Internasional

Alert! Iran Ngamuk, Tembak Drone ke Kapal Singapura di Selat Hormuz

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 26/06/2026 07:10 WIB
Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal komersial berbendera Singapura di Selat Hormuz. Insiden bersenjata tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, (25/06/2026).

Mengutip laporan CBS News, bagian anjungan kapal komersial tersebut nampak mengalami kerusakan parah pada sisi kanan akibat hantaman proyektil misterius di lepas pantai Dahit, Oman. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris memastikan tidak ada korban jiwa ataupun dampak kerusakan lingkungan yang dilaporkan dari dek kapal pascaserangan.

Aksi militer sepihak dari Teheran ini langsung menjadi tantangan besar bagi upaya Presiden Donald Trump yang sedang berambisi membuka kembali koridor pelayaran minyak dunia. Akibat serangan ini, Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah PBB langsung menghentikan sementara proyek evakuasi ribuan pelaut dan ratusan kapal yang sempat terdampar akibat perang di Teluk Persia.


"Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi yang utama. Oleh karena itu, rencana evakuasi akan dihentikan sementara sampai ada kejelasan lebih lanjut," tegas Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez.

Pihak IMO mengklarifikasi bahwa kapal Singapura yang menjadi korban tersebut berlayar secara mandiri dan posisinya berada di luar koridor evakuasi resmi PBB. Padahal, nota kesepahaman (MOU) damai yang baru diteken pekan lalu sempat memberikan sentimen positif yang berhasil membuat harga minyak mentah dunia anjlok.

Berdasarkan data firma analitik Kpler, arus logistik di selat tersebut sebenarnya sempat melonjak tajam dari 6 kapal menjadi 70 kapal hanya dalam satu minggu. Berdasarkan dokumen draf perdamaian, Iran diwajibkan menjamin lintasan aman bebas biaya tol bagi kapal asing selama 60 hari menggunakan upaya terbaiknya.

Namun, friksi penentuan jalur tetap memicu ketegangan karena pihak Washington lebih memilih rute aman yang mepet dengan garis pantai Oman. Sebaliknya, Teheran bersikeras memaksa semua kapal komersial internasional untuk meminta izin kepada mereka dan wajib berlayar mendekati wilayah pantai Iran.

"Setiap perlintasan melalui rute di luar kerangka kerja tidak akan dicakup oleh jaminan lintasan aman dan tidak berhak mendapatkan jaminan asuransi," ancam Otoritas Selat Persia Iran.

Pihak Iran juga tidak menutup kemungkinan untuk mulai memungut biaya tol laut komersial setelah masa tenggang 60 hari berakhir. Langkah ini ditolak keras oleh pemerintahan Trump dan sekutu Arabnya karena dinilai melanggar hukum laut internasional secara fatal.

Sebelum rudal merusak kapal Singapura tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyatakan bahwa negaranya hanya akan menilai komitmen Iran dari aksi nyata di lapangan. Rubio menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja diplomatik ke Bahrain demi memantau koridor energi Teluk.

"Jika kapal-kapal bergerak sebagaimana mestinya, maka itulah yang akan kami nilai. Jika retorika ini didukung oleh ancaman nyata terhadap kapal, itu adalah pelanggaran perjanjian dan kami akan mempermasalahkannya," tegas Rubio.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jemawa! Trump Sebut AS "Malaikat Pelindung" Selat Hormuz