MARKET DATA
Internasional

Perdamaian AS-Iran Terganjal Duit Rp217 T, Kok Bisa?

tfa,  CNBC Indonesia
11 June 2026 20:50
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlanjut meski kedua negara masih terlibat dalam aksi saling serang. Sejumlah sumber menyebut upaya mencapai kesepakatan awal justru makin intens di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

"Iran menginginkan US$6 miliar hingga US$12 miliar dari dana bekunya dilepaskan ke Teheran, sementara Washington ingin melepaskan dana secara bertahap untuk barang-barang kemanusiaan dan menolak pengembalian dana ke Iran secara langsung," kata salah satu sumber Iran, seperti dikutip Reuters, Kamis (11/6/2026).

Menurut tiga sumber Iran dan seorang pejabat Eropa, kedua negara masih aktif bertukar pesan terkait rincian mekanisme pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional. Komunikasi tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun kesepahaman politik antara kedua pihak.

Sumber-sumber Iran mengungkapkan bahwa secara prinsip telah tercapai pemahaman politik awal antara Teheran dan Washington. Namun, sejumlah isu teknis masih menjadi pembahasan, terutama terkait mekanisme pelepasan dana hasil penjualan minyak Iran yang dibekukan di berbagai bank asing.

Nilai dana yang menjadi perdebatan cukup besar. Iran meminta pencairan dana sebesar US$6 miliar hingga US$12 miliar, setara sekitar Rp108,57 triliun hingga Rp217,14 triliun. Sementara itu, AS menginginkan pencairan dilakukan secara bertahap dan terbatas untuk kebutuhan kemanusiaan.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa prioritas utama pemerintahan Iran saat ini bukanlah mencapai penyelesaian komprehensif dengan AS. Teheran lebih mengutamakan pelonggaran ekonomi melalui pencairan sebagian aset yang dibekukan serta penghentian konflik.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Omongan Trump Pepesan Kosong, Rezim Iran Tak Runtuh Digempur AS


Most Popular
Features