MARKET DATA

Sangbu-Sangjo Pertahanan Ala Korea & RI: Jet KF-21 Siap Tempur

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
15 June 2026 07:40
Jet tempur canggih patungan Korea Selatan-Indonesia, KF-21/IF-21 Boramae sukses uji terbang perdana pada 19 Juli 2022. (Dok: Angkatan Udara Republik Korea )
Foto: Jet tempur canggih patungan Korea Selatan-Indonesia, KF-21/IF-21 Boramae sukses uji terbang perdana pada 19 Juli 2022. (Dok: Angkatan Udara Republik Korea )

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek pembangunan jet tempur KF-21 Boramae antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi simbol kuatnya kerja sama pembangunan alat utama sistem pertahanan atau alutsista kedua negara.

Kedua negara sama-sama mengimplementasikan semangat leluhur dalam memperkuat kerja sama, tak terkecuali di sektor pertahanan itu. Di Korea Selatan, prinsip kerja sama ini dikenal dengan istilah sangbu-sangjo, sedangkan di Indonesia gotong-royong.

KF-21 yang sudah digarap Korsel bersama Indonesia sejak 2015 telah memasuki tahap akhir pengembangan dan sudah mendapatkan status siap tempur pada Mei 2026 alias layak digunakan dalam operasi militer.

Indonesia pun telah terjadwal menerima 6 kapal prototipe jet tempur itu, setelah Kementerian Pertahanan RI dan Korsel memfinalisasi kesepakatan akhir pengembangan proyek bersama pada Juni 2026.

"Pada pekan ini delegasi kedua negara akan bertemu untuk pembahasan detail lebih lanjut," kata Direktur dan Kepala Internasional Business Development Wilayah Asia Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd Junhyun Jo di sela agenda Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation (KF) dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Seoul, dikutip Senin (15/6/2026).

Porsi kontribusi keuangan Indonesia yang telah disepakati untuk program pengembangan bersama adalah sebesar 600 miliar KRW atau setara Rp 7,02 triliun (kurs Rp 11,71/KRW), yang berkaitan dengan enam purwarupa KF-21.

Kontribusi keuangan Indonesia ini setara 6% pada 2025, hasil penyusutan dari sebelumnya 20%. Sisa investasi yang mulanya menjadi porsi pemerintah Indonesia sebesar 14% itu pun telah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Korea Selatan bersama dengan Korea Aerospace Industries (KAI).

Meski adanya penyusutan porsi kontribusi itu, Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam program pengembangan bersama KF-21.

Menurut KAI, sebagai bagian dari paket transfer teknologi dan kerja sama industri, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) diharapkan dapat memasok material/komponen yang berkaitan dengan suku cadang KF-21.

Senior Manager & Team Leader International Business Develompet Asia Team 2 KAI Shaun Seonghee Park mengatakan, sebelum proses pengiriman atau transfer prototipe pertama KF-21 dilakukan, sebetulnya juga masih perlu dilakukan modifikasi tertentu pada pesawat supaya menyesuaikan dengan kebutuhan industri di Indonesia.

"Prototipe tersebut ditujukan semata-mata untuk pengujian dan validasi proses pengembangan pesawat, tujuan utama dari program pengembangan bersama bukanlah produksi prototipe itu sendiri," tegasnya.

Di luar transfer prototipe itu, KAI dan Indonesia sedang membahas pengadaan sebanyak 16 pesawat dari rencana awal 48 pesawat. Pengaturan pengadaan ini pun terpisah dari kemitraan pengembangan KF-21 yang masuk dalam paket transfer prototipe.

Bagi Korea Selatan, pengembangan KF-21 sangat strategis, dan menjadi simbol kemajuan industri pertahanannya, meski juga telah mampu membangun kekuatan kapal selam dan armada tempur maritim bersama Kanada.

Ketua Asosiasi Persahabatan Anggota Parlemen Korea Selatan-Indonesia, Kim Gi-Hyeon mengatakan, saat adanya masalah terkait transfer teknologi dan komitmen porsi investasi yang tidak mulus, pengembangan proyek jet tempur dengan Indonesia itu bisa dikatakan tidak berjalan semestinya.

Apalagi, muncul isu pula bahwa pemerintah Indonesia lebih memilih pembelian jet tempur dari Eropa, ketimbang mempertegas komitmen pembelian KF-21 yang telah dikembangkan bersama.

"Berdasarkan informasi yang saya terima, Indonesia sempat mempertimbangkan dua pilihan, yaitu membeli KF-21 atau pesawat tempur buatan Eropa. Setelah melalui berbagai kajian, Indonesia akhirnya memutuskan untuk membeli pesawat tempur Eropa. Karena itu, saya harus mengatakan bahwa kerja sama terkait KF-21 memang tidak berjalan dalam lintasan yang sangat sukses," tuturnya.

Kendati begitu, Kim menekankan, sebagai negara kekuatan menengah atau middle power, Indonesia dan Korea tetap perlu memperkuat kerja sama di bidang pertahanan, bukan hanya bidang lain seperti ekonomi. Ini penting untuk memastikan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China tidak bertindak semena-mena, melanggar kedaulatan negara lain, atau melakukan agresi di tingkatan global.

"Dalam situasi dunia yang semakin tidak menentu seperti sekarang, menjadi semakin penting bagi setiap negara untuk memiliki kemampuan mempertahankan dirinya sendiri, menjaga kedaulatannya, serta menguasai teknologinya sendiri," papar Kim.

"Oleh karena itu, seperti yang telah saya sampaikan, saya meyakini bahwa akan sangat menguntungkan bagi Indonesia untuk memperkuat kerja samanya dengan Korea," ujarnya.

Kim memastikan, Korea Selatan juga memiliki sistem kerja sama yang tidak hanya berfokus pada transfer teknologi, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan talenta agar negara mitra mampu mengoperasikan serta mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri.

Sementara itu, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Korea Selatan Cecep Herawan memastikan, kerja sama kedua belah pihak terkait pengembangan KF-21 akan terus dilanjutkan pemerintah Indonesia, meski dalam perjalanannya, ada tudingan beberapa insinyur Indonesia yang terlibat dalam pengembangan mencuri atau mengambil data yang sensitif.

"Tapi yang terpenting adalah di sini ada yang disebut dengan transfer dari know-how dan juga berkontribusi pada pengembangan SDM kita di bidang industri pertahanan. Korea memang belajar industri pertahanan dari Amerika. Dan kita belajar industri pertahanan yang sudah dipelajari Korea dari Amerika, ke Korea," ucap Cecep.

Cecep juga menegaskan, pemerintah Indonesia akan melunasi seluruh porsi kontribusi pengembangan proyek KF-21 pada bulan ini, supaya 6 prototipe jet tempur itu bisa segera ditransfer ke dalam negeri.

"Mudah-mudahan di akhir bulan Juni ini sudah selesai semua itu. Namun, detailnya saya belum tahu, tapi yang saya pahami sudah disepakati," tegasnya.

Terlepas dari kerja sama pengembangan jet tempur, Cecep menekankan, Indonesia juga menjalin kemitraan dengan Korea terkait dengan industri perkapalan. Korea pun menurutnya tak segan untuk berinvestasi senilai Rp 1 miliar dengan melatih tenaga kerja Indonesia supaya memiliki standar kualitas bidang maritim Korea Selatan.

"Bersama industri perkapalan Korea, kita juga berhasil membangun pelatihan vokasi berstandar Korea di Indonesia. Nilanya kalau tidak salah sekitar Rp 1 miliar," paparnya.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Media China Sorot Menhan Jepang ke Indonesia, Katakan Ini


Most Popular
Features