Cegah Kenaikan Harga Obat, BPOM Tekankan Hal Ini
Jakarta, CNBC Indonesia -Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan terhadap industri farmasi nasional yang masih bergantung pada impor bahan baku obat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan memicu kenaikan harga obat di pasaran.
Merespons situasi tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengambil langkah cepat untuk membantu industri farmasi menekan biaya produksi sekaligus menjaga agar masyarakat tetap memperoleh akses terhadap obat yang aman, bermutu, dan terjangkau.
Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan masyarakat menjadi korban gejolak ekonomi global.
"BPOM tidak bisa mengendalikan nilai tukar rupiah, tetapi BPOM bisa mengambil langkah-langkah regulasi untuk membantu industri farmasi menekan biaya produksi. Tujuan akhirnya adalah menjaga agar harga obat tetap terkendali dan masyarakat tetap terlindungi," kata Taruna dikutip Jumat (12/6/2026).
Sebagai langkah konkret, BPOM memberikan relaksasi regulasi terhadap perpindahan sumber bahan baku obat dari satu negara ke negara lain. Kebijakan ini memungkinkan industri farmasi memperoleh bahan baku yang lebih kompetitif tanpa harus menghadapi proses perizinan yang panjang dan biaya pengujian yang besar, sepanjang standar mutu, keamanan, dan khasiat tetap terpenuhi.
Selain itu, BPOM juga memberikan kemudahan penyesuaian kemasan produk agar industri dapat melakukan efisiensi biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk yang diterima masyarakat.
Taruna menjelaskan bahwa BPOM telah mengundang dan berdialog langsung dengan pelaku industri farmasi nasional guna mendengar berbagai kendala yang mereka hadapi akibat pelemahan rupiah dan meningkatnya biaya impor bahan baku. Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi penting agar keberlangsungan industri farmasi nasional tetap terjaga tanpa membebani masyarakat dengan kenaikan harga obat yang berlebihan.
"Industri farmasi harus tetap sehat karena mereka menjaga ketersediaan obat bagi masyarakat. Namun masyarakat juga harus tetap mendapatkan obat dengan harga yang terjangkau. Di sinilah negara harus hadir mencari titik keseimbangan," ujarnya.
BPOM juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai otoritas pengawas obat di tingkat internasional guna memastikan pasokan bahan baku dan rantai distribusi obat tetap berjalan dengan baik di tengah dinamika global.
Taruna menilai situasi saat ini harus menjadi momentum untuk mempercepat kemandirian farmasi nasional, khususnya dalam pengembangan industri bahan baku obat dalam negeri.
"Ketahanan kesehatan tidak boleh bergantung pada kurs. Semakin kuat industri farmasi nasional dan semakin mandiri bahan baku obat kita, semakin terlindungi masyarakat Indonesia dari gejolak ekonomi global," tegasnya.
Melalui berbagai langkah tersebut, BPOM berharap stabilitas pasokan obat nasional tetap terjaga dan potensi kenaikan harga obat dapat ditekan sehingga masyarakat tetap memperoleh akses kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
(dpu/dpu) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]