Trenggono Ungkap Terobosan di Kampung Nelayan: Pabrik Es Slurry Ice
Jakarta, CNBC Indonesia - Persyaratan ekspor produk perikanan ke berbagai negara kini semakin ketat. Tak hanya kualitas produk, negara tujuan ekspor juga menuntut sistem ketertelusuran (traceability) yang mampu memastikan asal-usul hingga proses penanganan ikan sebelum dipasarkan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjawab tuntutan tersebut, mulai dari membangun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), menerapkan prosedur baku budidaya, hingga memperkuat laboratorium pengujian mutu.
Menurut Trenggono, dari sisi perikanan tangkap, sistem ketertelusuran dibangun sejak ikan pertama kali ditangkap di laut. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah fasilitas slurry ice di Kampung Nelayan Merah Putih, agar kualitas ikan tetap terjaga sejak berada di atas kapal.
"Kalau dari perikanan tangkap, kita pembangunan Kampung Nelayan. Itu salah satunya menjamin ketertelusuran. Lalu kemudian di dalam Kampung Nelayan itu kita sediakan pabrik es yang namanya slurry ice. Ini sumber bahan bakunya dari laut," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, dikutip Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan slurry ice berbahan baku air laut membuat kesegaran ikan dapat dipertahankan lebih lama sehingga kualitasnya tetap terjaga hingga tiba di darat. Teknologi ini telah terbukti mampu menjaga mutu hasil tangkapan nelayan.
"Sumber bahan bakunya dari air laut yang kemudian dia bisa bertahan selama tiga hari di dalam cool box, dan ikan laut itu kalau esnya juga sumber bahan bakunya dari laut, dia jadi stabil, dia tidak terjadi proses pembusukan dan seterusnya. Nah ini sudah terbukti," jelasnya.
Selain didukung fasilitas rantai dingin, pengelolaan sistem tersebut juga akan diawasi oleh manajer Kampung Nelayan Merah Putih yang saat ini tengah direkrut pemerintah.
"Jadi artinya dari situ saja kita sudah jalankan, ini nanti akan diawasi dan dikelola oleh manajer Kampung Nelayan, yang sedang kita rekrut sekarang," ucap dia.
Tak hanya pada sektor penangkapan ikan, KKP juga memperketat sistem pengawasan di sektor budidaya. Trenggono mengatakan proses pengendalian dilakukan sejak air pertama kali masuk ke kolam budidaya, agar terbebas dari virus maupun penyakit.
"Dari perikanan budidaya kita sudah bikin model. Jadi kita yakinkan mulai dari intake kalau dia budidaya perikanan, katakan misalnya seperti kayak udang gitu, mulai dari intake airnya pun kita sudah jaga sedemikian rupa, sebelum dia masuk ke kolam budidaya. Sehingga kita pastikan dia harus terbebas dari virus, terbebas dari penyakit dan seterusnya," jelas Trenggono.
Menurut dia, seluruh tahapan tersebut telah menjadi prosedur baku dalam proses budidaya. Untuk memastikan standar mutu tetap terjaga, pemerintah juga membangun laboratorium di sejumlah wilayah sebagai bagian dari sistem pengawasan kualitas produk.
"Nah semua ini sudah menjadi prosedur baku flow proses daripada budidayanya itu. Jadi kita menjamin. Setelah semua, kemudian kita punya laboratorium. Kita desain, kita install laboratorium di beberapa titik ya, untuk menjamin bahwa mutu setiap produk yang dihasilkan itu sudah lolos dari mutu inspection kita," ungkapnya.
Trenggono menilai sistem tersebut menjadi jawaban atas tuntutan pasar global yang kini semakin mengedepankan aspek keamanan pangan dan ketertelusuran produk. Dengan sistem baru itu, asal-usul ikan hingga proses penanganannya dapat dipantau dengan lebih baik dibanding sebelumnya.
"Kalau dulu kan nggak terkontrol di situ, nah sekarang kita sudah terdeteksi," pungkasnya.
(dce) Add
source on Google