MARKET DATA
Internasional

Strategi Baru Iran Lawan AS-Israel, Tebar Ranjau Laut di Selat Hormuz

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
11 March 2026 21:30
Kapal tanker terlihat di lepas pantai Fujairah, saat Iran bersumpah akan menembaki kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Fujairah, Uni Emirat Arab, 3 Maret 2026. (REUTERS/Amr Alfiky)
Foto: (REUTERS/Amr Alfiky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap armada kapal Iran yang terdeteksi tengah menyebarkan ranjau laut di Selat Hormuz. Langkah agresif Teheran ini memicu reaksi keras dari Washington yang memerintahkan penghancuran segera terhadap seluruh aset yang terlibat dalam sabotase jalur minyak dunia tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis rekaman yang menunjukkan jet tempur mereka menghancurkan kapal-kapal kecil Iran di bawah kegelapan malam pada Selasa. Pentagon mengonfirmasi bahwa unit intelijen telah mendeteksi pengerahan kapal-kapal cepat milik rezim yang membawa muatan bahan peledak berbahaya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan konfirmasi resmi terkait jumlah kapal yang berhasil dilumpuhkan dalam operasi tersebut. "Enam belas kapal angkatan laut telah dieliminasi," tegas Hegseth melalui pernyataan resminya dikutip AFP, Rabu (11/3/2026).

Strategi Baru Iran

Strategi baru Iran ini melibatkan penggunaan kapal-kapal kecil yang sulit terdeteksi radar untuk menaruh ranjau di jalur navigasi utama. Kapal-kapal ini dilaporkan mampu membawa dua hingga tiga ranjau sekaligus, yang dirancang untuk meledakkan tanker minyak raksasa yang melintas di selat sempit tersebut.

Iran sendiri diperkirakan memiliki persediaan ranjau laut antara 2.000 hingga 6.000 unit, termasuk varian buatan China dan Rusia. Langkah Iran ini secara efektif mengancam aliran 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia yang melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Akibat pengerahan ranjau ini, puluhan kapal tanker dari Eropa, China, India, hingga Jepang kini terpaksa berhenti dan membuang jangkar di lepas pantai Dubai serta Oman. Pentagon kini tengah mengkaji opsi untuk mengerahkan pengawalan militer langsung bagi kapal-kapal komersial.


Ultimatum Keras Trump

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump langsung mengeluarkan ultimatum keras melalui akun Truth Social miliknya. Ia mengancam konsekuensi besar bagi Iran.

"Jika karena alasan apa pun ranjau ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya," ancamnya.

Meskipun intelijen telah memberikan bukti visual, Trump sempat memberikan pernyataan bahwa AS masih memantau keakuratan data tersebut di lapangan. Namun, ia tetap memberikan pilihan bagi Iran untuk mundur sebelum konfrontasi semakin meluas.

"Jika, di sisi lain, mereka menyingkirkan apa yang mungkin telah ditempatkan, itu akan menjadi langkah raksasa ke arah yang benar!" tambah Trump dalam unggahannya.

Respons Iran

Di sisi lain, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menyatakan bahwa pihak Teheran tidak akan mundur sedikitpun dari strategi pertahanan mereka. Ia malah mengancam balik AS.

"Iran tidak takut dengan ancaman kertas Anda. Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua orang atau akan menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghangat perang," balas Larijani.

(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Balas Dendam, Kapal Tank Minyak Sekutu AS Disita di Selat Hormuz


Most Popular
Features