Purbaya Soal Ramai Ajakan Pindah Pertalite: Harusnya Gak Semua Pindah
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara perihal ramainya ajakan netizen di media sosial untuk beralih dari bahan bakar minyak, Pertamax ke Pertalite. Ajakan ini dipicu oleh kenaikan harga Pertamax hingga mencapai Rp 16.000 per liter.
Purbaya mengaku pihaknya tidak menghitung risiko perpindahan konsumen Pertamax ke Pertalite yang notabenenya harganya lebih rendah.
"Kita nggak hitung, tapi begini. Pasti ada berapa persen yang pindah. Cuma kan harusnya nggak semuanya pindah. Kenapa? Karena kan yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," ujarnya di kompleks DPR RI, Kamis (11/9/2026).
Dia pun meminta pewarta yang bertanya soal perpindahan ini agar bertanya ke Menteri ESDM.
"Kita belum hitung. Mungkin ditanya Pak Bahil yang mengerti itu," katanya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku telah mewaspadai potensi peralihan konsumen dari Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi Pertamax (RON 92) ke BBM subsidi Pertalite setelah harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengakui bahwa pemerintah menyadari kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi mendorong sebagian masyarakat beralih ke produk yang lebih murah seperti Pertalite. Namun demikian, risiko ini sudah dimitigasi.
"Itu juga fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada kemungkinan besar pergeseran. Tadi kami sudah berdiskusi dengan Biro Pertamina Patra Niaga," ungkap Anggia ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurut Anggia, guna mengantisipasi lonjakan konsumsi BBM bersubsidi, Kementerian ESDM akan memperkuat pengawasan terhadap distribusi dan penyaluran BBM bersubsidi. Salah satu instrumen yang saat ini digunakan adalah sistem QR Code dalam pembelian BBM subsidi.
"Dan antisipasi, mitigasi pasti dilakukan. Misalnya saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya, walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini. Namun pemerintah, Menteri ESDM sudah meminta untuk Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," tegasnya.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]