Internasional

Breaking News! Trump Klaim Deal Dengan Iran, Teheran Sebut AS Mundur

tps, CNBC Indonesia
Jumat, 12/06/2026 06:10 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat tiba untuk menyampaikan pidato di Rockland Community College di Suffern, New York, AS, 22 Mei 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak mengklaim bahwa negaranya baru saja mencapai kesepakatan damai yang besar dengan Iran guna mengakhiri perang total di Timur Tengah pada Kamis, (11/06/2026). Langkah mengejutkan ini diikuti dengan keputusan Trump membatalkan seluruh jadwal pemboman udara ke wilayah Iran yang sedianya diluncurkan malam ini.

Mengutip laporan CNBC, Trump menyatakan di hadapan awak media di Ruang Oval Gedung Putih bahwa draf kesepakatan tersebut kini tinggal menunggu proses finalisasi dokumen resmi. Dirinya optimistis prosesi penandatanganan sejarah baru tersebut akan segera terlaksana dalam waktu dekat serta berjanji akan langsung membuka kembali Selat Hormuz bagi jalur pasokan energi dunia.

"Diskusi dan poin-poin akhir, baik dalam konsep maupun detail besar, telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lainnya," tulis Presiden AS Donald Trump melalui akun media sosial Truth Social miliknya mengenai daftar negara yang mendukung pembatalan serangan tersebut.


Trump berdalih pembatalan gempuran rudal ini terpaksa dilakukan karena jalur diplomasi diklaim telah mencapai tingkat kepemimpinan tertinggi di Iran dan disetujui secara mufakat. Padahal, beberapa jam sebelumnya, Trump sempat menebar ancaman mengerikan bahwa militer Washington akan menghantam Iran "sangat keras malam ini" serta bersiap mencaplok Pulau Kharg guna menguasai total pasar minyak dan gas milik Negeri Persia tersebut.

Teheran Bantah Klaim AS, Sebut Hanya Taktik Mundur

Klaim sepihak yang dilontarkan oleh Donald Trump tersebut langsung dibantah keras oleh pihak Teheran tidak lama setelah siaran pers Gedung Putih beredar. Media resmi pemerintah Iran, Fars, secara tegas mengumumkan melalui saluran komunikasi Telegram bahwa otoritas tertinggi mereka sama sekali belum menyetujui teks apa pun terkait nota kesepahaman (MOU) dengan pihak Amerika Serikat.

Pihak Fars justru menilai manuver mendadak yang diambil oleh Trump merupakan sebuah taktik mundur atau retret taktis dari segala ancaman militernya. Trump dinilai telah gagal total untuk menambahkan poin-poin baru yang menguntungkan negaranya ke dalam draf perjanjian yang sebelumnya telah diajukan oleh pihak Iran.

"Realitas yang terjadi hingga saat ini adalah, tidak hanya Iran belum memberikan respons akhir, tetapi pihak Amerika Serikat lah yang sebenarnya telah kembali ke tuntutan mereka yang sebelumnya," tulis media Fars dalam laporan terjemahan resmi mengenai situasi meja perundingan.

Meskipun demikian, pihak media Iran tersebut mengindikasikan bahwa peluang damai belum sepenuhnya tertutup rapat bagi kedua negara. Otoritas Teheran menilai ada kemungkinan untuk memeriksa kembali teks perjanjian tersebut mengingat pihak Gedung Putih pada akhirnya bersedia melunak dan menerima draf teks yang awalnya diusulkan oleh Iran.

Respons Israel Dan Guncangan Pasar Keuangan Global

Di sisi lain, rencana penandatanganan nota kesepahaman ini juga telah dikonsultasikan langsung oleh Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon. Kantor Perdana Menteri Israel telah memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya pembicaraan tingkat tinggi antar kedua pemimpin negara sekutu tersebut.

"Meskipun Israel bukan merupakan bagian dari negosiasi langsung dengan Iran, Perdana Menteri sangat mengapresiasi komitmen Trump bahwa kesepakatan akhir di akhir negosiasi nanti akan tetap mencakup berbagai pembatasan ketat terhadap kemampuan nuklir Iran," rilis resmi kantor Benjamin Netanyahu merespons keputusan Washington.

Meski kejelasan mengenai keberadaan kesepakatan asli ini masih simpang siur dan telah diklaim dekat oleh Trump sebanyak lebih dari 30 kali sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, pasar keuangan global langsung merespons secara instan. Indeks saham di bursa internasional dilaporkan langsung melonjak tajam, sementara harga minyak mentah dunia langsung merosot ke level terendah sesaat setelah pengumuman pembatalan serangan disiarkan.

Namun di luar euforia pasar, militer Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan logistik Iran di Teluk Oman akan tetap diberlakukan secara penuh tanpa pengurangan sedikit pun. Blokade tersebut baru akan dicabut secara resmi setelah seluruh dokumen transaksi dan penandatanganan perdamaian difinalisasi secara hukum oleh kedua belah pihak.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rudal Iran Hantam Israel - Rupiah Tertekan PHK Mengintai