ENERGY FORUM

Bahlil: Penyesuaian Royalti Nikel Cs Bisa Tambah Setoran Negara Rp35 T

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 26/06/2026 14:50 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kebijakan penyesuaian royalti sejumlah komoditas mineral dan batu bara berpotensi meningkatkan penerimaan negara sebesar Rp30 triliun hingga Rp35 triliun per tahun.

Menurut dia, pemerintah telah menaikkan tarif royalti untuk sejumlah komoditas, termasuk nikel, batu bara, dan komoditas mineral lainnya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah memperkuat penerimaan negara dari sektor ESDM.

"Royalti kan sudah kita naikkan. Nikel kan kita sudah naikkan, royalti batu bara kan sudah kita naikkan," ujar Bahlil dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (25/6/2026).


Bahlil menjelaskan tambahan penerimaan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga subsidi energi tanpa harus menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Bahlil memerinci ketika harga minyak mentah Indonesia atau ICP berada di level US$70 per barel, pendapatan negara dari sektor migas mencapai sekitar US$10,8 miliar. Namun jika ICP naik menjadi US$100 per barel, penerimaan negara meningkat menjadi sekitar US$17,6 miliar.

Dengan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, maka tambahan penerimaan tersebut setara sekitar Rp120 triliun hingga Rp130 triliun.

"US$7 miliar kali Rp17.500 waktu itu asumsi rata-rata kurang lebih sekitar Rp120 sampai Rp130 triliun. Saya tidak mau ngomong angka makanya sekitar aja kira-kira begitu. Itu berarti kita sudah mempunyai 50% dari total menutup subsidi tambahan," katanya.

Selain memanfaatkan kenaikan penerimaan akibat naiknya ICP, pemerintah kemudian meningkatkan royalti minerba. Sisanya pemerintah melakukan berbagai macam efisiensi di sektor lainnya.

"Habis itu saya nggak kehilangan akal lagi, saya putar lagi otak, saya naikkan royalti daripada nikel dan batu bara dan komoditas lain. Itu dapat tambahan Rp30 sampai Rp35 triliun. Jadi totalnya sudah Rp160 triliun dari sektor ESDM untuk menambal penambahan subsidi dari ketidaknaikkan harga BBM itu," kata Bahlil.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Genjot Lifting Migas Agar Tak Terus Turun, Bahlil Punya 3 Jurus