Tak Ada Ajakan Perang, Mengapa Korut Mati-matian Bikin Senjata Nuklir?
Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara makin memperjelas arah kebijakan pertahanannya dengan menempatkan senjata nuklir sebagai pilar utama keamanan nasional. Dalam rapat Partai Buruh yang berkuasa yang berakhir pekan ini, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan bahwa perluasan kekuatan nuklir negaranya secara berkelanjutan merupakan cara terbaik untuk menghadapi dunia yang menurutnya semakin tidak stabil dan berbahaya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pesan keras yang belakangan terus disampaikan Pyongyang. Dalam beberapa bulan terakhir, Kim berjanji akan melengkapi kapal perang dengan rudal nuklir, menggandakan produksi material senjata strategis, serta memperluas arsenal nuklir Korut dengan laju yang disebutnya sebagai pertumbuhan "secara eksponensial".
Meski Korut kerap dituduh melebih-lebihkan kemampuan militernya, para analis menilai fokus utama kini bukan lagi apakah negara itu memiliki senjata nuklir, melainkan mengapa Pyongyang merasa membutuhkan jumlah yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Menurut para pengamat, strategi tersebut menunjukkan bahwa Korut sedang membangun kekuatan nuklir yang cukup besar dan tersebar luas sehingga tidak mudah dihancurkan melalui serangan militer maupun negosiasi diplomatik.
"Itu adalah kekuatan yang sangat besar dan sangat tersebar sehingga tidak ada satu serangan pun yang dapat menghilangkannya, dan tampaknya semakin sulit untuk dibongkar melalui diplomasi," kata Peter Ward, peneliti di Sejong Institute yang berbasis di Seoul, dilansir The Guardian, Rabu (24/6/2026).
Ward menilai Korea Utara memanfaatkan penyebaran arsenal nuklirnya untuk melindungi diri dari kemungkinan intervensi asing seperti yang terjadi terhadap Iran.
"Kita tidak tahu di mana semuanya berada. Kita tidak tahu apa yang mungkin mereka lakukan. Dan ancaman mereka sengaja dibuat samar," ujarnya.
Pelajaran dari Iran
Serangan yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Iran baru-baru ini disebut semakin memperkuat keyakinan yang telah lama dianut Pyongyang, yakni negara yang berhenti hanya pada tahap ambang kepemilikan senjata nuklir justru mengundang serangan, bukan menciptakan efek pencegahan.
"Sebuah negara yang tetap berada di tingkat ambang sedang menempatkan target besar di punggungnya sendiri," kata Ward.
Pandangan tersebut diyakini menjadi salah satu alasan mengapa Kim Jong Un terus mendorong pembangunan kemampuan nuklir yang lebih besar dan lebih kompleks.
Dirancang untuk mampu bertahan dari serangan pertama musuh, arsenal Korea Utara kini mencakup peluncur bergerak berbasis rel dan jalan raya, fasilitas bawah tanah yang diperkuat, serta armada kapal selam yang terus berkembang.
Tahun ini Korea Utara mulai menguji coba rudal jelajah berkemampuan nuklir dari kapal perusak baru berbobot 5.000 ton. Pada Rabu lalu, Kim juga berjanji bahwa negaranya akan membangun dua kapal perang tambahan setiap tahun selama lima tahun ke depan.
Para analis mengatakan Pyongyang meyakini bahwa mereka membutuhkan persenjataan yang jauh lebih besar untuk menandingi kekuatan militer yang dianggap mengelilingi Korea Utara.
"Ia menghadapi payung nuklir Amerika Serikat, pasukan gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan, dan kerja sama trilateral dengan Jepang," kata Hong Min, peneliti senior di Korea Institute for National Unification.
"Itu sudah melampaui pencegahan minimum."
Nuklir Masuk Konstitusi
Peran senjata nuklir di Korea Utara kini bahkan telah diabadikan dalam konstitusi negara tersebut.
Revisi konstitusi yang dilakukan awal tahun ini memberikan Kim Jong Un komando konstitusional atas pasukan nuklir serta kewenangan untuk mendelegasikan otoritas peluncuran kepada komando lain.
Langkah tersebut dipandang para analis sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan serangan yang menargetkan kepemimpinan tertinggi negara.
Menurut Lee Ho Ryung, peneliti senior di Korea Institute for Defense Analyses, Pyongyang sedang berusaha mengukuhkan gagasan bahwa denuklirisasi bukan lagi opsi yang berlaku bagi Korea Utara.
"Maksud mereka adalah bahwa ini bukan sesuatu yang bisa dikurangi melalui negosiasi saat ini," katanya.
Sementara itu, posisi Korea Utara juga dinilai makin kuat karena hubungan militernya yang makin erat dengan Rusia dan membaiknya hubungan strategis dengan China. Kedua hubungan tersebut memberikan perlindungan diplomatik tambahan bagi Pyongyang dari tekanan internasional yang sebelumnya menjadi faktor penting dalam mendorong perundingan.
Meskipun memiliki kepentingan masing-masing, Rusia, China, dan Korea Utara sama-sama memiliki kepentingan untuk membatasi pengaruh AS.Dalam situasi saat ini, para analis memperkirakan Washington dan Seoul akan tetap mempertahankan denuklirisasi sebagai tujuan resmi.
Namun dalam praktiknya, fokus kebijakan kemungkinan akan bergeser menuju pengendalian senjata, yakni membatasi dan secara bertahap mengurangi jumlah arsenal nuklir Korea Utara, bukan menghilangkannya sepenuhnya.
Lee Ho Ryung menilai pendekatan tersebut mungkin menjadi satu-satunya opsi realistis yang tersisa.
"Pada akhirnya, mungkin tidak ada jalan lain," katanya.
(luc/luc) Add
source on Google