Energy Forum

Dunia Dilanda Ketidakpastian, Pertamina Ungkap Strategi Amankan Energi

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Kamis, 25/06/2026 13:22 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia- Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengungkapkan langkah-langkah mitigasi untuk mengamankan pasokan energi dan menjaga ketahanan dalam negeri. Pertamina menyiapkan lapisan pertahanan, mengejar ketersediaan, dan berupaya menaikkan produksi dari sisi hulu sehingga bisa mengurangi impor minyak mentah.

"Di hilir dilakukan diversifikasi, mengurangi solar dengan B40-B50, kurangi impor bensin dan diganti dengan etanol," ungkap Oki saat berbicara di Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

"Kami juga kontribusi di istri dengan geothermal (panas bumi). Pertama soal ketersediaan yang utama," lanjutnya.


Oki juga menegaskan Pertamina juga terus berkonsultasi dengan DPR dan pemerintah terkait keterjangkauan (affordability). Dengan begitu langkah-langkah yang dilakukan terus berpihak pada masyarakat, dan aktivitas bisa terus berjalan.

"Sudah diungkapkan pak Menteri untuk tidak membebani rakyat, ada buffer, dan seterusnya. Kami terus melakukan optimasi di internal dengan melakukan integrasi di hilir," kata Oki.

Dengan penggabungan 3 Subholding PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS), bergabung (merger) menjadi Sub Holding Downstream, maka tercipta efisiensi dan value creation yang lebih baik.

Dari sisi sustainibility, bioetanol menurutnya juga dikejar sehingga bisa mengurangi impor bensin.

"Kemudian untuk diesel tahun ini selesai fase 2 Balikpapan, akan sale efisien. Yang jadi PR besar gasolin strip, bioentanol yang sudah dilakukan sudah sampai 20% atau seperti Brazil," ungkapnya.

"Dengan lapis-lapis tadi, kami berharap, bisa kuat dan survive dengan geopolitik yang berubah dari waktu ke waktu."


(rah/rah) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,20 Triliun di 2025