Kebiasaan Warga RI Nongkrong di Warkop Berubah, Kamu Juga Ikutan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena baru terjadi di Warung Kopi (Warkop), di mana sejumlah pelanggan melakukan penyesuaian terhadap menu makanan atau minuman yang dipesannya. Namun, fenomena ini justru menjadi sinyal adanya pelemahan daya beli di kalangan masyarakat.
Salah satu pengunjung Warkop, Rifky mengaku dirinya memesan mi instan di Warkop dengan tambahan satu bungkus mi instan yang ia beli di Warung Madura. Hal ini ia lakukan demi menekan pengeluarannya sehari-hari lantaran kebutuhan pokok lainnya sudah mulai meningkat.
"Kalau kopi masih beli, Indomie masih pakai telur, sekarang mulai ngirit Indomienya aja sih," ucap dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Pengunjung Warkop lainnya yaitu Febri menjelaskan, beberapa waktu terakhir ia memang sudah mengurangi konsumsi mi instan. Alhasil, ia jarang pergi ke Warkop. Biasanya, ketika membeli mi instan di Warkop, ia juga tergiur untuk memesan menu lainnya seperti kopi, es teh, bahkan gorengan.
Namun, saat ini Febri memilih untuk lebih bijak dalam mengeluarkan uangnya ketika pergi ke Warkop. Ia pun hanya membeli salah satu minuman atau makanan saja. Untuk sekadar makan mi instan, Febri lebih memilih memasak di rumah dan hanya sesekali saja pergi ke Warkop.
"Buat ngirit budget terus nekan pengeluaran kan, supaya nggak boros. Satu lagi sih ada alasannya, supaya lebih sehat aja," jelasnya.
Penjualan mie instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Penjualan mi instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022). |
Sejalan dengan itu, seorang karyawan Warkop bernama Asep mengamini adanya sedikit perubahan perilaku para pelanggan di Warkop, khususnya bagi anak kost atau akhir bulan ketika gajian belum cair. Pada awal bulan, biasanya pelanggan memesan menu sesuai selera seperti nasi goreng, magelangan, roti bakar, pisang bakar, hingga mi instan telur lengkap dengan kopi atau susu. Beda halnya saat memasuki akhir bulan, kebanyakan dari mereka hanya membeli menu nasi telur seharga Rp 10.000 per porsi.
"Kebanyakan kalau beli Indomie single (satu bungkus) enggak pakai telur, tapi tambah nasi jadi Rp 13.000," ungkap Asep.
Asal tahu saja, saat ini sebagian pelanggan Warkop juga sudah mulai jarang memesan menu mi instan dengan telur. Mereka lebih banyak memesan mi instan ditambah nasi putih. Walau demikian, Asep memandang, penjualan menu kopi masih stabil hingga saat ini lantaran masyarakat belum bisa lepas dari kebiasaan mengkonsumsi kopi.
"Biasanya ramenya abis maghrib sama tadi jam 12 pas makan siang," terangnya.
Salah satunya karyawan Warkop lainnya, Iqbal mengakui adanya penurunan omzet terjadi di Warkop tempatnya bekerja. Hal ini tercermin dari jumlah pengunjung yang mulai berkurang dalam beberapa waktu terakhir.
Bahkan, untuk menu-menu premium seperti omelette dan bubur kacang saat ini penjualannya tergolong minim. Terlebih, menu omelette dibanderol seharga Rp 15.000 di tengah kenaikan harga telur ayam. Adapun satu porsi bubur kacang yang sebelumnya dibanderol Rp 8.000 per porsi kini naik menjadi Rp 10.000 per porsi lantaran harga kacang hijau naik di pasar.
Untungnya, penjualan mi instan dan kopi di Warkop tempat Iqbal bekerja masih relatif stabil. "Warkop ini paling rame abis salat Maghrib sekitar jam 6 lewat," ungkap dia.
Di samping itu, Iqbal berharap harga-harga bahan baku untuk jualannya di Warkop bisa kembali stabil. Dengan demikian, Warkop tersebut bisa kembali menyajikan menu dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Pelaku usaha Warkop lainnya, Yuyun mengaku penjualan di tempat ia berjualan mengalami penurunan yang cukup tajam. Bahkan, ia juga sempat berdiskusi dengan pelaku usaha Warkop lainnya dan ditemukan fakta bahwa omzet Warkop ambruk dalam beberapa waktu terakhir.
Melihat penghasilannya berkurang, Yuyun pun menyadari ada penurunan daya beli di masyarakat. Buktinya, ia kerap kali menemui pelanggan yang hanya ingin masak mi instan alias bawa mi instan dari rumah.
Ia juga menilai, saat ini pelanggannya semakin irit saat jajan ke Warkop. Biasanya, orang-orang membeli kopi lengkap dengan mi instan dan telur, tetapi sekarang mereka hanya membeli mi instan saja atau kopi saja.
"Paling beli es kopi doang, yang beli Indomie juga udah mulai jarang apalagi siang-siang begini," terang dia.
Selain pelemahan daya beli, Yuyun menyadari harga telur di pasar meningkat. Hal ini membuat tekanan tersendiri bagi operasional Warkop, namun ia belum menyesuaikan harga jual makanan atau minumannya.
(wur/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
