Internasional

Trump Ancam Serang Iran Usai Teken MoU Gencatan Senjata, Kenapa Lagi?

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 18/06/2026 13:10 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump menunjuk jarinya saat rapat kabinet di Ruang Kabinet di Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 27 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Ancaman itu disampaikan meski kedua negara telah menandatangani perjanjian gencatan senjata sementara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.

"Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya ingin mereka menghormati perjanjian itu," kata Trump dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 di Prancis, Rabu (18/6/2026).

Ia bahkan menegaskan bahwa AS siap kembali menyerang jika menilai Iran tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.


Ancaman tersebut muncul setelah Washington dan Teheran merilis nota kesepahaman berisi 14 poin yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari guna membuka jalan bagi perundingan menuju perdamaian permanen. Dokumen itu telah ditandatangani secara digital oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta dinyatakan mulai berlaku pada Rabu oleh Kementerian Luar Negeri Iran.

Meski demikian, seorang pejabat senior AS mengatakan kedua pihak masih memiliki ruang untuk membatalkan kesepakatan hingga tercapai perjanjian yang bersifat mengikat secara penuh.

Kesepakatan tersebut mencakup penghentian perang di seluruh front, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi internasional, pencairan aset Iran, serta rencana rehabilitasi ekonomi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.310 triliun.

Di sisi lain, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, sejumlah isu sensitif masih belum terselesaikan, termasuk kepemilikan uranium yang telah diperkaya, kemampuan rudal balistik Iran, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok militan anti-Israel di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan Trump juga menandai perubahan sikap dibandingkan awal perang. Jika sebelumnya ia berjanji menghancurkan seluruh kemampuan rudal Iran, kini ia mengakui bahwa keberadaan rudal balistik bagi Iran tidak sepenuhnya tidak dapat diterima.

"Jika negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memilikinya," ujar Trump.

Perjanjian tersebut mendapat sambutan positif dari para pemimpin negara-negara G7. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Italia, Kanada, dan AS menegaskan pentingnya jalur diplomasi untuk memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir serta menjaga stabilitas kawasan.

Meski demikian, ketegangan regional belum sepenuhnya mereda. Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon masih terlibat aksi saling serang setelah kesepakatan diumumkan. Bahkan Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya terlalu agresif dalam operasi militer di Lebanon.

"Netanyahu orang yang baik, tetapi kadang sedikit terlalu bersemangat. Saya katakan kepadanya, Anda bisa sedikit lebih lembut," kata Trump.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Acuhkan Ancaman Iran, Negosiasi Damai di Ujung Tanduk