Internasional

Proyek Menantu Presiden Diamuk Warga, Pagar Besi-Kawat Duri Jebol

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 16/06/2026 07:45 WIB
Foto: Para pengunjuk rasa yang mengatakan tanah mereka telah diambil secara tidak adil, merobohkan pagar tempat resor wisata akan dibangun di tepi pantai Adriatik, di Rrjoll, dekat Shkodra, Albania, 13 Juni 2026. (REUTERS/Florion Goga)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang demonstrasi menentang pembangunan proyek wisata mewah di sepanjang kawasan pesisir pantai Albania berujung pada aksi perusakan massal yang anarkis pada Sabtu, (13/06/2026). Sekitar 200 pengunjuk rasa nekat merobohkan pagar pembatas besi dan kawat berduri yang mengelilingi lokasi pembangunan resor bintang lima tersebut.

Aksi kemarahan publik ini meluas setelah warga setempat memprotes rencana pembangunan resor mewah yang didukung oleh perusahaan milik Jared Kushner. Pengusaha properti tersebut merupakan menantu dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di mana proyeknya dinilai merusak area konservasi lingkungan di dekat Vlora yang menjadi habitat burung pelikan dan penangkaran penyu.

"Protes tidak akan berhenti sampai warga desa Rrjoll mendapatkan kompensasi yang adil. Kami adalah 200 keluarga yang tanahnya telah disita secara sepihak oleh pemerintah," ketus Zeke Nikolle Shullani, salah satu pemilik lahan yang telah berdemo selama beberapa bulan.


Kemarahan warga di wilayah Rrjoll ini dipicu oleh adanya proyek pembangunan resor wisata mewah lain yang dituding berdiri di atas lahan sitaan milik masyarakat adat setempat. Sambil mengibarkan bendera nasional Albania, ratusan warga meneriakkan yel-yel revolusi dan terlibat bentrok fisik dengan aparat kepolisian yang mencoba menghadang aksi perusakan pagar.

Pihak investor lokal Albania diketahui mendapatkan hak istimewa berupa status "investor khusus" dari pemerintah pusat untuk menggarap kawasan hutan pinus dan pantai pasir putih tersebut. Keistimewaan regulasi inilah yang dinilai warga sebagai bentuk ketidakadilan hukum dan pengabaian hak ekonomi masyarakat lokal demi keuntungan sepihak korporasi besar.

"Apa yang terjadi di negara ini adalah sebuah kegilaan. Mereka menolak berkonsultasi dan mengira bisa merebut semua kekayaan alam ini tanpa pertumpahan darah?" kecam pemilik lahan lainnya, Nikolin Markpalaj, mengenai sikap arogan pihak pengembang.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Menteri LH Serukan Tobat Ekologis