Harga Pertamax Naik Waspada Migrasi, Gimana Kuota Pertalite?

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 12/06/2026 13:55 WIB
Foto: Antrean pembeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Ciputat Raya, Tangerang Selatan, Rabu (10/6/2026) malam. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah mengantisipasi potensi pergeseran atau migrasi konsumen dari bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite seiring dengan kenaikan harga beberapa hari lalu.

Memang, potensi tersebut peralihan penggunaan ke BBM Pertalite muncul seiring tingginya disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite.

Atas hal itu, pemerintah memperketat pengawasan terhadap realisasi kuota Pertalite guna menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan beban fiskal negara. Adapun kuota Pertalite yang ditetapkan untuk tahun ini sebesar 29,2 juta kiloliter (kl).


Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga untuk memantau tren konsumsi harian pasca penyesuaian harga. Ia menyebut pemantauan dalam dua hari terakhir menunjukkan tingkat perpindahan konsumen antarjenis BBM tersebut masih berada dalam batas aman.

"Itu juga fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada kemungkinan besar pergeseran. Tadi kami sudah berdiskusi dengan Biro Pertamina Patra Niaga. Alhamdulillah tidak terlalu besar shiftingnya," katanya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Jumat (12/6/2026).

Untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi BBM bersubsidi, kata Anggia, Kementerian ESDM akan memperkuat pengawasan terhadap distribusi dan penyaluran BBM bersubsidi. Salah satu instrumen yang saat ini digunakan adalah sistem QR Code dalam pembelian BBM subsidi.

"Dan antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Misalnya saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya, walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini. Namun pemerintah, Menteri ESDM sudah meminta untuk Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," jelasnya.

Kementerian ESDM menekankan pentingnya kesadaran publik agar menggunakan BBM sesuai dengan hak dan peruntukannya guna menjaga ketahanan energi nasional. Pemerintah berkomitmen untuk tetap menahan harga Pertalite agar tidak naik demi melindungi daya beli kelompok masyarakat paling rentan.

"Yang paling penting kesadaran dari masyarakat yang tumbuh. Mana yang haknya, mana yang bukan haknya, itu sih yang lebih penting. Agar kita bisa sama-sama survive," tandasnya.

Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menggunakan energi dan tidak mengambil hak kelompok yang berhak menerima subsidi. Hal tersebut merespons kekhawatiran adanya perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi seperti Pertalite.

"Himbauan bijak menggunakan energi dan kesadaran untuk tidak mengambil hak penerima subsidi ini terus digaungkan," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (11/6/2026).

Roberth mengatakan penyesuaian harga BBM non subsidi jenis Pertamax dilakukan dengan tetap memperhatikan daya beli dan roda perekonomian nasional. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tidak mengalami penyesuaian dan tetap dijual sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, faktor harga pasar dan harga keekonomian menjadi salah satu alasan dilakukannya penyesuaian harga. Setelah dilakukan koordinasi dengan regulator, penyesuaian harga Pertamax akhirnya dilakukan.

"Lebih kepada proses bisnis hulu ke hilir penyediaan energi yang sesuai kordinasi dengan regulator perlu dinamis dan beradaptasi atas kondisi terkini menanggapi fenomena saat ini," tambahnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertamina Ungkap Alasan Kenaikan Harga Pertamax