MARKET DATA

Gencatan Senjata AS-Israel dan Iran Terancam Gagal, Dunia Panik

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
11 April 2026 17:00
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin dunia berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah meningkatnya risiko runtuhnya gencatan senjata yang baru saja diumumkan. Upaya diplomasi semakin tertekan seiring serangan Israel di Lebanon yang terus berlanjut, memicu kekhawatiran akan kembalinya konflik berskala besar di Timur Tengah.

Ketika pesawat Air Force Two membawa Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menuju Pakistan untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran, posisi gencatan senjata yang dimediasi Presiden Donald Trump terlihat semakin rapuh.

Dilansir dari The New York Times, gencatan senjata yang diumumkan pada Selasa lalu itu kini terancam batal, terutama karena Iran menilai serangan Israel ke Lebanon melanggar kesepakatan yang mencakup penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, dengan imbalan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak tekanan internasional untuk menghentikan operasi militer terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Sikap ini menjadi sumber ketegangan utama yang berpotensi menggagalkan pembicaraan penting antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

Iran sempat mengancam membatalkan pertemuan dengan Vance yang direncanakan berlangsung Sabtu waktu setempat. Namun, kedatangan delegasi Iran di Islamabad pada Jumat memberi sinyal bahwa pembicaraan kemungkinan tetap berjalan, meski situasinya penuh ketidakpastian.

Kekhawatiran terhadap dampak konflik ini tidak hanya bersifat geopolitik, tetapi juga ekonomi global. Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan bahwa jika perang kembali pecah dan Iran mengganggu jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, pertumbuhan ekonomi global bisa melambat secara signifikan dan inflasi akan meningkat.

Sejumlah negara pun bergerak aktif menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Presiden Prancis Emmanuel Macron menekan Israel untuk menghentikan serangan di Lebanon. Perdana Menteri Inggris menyelesaikan kunjungan tiga hari ke negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali jalur pelayaran. Sementara itu, Arab Saudi mendesak China untuk terus menekan Iran agar tetap terlibat dalam proses diplomasi.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai momen "penentu hidup atau mati". Ia mengungkapkan telah menerima banyak komunikasi dari para pemimpin dunia, termasuk dari Qatar, Jerman, Australia, dan Inggris, yang menunjukkan tingginya perhatian global terhadap perkembangan situasi ini.

Meski pembicaraan tetap berlangsung, para analis menilai konflik di Lebanon telah merusak atmosfer perundingan. Profesor Vali R. Nasr dari Johns Hopkins mengatakan, "Lebanon telah mengubah konteks pembicaraan."

Ia menambahkan bahwa ketegangan ini memperdalam ketidakpercayaan yang sudah lama ada antara kedua negara, apalagi setelah lima minggu konflik dan sejarah panjang perselisihan.

Menurut Nasr, perbedaan tajam terkait program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, dan isu strategis lainnya akan semakin sulit dijembatani. Bahkan, para diplomat veteran meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan besar tanpa memperpanjang batas waktu dua minggu yang ditetapkan dalam gencatan senjata.

Ia juga menggarisbawahi kecurigaan Iran terhadap Presiden Trump, dengan mengatakan, "Jika Anda sudah berpikir bahwa orang ini, Tuan Trump, mungkin akan menipu Anda, itu pertanda buruk." Ketidakpercayaan ini diperkuat oleh pengalaman masa lalu, termasuk keputusan Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan tindakan militer mendadak terhadap Iran dalam setahun terakhir.

Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Vance akan didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mereka dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, belum jelas apakah pertemuan akan dilakukan secara langsung atau melalui perantara Pakistan.

Pembicaraan ini akan berlangsung di Hotel Serena Islamabad, yang sebelumnya diminta mengosongkan tamu karena digunakan pemerintah Pakistan untuk acara penting tersebut. Para diplomat menilai pertemuan langsung lebih efektif, meski juga berisiko secara politik karena bisa dianggap terlalu kompromistis.

Peran negara lain juga sangat menentukan, terutama China yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Ryan Hass dari Brookings Institution mengatakan bahwa eskalasi konflik akan bertentangan dengan kepentingan China dalam menjaga stabilitas pasar energi global. Hal ini memperkuat laporan bahwa Beijing mendorong Teheran menerima gencatan senjata.

Seorang pejabat Arab Saudi juga menyebut Riyadh mendorong China tetap aktif dalam proses diplomasi. Sementara itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa negaranya terus bekerja sejak awal konflik "untuk membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik."

Para ahli menilai gencatan senjata masih bertahan meski penuh kelemahan karena kedua pihak memiliki kepentingan besar untuk menghindari eskalasi. Iran menghadapi tekanan militer dan ekonomi yang berat, tetapi memiliki pengaruh besar melalui kemampuannya mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, Trump menghadapi kenaikan harga bahan bakar, dukungan publik yang melemah, serta tekanan dari basis politiknya sendiri.

Namun, sedikit yang memperkirakan bahwa Lebanon akan menjadi faktor paling berbahaya dalam upaya perdamaian ini. Bagi Netanyahu, Lebanon sangat penting karena menjadi basis Hezbollah, kelompok yang telah lama menjadi ancaman bagi Israel dan terlibat konflik lintas batas selama bertahun-tahun.

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Netanyahu semakin bertekad untuk melucuti atau menghancurkan Hezbollah sesuai mandat PBB yang selama ini mandek. Meskipun Trump sempat meminta Israel mengurangi serangan, dan Netanyahu menyatakan akan bergabung dalam pembicaraan dengan pemerintah Lebanon, kenyataannya di lapangan belum menunjukkan penurunan intensitas serangan.

Trump sempat menyatakan bahwa Israel akan "mengurangi" operasinya di Lebanon, namun Netanyahu justru menegaskan bahwa ia tidak pernah menyetujui gencatan senjata di Lebanon dan akan terus "menyerang Hezbollah dengan kekuatan penuh."

Upaya menekan Israel terus dilakukan. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mengecam serangan yang disebutnya sebagai "serangan tanpa pandang bulu" di Lebanon. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menegaskan bahwa negaranya menolak membahas gencatan senjata dengan Hezbollah yang disebutnya sebagai penghambat utama perdamaian.

Nasr menilai bahwa dari sudut pandang Iran, situasi di Lebanon menjadi ujian penting terhadap kredibilitas Trump. Ia mengatakan, "Jika Trump tidak bisa membuat Netanyahu mundur di Lebanon, itu berarti AS tidak mampu mengendalikan Israel, dan itu tidak memberi kepercayaan bagi Iran."

Ia menambahkan, "Dalam skenario terburuk, itu berarti mereka sebenarnya bisa mengendalikan, dan mungkin ada rencana lain yang sedang disiapkan."

Dengan ketegangan yang terus meningkat dan kepentingan global yang besar, nasib pembicaraan di Islamabad kini menjadi penentu apakah dunia akan bergerak menuju stabilitas atau kembali terjerumus ke dalam konflik yang lebih luas.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Deretan "Dosa" Besar Israel di 2025: Serang Negara Arab hingga Eropa


Most Popular
Features