Badan PBB Hentikan Lalu Lintas Kapal Selat Hormuz
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan PBB, Organisasi Maritim Internasional (IMO), telah menghentikan sementara lalu lintas kapal-kapal di Selat Hormuz. Ini terkait evakuasi kapal dan pelaut yang terdampar di Teluk Timur Tengah pasca penutupan oleh Iran akibat perang dengan Amerika Serikat (AS).
Hal ini terjadi setelah sebuah kapal diserang di Teluk Oman. Sebuah kapal kontainer dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat pantai Oman Kamis.
"Rencana evakuasi akan dihentikan sementara untuk memastikan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap berlaku untuk kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami dan semua kapal di wilayah tersebut," kata Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dikutip Jumat (26/6/2026).
"Kami mengetahui laporan-laporan ini dan sedang menyelidikinya. Presiden Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak dapat mengganggu arus lalu lintas bebas di selat tersebut," tambahnya menunjuk Iran.
Sebelumnya, IMO meluncurkan alternatif pada Selasa yang bertujuan untuk mendukung ratusan kapal yang terdampar dan ribuan pelaut untuk berlayar keluar dari Teluk. IMO menggunakan rute utara melalui perairan Iran atau rute selatan melalui perairan Oman dengan pengawasan AS.
Pemilik kapal telah berupaya untuk melintasi Selat Hormuz setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan perdamaian sementara, untuk menghentikan permusuhan selama 60 hari selagi negosiasi untuk kesepakatan perdamaian permanen berlangsung. Lalu lintas melalui Selat Hormuz telah pulih sebagian tetapi masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Menurut Lloyd's List Intelligence, setelah gencatan senjata, 125 kapal melewati selat tersebut. Ini tingkat transit mingguan tertinggi sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Rabu malam, militer Iran memang memperingatkan kapal-kapal untuk tidak menggunakan rute selatan yang disetujui oleh IMO dan mengatakan bahwa rute transit baru apa pun melalui Selat Hormuz yang dibuat tanpa persetujuannya adalah "tidak dapat diterima dan berbahaya". Setidaknya dua kapal melakukan putar balik dalam perjalanan keluar dari Teluk Timur Tengah, setelah Iran bersikeras, di mana keduanya menggunakan rute selatan yang paling dekat dengan garis pantai Oman.
Kapal yang diserang tersebut membawa bendera Singapura dan dimiliki oleh perusahaan pelayaran raksasa Evergreen. Sayangnya, Evergreen, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, dan Kementerian Luar Negeri tidak menanggapi permintaan komentar dari CNBC International.
(sef/sef) Add
source on Google