600 Warga RI Belajar Bikin Baterai Mobil Listrik Langsung di China
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia Battery Corporation (IBC) mengungkapkan sempat mengirimkan ratusan tenaga kerja dalam negeri untuk mengikuti pelatihan langsung di China. Hal itu menyusul pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di tanah air.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan bahwa penyiapan sumber daya manusia (SDM) berkualitas menjadi prioritas perusahaan dalam jangka pendek. Ia menyebutkan ada 600 SDM yang telah dikirimkan untuk "belajar" di China.
Menyusul, upaya tersebut sejalan dengan target operasional salah satu ekosistem baterai EV milik perusahaan patungan IBC dengan CATL yakni PT CATIB, di Karawang, Jawa Barat.
"Contohnya di CATIB ada 600 karyawan Indonesia yang dikirimkan ke China untuk mendapatkan pendidikan selama 6 bulan langsung di industrinya. Dan kami lihat di sana memang proses pembelajarannya sangat dalam jadi tidak hanya training di kelas tapi sampai mereka bisa membuat SOP sendiri," ujarnya dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/6/2026).
Program pelatihan tersebut difokuskan untuk mengisi kesenjangan keahlian antara penelitian dan kebutuhan di sisi produksi. Harapannya, para pekerja mampu memahami seluruh aspek teknis mulai dari pengelolaan material hingga proses perakitan sel baterai secara mandiri.
"Nah ini adalah transfer knowledge yang sangat penting dan nanti akan kita iringi dengan upaya-upaya lain yang terkait dengan peningkatan kapasitas teknologinya," tambahnya.
Memang, penguatan kapasitas SDM tersebut dilakukan seiring dengan target operasional pabrik PT CATIB di Karawang yang direncanakan mulai berproduksi secara komersial pada Juli 2026.
Fasilitas tersebut merupakan hasil kolaborasi antara IBC dengan raksasa baterai asal China, CATL, yang diproyeksikan menjadi pusat produksi baterai berbasis nikel untuk pasar domestik maupun global.
"Nah bagaimana membentuk SDM di skala industri ini maka mereka harus langsung terjun ke dalam industrinya. Ketika industrinya belum available akan sulit. Nah kami akhirnya menggunakan setiap kerja sama dengan mitra global ini sebagai wadah untuk pengembangan SDM tadi," tandasnya.
Pabrik baterai EV mulai produksi Juli 2026
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa proyek pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle) di Karawang, Jawa Barat akan tuntas pada akhir Juli 2026 ini.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan proyek itu merupakan salah satu program hilirisasi strategis nasional yang telah dicanangkan pemerintah. Hal itu dia sampaikan setelah melaporkan perkembangan terbaru mengenai program hilirisasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana.
"Ya tadi kami melakukan rapat dengan Bapak Presiden. Yang pertama adalah untuk mengevaluasi daripada program hilirisasi. Karena beberapanya sudah jalan, kami juga melapor kepada Bapak Presiden bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil yang kerjasama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan Insya Allah akan diresmikan nanti di bulan Juli akhir," ujar Bahlil di Istana, dikutip Selasa (23/6/2026).
Selain membahas perkembangan hilirisasi, Bahlil juga melaporkan kondisi ketahanan energi nasional kepada Presiden. Ia menyebut cadangan energi Indonesia saat ini berada pada level yang aman. "Yang kedua, kami juga melakukan rapat dengan Presiden untuk membahas tentang energi kita. Dan energi kita akan bisa ketahanan energi kita rata-rata di atas 20 hari minimum," katanya.
Pabrik baterai terintegrasi
Sebagaimana diketahui, Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia. Hal itu didukung dengan besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.
Proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp dan Lygend.
Adapun, total investasi awal keseluruhan proyek baterai terintegrasi hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar atau setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).
Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.
Proyek industri hulu
- JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.
- JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2027 mendatang.
- JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
Proyek industri hilir
- JV 4: Proyek material baterai yang akan memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal berproduksi pada tahun 2028 mendatang.
- JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini memiliki target awal mulai berproduksi pada tahun 2026 untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.
- JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapasitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini memiliki target awal tahun 2031 mendatang.
(dem/dem) Add
source on Google