Internasional

Pukulan Telak untuk Netanyahu: Iran Bertahan, Trump Berbalik Arah

luc, CNBC Indonesia
Kamis, 25/06/2026 07:05 WIB
Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato pada sidang ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat, 27 September 2024. (AP/Pamela Smith)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan dinilai tidak hanya mengguncang strategi Israel terhadap Teheran, tetapi juga berpotensi menghancurkan fondasi politik yang selama puluhan tahun dibangun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dilansir Reuters, Kamis (25/6/2025), sejumlah analis, mantan pejabat AS, dan diplomat menilai korban terbesar dari kesepakatan AS-Iran justru bisa jadi bukan strategi Israel menghadapi Iran, melainkan citra politik Netanyahu sebagai pemimpin Israel yang dianggap mampu membengkokkan kebijakan Washington sesuai kepentingannya dalam isu Iran.

Selama bertahun-tahun, Netanyahu membangun identitas politiknya di atas klaim bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin Israel yang mampu menjaga keselarasan strategis antara AS dan Israel terkait Iran. Dengan membangun hubungan erat dengan Partai Republik, Netanyahu memosisikan diri sebagai tokoh yang dapat memengaruhi presiden-presiden AS dari berbagai periode pemerintahan.


Ia secara konsisten menegaskan bahwa hanya tekanan militer berkelanjutan yang dapat menahan ambisi Teheran.

Pada puncak pengaruhnya, para diplomat bahkan menjulukinya sebagai "pembisik Amerika", yakni pemimpin Israel yang cukup mengangkat telepon untuk memastikan perhitungan strategis Washington sejalan dengan kepentingan Israel. Tidak ada perdana menteri Israel lain yang begitu sering berpidato di Kongres AS atau membangun modal politik sedemikian besar di sistem politik Amerika.

Namun, menurut para analis, kesepakatan sementara yang dicapai Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada Februari lalu menunjukkan bahwa narasi tersebut kini telah berbalik arah.

Alih-alih membentuk kebijakan Washington terhadap Iran, Netanyahu kini dinilai terpaksa menerima arah kebijakan yang ditentukan Presiden AS Donald Trump, yang makin mendorong penyelesaian diplomatik dan memandang keberatan Israel sebagai hambatan yang harus dikelola.

Di dalam negeri Israel, situasi Netanyahu juga dinilai makin sulit.

Mantan pejabat AS Dennis Ross mengatakan Netanyahu kini terjepit antara Presiden Trump yang ingin mengakhiri konflik dan basis politik domestiknya yang menolak berbagai bentuk konsesi, terutama terkait Lebanon.

Menurut Ross, jika Netanyahu memilih menarik diri dari konflik, ia berisiko menghadapi reaksi politik di dalam negeri. Sebaliknya, jika memilih meningkatkan eskalasi, ia berpotensi berkonfrontasi langsung dengan Washington.

Perang yang semula diharapkan Netanyahu akan memperkuat warisannya sebagai pemimpin yang menghadapi Iran justru bisa dikenang sebagai konflik yang meruntuhkan salah satu sumber utama kekuatan politiknya.

Dalam kondisi terisolasi secara internasional, dibatasi oleh sekutu terdekatnya sendiri, dan menghadapi pemilu pada musim gugur mendatang, aset politik yang selama ini menopang karier Netanyahu kini justru disebut telah berubah menjadi beban terbesarnya.

Pada awal perang melawan Iran, Netanyahu menjanjikan kemenangan mutlak. Namun hingga kini ia dinilai gagal mewujudkan runtuhnya sistem pemerintahan Iran, tidak berhasil mengalahkan Hizbullah di Lebanon, dan belum mampu menjamin kepulangan aman warga Israel yang tinggal di wilayah utara negara tersebut.

Mantan penasihat Netanyahu, Aviv Bushinsky, menilai dampak kesepakatan tersebut sangat besar bagi posisi politik sang perdana menteri.

"Kesepakatan AS-Iran adalah pukulan telak bagi Netanyahu," kata Bushinsky.

"Ia bukan hanya kalah dalam perang melawan Iran, tetapi juga kehilangan Trump sebagai teman. Kini ia tidak hanya terisolasi secara internasional, tetapi juga terjebak dalam perselisihan besar dengan Trump."

Dalam konferensi pers bulan ini, Netanyahu menggambarkan hubungannya dengan Trump sebagai hubungan antara dua mitra yang "sering sepakat dan terkadang tidak sepakat". Ia juga mengatakan telah terjadi kampanye sistematis yang bertujuan mengecilkan apa yang disebutnya sebagai "pencapaian besar" Israel terhadap Iran dan kelompok-kelompok sekutunya.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa hubungan Trump dan Netanyahu tetap kuat. Pejabat tersebut mengatakan pasukan militer Israel merupakan "mitra yang luar biasa" dalam perang yang telah "menghancurkan kemampuan militer rezim Iran."

Sementara itu, para analis menilai perbedaan antara Trump dan Netanyahu kini tidak lagi sekadar persoalan hubungan pribadi, melainkan perbedaan tujuan strategis yang makin jelas.

Trump berupaya mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik Timur Tengah, sementara Netanyahu tetap memandang tekanan berkelanjutan terhadap Iran dan Hizbullah sebagai kebutuhan vital bagi keamanan Israel. Washington diketahui telah bernegosiasi langsung dengan Teheran, memasukkan konflik Lebanon ke dalam kerangka perundingan yang lebih luas, serta membangun mekanisme penyelesaian sengketa gencatan senjata.

Menurut tiga sumber diplomatik kawasan, langkah-langkah tersebut makin menyingkirkan Israel dari sejumlah keputusan penting.

Negara yang sebelumnya memandang Netanyahu sebagai perantara yang tak tergantikan kini, menurut sumber-sumber tersebut, mulai melihatnya sebagai hambatan bagi kesepakatan yang ingin dipertahankan Washington.

Trump juga beberapa kali secara terbuka mengkritik operasi militer Israel di Lebanon. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menekankan bahwa hubungan AS-Israel memiliki batasan tertentu.

Ia memperingatkan para pengkritik kesepakatan di Israel agar tidak "menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih mereka miliki di dunia."

Meski demikian, dua pejabat Israel yang mengetahui pandangan Netanyahu mengatakan sang perdana menteri tidak terlalu khawatir bahwa komentar Trump dan Vance akan berubah menjadi perubahan kebijakan konkret, seperti penundaan pengiriman senjata ke Israel, meskipun operasi militer di Lebanon terus berlanjut.

Trump sendiri telah menunjukkan kesediaannya untuk mengesampingkan prioritas Israel jika dianggap bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat.

Dalam wawancara televisi bulan ini, Trump mengatakan bahwa apabila ia meminta Netanyahu "melakukan sesuatu, dia melakukannya."

Direktur Program Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Iran kemungkinan akan memanfaatkan celah yang mulai muncul antara Washington dan Tel Aviv.

Menurutnya, Teheran akan berusaha menggambarkan setiap operasi militer Israel di Lebanon sebagai upaya menggagalkan diplomasi Trump, sehingga Gedung Putih dipaksa memilih antara mendukung Israel atau menjaga kesepakatan dengan Iran.

Dampak kesepakatan AS-Iran juga dinilai menyentuh inti strategi jangka panjang Netanyahu.

Ia mempertaruhkan masa depan politiknya pada dua tujuan utama, yakni melemahkan atau bahkan menggulingkan kepemimpinan Iran serta mewujudkan normalisasi hubungan Israel dengan Arab Saudi melalui perluasan Kesepakatan Abraham.

Namun kedua target tersebut belum terwujud. Para pemimpin Iran justru keluar dari konflik dalam posisi yang masih bertahan, sementara normalisasi hubungan dengan Arab Saudi masih jauh dari kenyataan.

Di kawasan Timur Tengah, perubahan arah mulai terlihat. Negara-negara yang sebelumnya diharapkan Netanyahu makin dekat dengan Israel, terutama Arab Saudi, kini cenderung lebih berhati-hati. Mereka memperlambat proses normalisasi hubungan dengan Israel sembari membuka kembali jalur komunikasi dengan Teheran.

Sumber-sumber Teluk mengatakan logika yang selama ini menjadi dasar Kesepakatan Abraham mulai terkikis akibat perang Gaza, belum terselesaikannya isu aneksasi Tepi Barat, serta meningkatnya persepsi bahwa Israel di bawah Netanyahu justru lebih banyak menimbulkan risiko dibandingkan manfaat dalam tatanan regional yang baru.

Seorang pejabat Iran bahkan menilai upaya Netanyahu memperluas Kesepakatan Abraham telah mengalami kemunduran karena sejumlah negara kini berusaha mencari posisi dalam kerangka regional baru yang lebih dekat dengan Iran.

"Ini bukan hanya kemenangan bagi Iran. Ini adalah kegagalan bagi Netanyahu," kata pejabat tersebut.

Ia menambahkan bahwa Republik Islam Iran bukan hanya mampu bertahan dari perang, tetapi juga keluar dari konflik sebagai pemain regional yang lebih berpengaruh dibanding sebelumnya.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump TTD Perjanjian Damai Digital Iran, Netanyahu Bersuara