Trenggono Rombak Total Kampung Nelayan RI, Disulap Bak di Negara Maju
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tak hanya membangun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) sebagai kawasan permukiman bagi nelayan. Di balik proyek tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan model bisnis baru agar hasil tangkapan nelayan bisa langsung masuk rantai pasok ekspor.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, konsep tersebut telah diuji lebih dulu di Kampung Nelayan Merah Putih Binyeri, Biak, Papua. Hasilnya, pola pemasaran ikan nelayan berubah signifikan karena didukung fasilitas rantai dingin (cold storage), logistik, hingga bengkel kapal. Ada juga pabrik es, dermaga tambatan kapal, sentra kuliner, SPBU kapal, hingga taman tempat wisata.
Model seperti ini sudah digunakan banyak di negara-negara maju sebut saja di Jepang, Australia, hingga Korea Selatan.
"Nah jadi gini, dari model yang di Binyeri, itu ternyata yang semula dia menjual ikannya lewat pasar-pasar yang ada di situ gitu ya. Sekarang nggak lagi, ada kolektor di situ. Karena kualitas ikannya jadi bagus, karena di situ ada pabrik es yang kita bangun. Lalu kemudian mereka juga punya logistik ya, dia mudah untuk mendapatkan logistik perbekalan melaut," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Ia menuturkan, pemerintah juga melengkapi kawasan tersebut dengan fasilitas perbaikan kapal, pasokan bahan bakar, hingga cold storage. Dengan demikian, kualitas ikan tetap terjaga sejak ditangkap hingga dipasarkan.
"Lalu kalau kapalnya rusak juga mudah untuk diperbaiki, ada bengkelnya di situ dan seterusnya. Terus kemudian bahan bakar untuk mereka melaut segala macam juga mudah didapat di situ. Nah, sehingga ikan yang didapat ini fresh ya. Karena dia fresh, langsung bisa disimpan di dalam cold storage," ujarnya.
Trenggono menjelaskan, keberadaan fasilitas tersebut membuat kolektor sudah bersiaga di lokasi sehingga hasil tangkapan nelayan tidak lagi bergantung pada pasar tradisional.
"Nah, kolektornya di situ sudah ready di situ. Jadi setiap mereka pulang, kan one day fishing rata-rata, one day, two days gitu. Jadi mereka itu dua hari melaut atau sehari melaut, begitu kembali dia bawa ikannya langsung disimpan di cold storage dan seterusnya. Nah, dari situ kemudian dikumpulkan sama kolektor yang sudah ada, lalu diekspor, untuk kepentingan ekspor," tutur dia.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan fasilitas pengolahan agar nilai tambah produk perikanan semakin tinggi. Selain menjaga kualitas ikan menggunakan teknologi slurry ice, setiap kampung nelayan nantinya akan diarahkan memiliki fasilitas pengolahan sederhana.
"Nanti ke depan, kita harapkan dengan adanya manajer Kampung Nelayan ini yang mengelola dan seterusnya, di situ akan kita install lagi, mereka tentunya kita harapkan, nanti kita akan install namanya itu mini processing. Seperti kayak dia langsung divakum, dipacking dan seterusnya kayak gitu," ujar Trenggono.
Ia mengatakan, integrasi dari hulu hingga hilir tersebut diharapkan membuat produk perikanan Indonesia memiliki kualitas lebih baik sekaligus meningkatkan keterlacakan (traceability) produk.
"Harapannya pada waktu keluar di situ, tingkat ketertelusuran ikannya jadi lebih bagus, kemudian produk ikannya juga lebih fresh gitu ya, tidak seperti yang sekarang ini. Karena ini yang terjadi kan mereka menangkap, kesulitan esnya sehingga kan kualitas ikannya menjadi lebih jelek, dan seterusnya kayak gitu-gitu," katanya.
Model yang diuji di Binyeri itulah yang kini diperluas secara nasional. Trenggono mengungkapkan, dari target pembangunan 100 Kampung Nelayan Merah Putih tahap awal, sebanyak 65 titik telah selesai dibangun dan sudah dimanfaatkan masyarakat.
"100 titik itu sudah jadi 65 titi, tersebar di beberapa titik di Indonesia. Kemudian yang 35 titik lagi sedang pembangunan, diharapkan paling telat di Agustus ini selesai. Jadi tentu di akhir Agustus ini sudah 100 gitu ya," sebut dia.
Secara paralel, pemerintah juga mulai membangun 1.269 Kampung Nelayan Merah Putih tambahan pada tahun ini sehingga totalnya ditargetkan mencapai 1.369 titik pada akhir 2026.
"Nah, lalu paralel di tahun ini kita akan bangun 1.269 KNMP. Jadi totalnya nanti di akhir tahun itu harapannya akan berdiri 1.369 titik," kata Trenggono.
Menurut dia, operasional kampung nelayan tersebut juga akan didukung sumber daya manusia yang direkrut dan dilatih khusus. Setiap lokasi akan memiliki sekitar empat orang pengelola, mulai dari manajer hingga petugas operasional.
"Itu dilatih, dididik ya, lalu kemudian nanti akan diterjunkan di seluruh titik-titik yang dibangun itu," ujarnya.
Trenggono optimistis pembangunan ekosistem perikanan terpadu tersebut tak hanya meningkatkan kesejahteraan nelayan, tetapi juga memperkuat ekonomi pesisir. Bahkan, dari 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih saja pemerintah memperkirakan produksi ikan bisa mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun, sebelum target pembangunan 5.000 kampung nelayan pada 2029 direalisasikan.
(wur) Add
source on Google