Belum Ada "Panggilan" Perang, Kim Jong Un Ngebut Bikin Senjata Nuklir
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan komitmennya untuk mempercepat penguatan kemampuan nuklir negaranya dengan laju yang disebutnya "eksponensial". Pernyataan itu disampaikan saat ia mengunjungi fasilitas pengayaan uranium baru yang lokasinya dirahasiakan.
Kim mengatakan Korea Utara telah berhasil meningkatkan cadangan material nuklir untuk keperluan senjata lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa penguatan arsenal nuklir menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan global.
"Potensi ancaman dan krisis jangka panjang yang tidak dapat diprediksi semakin menyoroti urgensi dan tanggung jawab misi bersejarah untuk meningkatkan baik dalam kualitas maupun kuantitas, serta secara berkelanjutan dan dipercepat memperkuat pencegahan perang nuklir," kata Kim seperti dikutip KCNA, Jumat (5/6/2026).
Foto-foto yang dirilis KCNA memperlihatkan Kim bersama sejumlah pejabat tinggi mengunjungi fasilitas pengayaan uranium baru. Salah satu gambar yang sebagian disamarkan tampak menunjukkan Kim sedang meninjau desain hulu ledak nuklir dalam sebuah pertemuan yang membahas penguatan kemampuan pencegahan nuklir Korea Utara.
Langkah Pyongyang memperbesar stok senjata nuklir dan sistem peluncurnya terjadi di tengah memburuknya hubungan dengan Korea Selatan. Pemerintah Korea Utara kini tidak lagi mengakui Seoul sebagai mitra potensial untuk reunifikasi Semenanjung Korea di masa depan.
Berdasarkan berbagai estimasi terbuka, Korea Utara saat ini diperkirakan memiliki sedikitnya 60 hulu ledak nuklir. Jumlah tersebut masih jauh dibawah persediaan Rusia dan Amerika Serikat yang masing-masing memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak.
Sejumlah analis menilai Korea Utara mengambil pelajaran dari konflik yang melibatkan negara-negara non-nuklir yang menjadi sekutunya. Serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu serta ketegangan berkelanjutan antara Washington dan Teheran dinilai semakin memperkuat keyakinan Kim bahwa senjata nuklir merupakan alat pencegah paling efektif terhadap tekanan militer dari luar.
Selain mengembangkan senjata nuklir, Korea Utara juga terus memperkuat kekuatan militernya secara konvensional. Menurut laporan terbaru International Institute for Strategic Studies (IISS), negara tersebut memiliki sekitar 1,1 juta personel aktif, menjadikannya salah satu angkatan bersenjata terbesar di dunia.
Peningkatan kemampuan militer Korea Utara mendorong Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya di kawasan Asia-Pasifik mempercepat pengembangan sistem pertahanan rudal, kemampuan serangan jarak jauh, hingga teknologi senjata hipersonik.
Pakar pengendalian senjata dari IISS, Daniel Salisbury, menilai program persenjataan Pyongyang masih menyisakan banyak ketidakpastian terkait skala ambisinya. Menurutnya, sejumlah perkiraan publik menunjukkan Korea Utara mungkin telah memproduksi material yang cukup untuk hingga 90 hulu ledak nuklir dan kemungkinan telah merakit sekitar 50 unit.
Sementara itu, perhatian internasional juga tertuju pada fasilitas pengayaan uranium baru di Yongbyon. Keberadaan fasilitas tersebut pertama kali diungkap Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sekitar setahun lalu. Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, pada Juni lalu menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas baru itu merupakan bagian dari perluasan program nuklir Korea Utara di kompleks Yongbyon, salah satu pusat utama penelitian senjata nuklir negara tersebut.
Peneliti dari Middlebury Institute of International Studies, Jeffrey Lewis dan Sam Lair, sebelumnya menyebut Korea Utara terus memperluas kapasitas produksi uranium yang diperkaya dengan menambah jumlah sentrifugal dalam area yang lebih efisien. Lewis bahkan memperkirakan fasilitas baru yang terlihat dalam foto KCNA dapat menggandakan produksi uranium yang diperkaya tinggi atau highly enriched uranium (HEU).
Pada hari yang sama dengan kunjungan ke fasilitas tersebut, Kim juga memimpin pertemuan penting terkait penguatan kemampuan nuklir nasional. Ia mengatakan pemerintah telah menetapkan prioritas untuk menjalankan rencana ambisius yang bertujuan meningkatkan kekuatan nuklir negara secara eksponensial.
"Kami telah mengonfirmasi urutan prioritas untuk menerapkan rencana masa depan yang ambisius yang dirancang untuk memperkuat kekuatan nuklir negara kami dengan laju eksponensial," ujar Kim.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa pekan setelah Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, dalam pertemuan di Beijing kembali menegaskan tujuan bersama untuk mewujudkan denuklirisasi Korea Utara. Namun, sinyal dari Pyongyang menunjukkan arah yang berlawanan.
Pekan lalu, Korea Utara kembali menegaskan bahwa denuklirisasi negara tersebut "tidak akan pernah terjadi". Sikap itu memperlihatkan Kim saat ini lebih fokus memperkuat hubungan strategis dengan Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dibanding membuka kembali pembicaraan pengendalian senjata dengan Washington.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]