MARKET DATA

Penyesuaian Harga BBM Tidak Bisa Dihindarkan, Simak Dampak Positifnya!

Elga Nurmutia/Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
11 June 2026 14:40
Sejumlah kendaraan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sejumlah kendaraan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian harga menjadi Rp 16.250/liter dari sebelumnya Rp 12.300/liter. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat dan keberlanjutan pasokan BBM nasional.

Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah menilai penyesuaian harga tersebut berkaitan dengan kondisi geopolitik saat ini. Sehingga langkah yang dilakukan pemerintah dinilai sangat wajar.

"Kita tahu kondisi geopolitik khususnya perang AS dan Iran menyebabkan kenaikan harga minyak dunia, dan juga depresiasi rupiah. Kenaikan harga BBM domestik sudah bisa dipastikan. Dan itu sudah terjadi sebelumnya. Tapi untuk BBM Pertamax selama ini masih dipertahankan oleh pertamina/pemerintah," ungkap dia kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).

Piter menegaskan bahwa baik Pertamina maupun pemerintah tak dapat menahan kenaikan harga minyak. Menurut dia kenaikan harga tersebut justru untuk menjaga pasokan energi dan kesehatan industri hilir minyak dan gas (migas).

"Kalau harga BBM Pertamax tidak dinaikkan, yang bisa dipastikan adalah penimbunan dan penyelundupan. BBM langka ujung-ujungnya akan mahal juga di pasar gelap. Ini di beberapa tempat khususnya di luar Jawa sudah terjadi. Masyarakat juga yang akan susah," tambah Piter.

Di sisi lain, lanjut Piter, menahan harga BBM akan menaikkan beban subsidi dan mengancam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini pun nantinya membuat pemerintah tak dapat melaksanakan program lain yang dibutuhkan masyarakat.

"Artinya juga masyarakat yg akan menanggungnya. Saya kira masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan harga BBM ini adalah sebuah keniscayaan yang hendaknya diterima dengan lapang dada," jelas Piter.

Sebelumnya, VP Commercial and Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan menjelaskan harga BBM di pasar global mengalami kenaikan signifikan akibat meningkatnya tensi geopolitik internasional yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.

Menurutnya, Pertamina selama ini telah berupaya menahan kenaikan harga jual BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, meskipun biaya pengadaan impornya sudah melebihi harga yang dijual di SPBU.

Kenaikan harga Pertamax ini merupakan yang perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu. Ketika harga BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan harga sejak 18 April 2026 lalu, harga BBM Pertamax masih belum mengalami penyesuaian harga.

Bahkan, menurutnya, harga keekonomian BBM Pertamax (RON 92) kini sudah berada di kısaran Rp 20.000-Rp 21.000 per liter. Artinya, meski harga Pertamax kini sudah naik menjadi Rp 16.250 per liter, ini masih tetap di bawah harga keekonomiannya.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," jelasnya dalam acara Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor.

Ia menyebut secara regulasi, penentuan harga BBM non subsidi dalam negeri mengikuti harga pasar dan tidak mendapatkan bantuan fiskal dari pemerintah. Karena itu, Pertamina menekankan penyesuaian harga sangat penting untuk menjamin kemampuan perusahaan dalam membeli kembali bahan baku BBM di pasar internasional guna menjaga ketahanan stok nasional.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Daftar Harga BBM per 23 Mei 2026, Berlaku di Seluruh SPBU RI


Most Popular
Features