinya harga WTI ditutup di bawah level US$ 70 sejak tanggal 27 Februari silam, tepat sehari sebelum perang Iran pecah.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sebut Lebanon Arena Bermain, Israel Tolak Gencatan Senjata