Fenomena Warteg Kekinian, Tanda Kelas Menengah Makin Terjepit
Â
Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan restoran mewah dengan konsep warteg di bilangan Senopati, ramai dibicarakan di media sosial. CNBC Indonesia pertama kali mengetahui keberadaan Salira, restoran baru dari raksasa F&B Union Group, melalui konten-konten viral di FYP (for your page) TikTok.
Beberapa netizen di TikTok melabeli Salira sebagai "warteg fancy". Restoran ini menyajikan beragam lauk rumahan yang kerap ditemui di warteg-warteg tradisional, seperti terong balado, tahu-tempe bacem, sambel goreng kentang, telor gulai, hingga gorengan.
Salira juga mencaplok visual khas warteg tradisional yang menggunakan etalase kaca untuk memajang lauk, dan dibuka-tutup dengan gorden vitrase. Tak lupa ada kerupuk kresek yang terpanjang di dekat kasir.
Bedanya, Salira menawarkan tempat yang jauh lebih luas, terbagi menjadi area outdoor, indoor, dan lantai dua yang diakses dengan lift kaca. Meja dan tempat duduknya juga lebih nyaman dan terpisah, tidak komunal layaknya di warteg-warteg tradisional.
Kenyamanan tersebut dibayar dengan harga makanan setara restoran-restoran premium di Jakarta. Kami membayar Rp147.000-an untuk nasi merah, sayur melinjo, bebek goreng, sambal bawang, dan es teh tawar. Salah satu pengunjung yang sempat mengobrol dengan kami mengaku membayar Rp800.000 untuk sekali makan bertiga dengan teman-temannya.
Kelas Menengah Turun Kelas
Sebelum Salira, sebenarnya sudah banyak warteg-warteg kekinian yang bermunculan di Jakarta. Hanya saja, harganya masih bersaing dan relatif terjangkau untuk kantong kelas menengah. Misalnya 'Cahaya Selatan' di Panglima Polim (tutup sejak Maret 2026), Wareqpol di Cideng (tutup sejak Januaru 2026), hingga 'Rumanasi' yang masih beroperasi dan memiliki cabang di Cikajang dan Puri Indah. Rumanasi juga sempat 'hits' saat buka di Cipete, tetapi sekarang sudah tutup.
Di outlet Cikajang, Rumanasi tidak menjajakan lauk di etalase kaca. Opsi menunya sudah berupa paket-paket nasi: nasi teri, nasi ayam, nasi tongkol, nasi sapi, dilengkapi telur. Harga paket nasinya berkisar Rp15.000-Rp29.000. Kami membayar Rp55.000 untuk paket nasi sapi shanghai dan minuman es teh lemon.
Foto: Kartini BohangWarteg 'kekinian' di Jakarta. |
Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaidah, mengatakan fenomena warteg kekinian muncul sebagai respons kondisi ekonomi makro yang menunjukkan fakta penurunan kelas menengah. Menurut data BPS selama periode 2019-2024, ada 9,48 juta kelas menengah yang 'turun kasta' ke kelompok menengah rentan dan kelompok rentan miskin.
Sementara itu, data Mandiri Institute menunjukkan jumlah kelas menengah kembali mengalami penurunan pada 2025 sebanyak 1,1 juta orang menjadi 46,7 juta orang, dari sebelumnya 47,9 juta pada 2024.
Gelombang PHK yang masih terus berlanjut sejak masa pandemi Covid-19, ditambah sulitnya mencari pekerjaan baru di tengah gejolak ekonomi global, turut berimbas ke Indonesia. Sepanjang periode Agustus-November 2025, data BPS mencatat tingkat pengangguran di Indonesia sebanyak 7,35 juta orang.
"Warteg kekinian menjadi salah satu wujud adaptasi mereka [kelas menengah]. Mereka mencari tempat yang tetap bisa untuk rekreatif, tetapi harganya terjangkau karena sesuai dengan kondisi finansial," kata Ida kepada CNBC Indonesia.
Pengamat Budaya Popular, Hikmat Darmawan, mengatakan kelas menengah yang tadinya terbiasa makan di kafe, kemudian harus berhadapan dengan situasi ekonomi yang kian sulit, sehingga perlu mengatur kembali pengeluaran. Untuk itu, ada kanal yang perlu disediakan dengan segera untuk mewadahi gaya hidup kelas menengah yang kian terjepit.
"Bisnis [warteg kekinian] ini menawarkan lifestyle kuliner yang masih di kelas kafe, tetapi dengan harga yang lebih murah," kata Hikmat kepada CNBC Indonesia.
Harga yang dipatok warteg-warteg kekinian memang relatif lebih mahal daripada warteg-warteg tradisional, tetapi tidak sampai berkali-kali lipat. Nilai tambah yang ditawarkan adalah tempat lebih nyaman untuk nongkrong.
"[Kemunculan warteg-warteg kekinian] ini menjadi indikasi dari situasi ekonomi atau daya beli masyarakat yang sedang menurun, sementara lifestyle belum bisa [ikut] menurun secara radikal," Hikmat menjelaskan. "Jadi bukan wartegnya yang elevated, tetapi kelas menengah yang de-elevated," ujarnya.
Ida mengatakan karakteristik kelas menengah memiliki gaya hidup 'hang-out', termasuk makan di luar. Namun, selama ini mereka cenderung tidak memilih nongkrong di warteg tradisional karena dinilai lekat dengan kelas bawah.
"[Warteg tradisional] dianggap tidak nyaman, sempit, dan mungkin juga mempertanyakan higinitasnya," kata Ida.Â
Foto: Kartini BohangWarteg 'kekinian' di Jakarta. |
Kemunculan Warteg 'Fancy'
Berbeda dengan warteg kekinian yang harganya relatif terjangkau, Salira hadir dengan patokan harga premium. Untuk menu gorengan seperti tempe mendoan, bakwan jagung, dan tahu jeletot, harganya dibanderol Rp45.000 belum termasuk biaya servis layanan dan pajak.
Selain lauk-lauk yang dijajakan di etalase kaca, Salira juga memiliki opsi makanan yang bisa dipilih melalui buku menu. Misalnya udang bakar jimbaran seharga Rp145.000, soto tangkar Rp75.000, nasi goreng kampung Rp65.000, sate ayam taichan Rp60.000, ikan bakar padang Rp175.000, dan salmon asap lodeh Rp195.000.
Foto: Kartini BohangRumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium. |
Hikmat menilai keberadaan restoran premium dengan konsep ala warteg ini merupakan bentuk 'apropriasi budaya' (cultural appropriation). Mengutip Britannica, istilah ini mulai populer pada era 1980-an dan mulanya digunakan dalam diskusi akademis untuk isu-isu seputar kolonialisme dan keterkaitan antara kelompok mayoritas dan minoritas.
Seiring perkembangannya, apropriasi budaya kemudian marak dipakai dalam diskusi budaya populer. Menurut Britannica, apropriasi budaya terjadi ketika anggota kelompok mayoritas mengadopsi elemen budaya dari kelompok minoritas dengan cara eksploitatif dan stereotipikal.
Dalam konteks warteg fancy, apropriasi budaya dilakukan oleh kelompok menengah-atas atas terhadap budaya warteg yang sejatinya dimiliki kelompok menengah-bawah. Apropriasi budaya ini dianggap membajak, merampok, melepaskannya dari konteks kultural yang asli.
"Biasanya dimulai dengan eksotisasi, seperti 'ih lucu ya, gue ambil deh tapi dengan gaya lebih mahal'," kata Hikmat.
Dampak dari apropriasi budaya dalam jangka panjang adalah potensi peninggalan selera. Misalnya, standar warteg yang merupakan budaya kelas menengah-bawah kemudian mengacu pada standar kelas atas.
"Jadinya budaya warteg kelas bawah yang orisinil kehilangan nilai aslinya, atau terasa seperti kodian," ujarnya.
Foto: Kartini BohangRumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium. |
Sementara itu, Research Director di Center for Study Indonesian Food Anthropology, Repa Kustipia, menggunakan istilah 'gentrifikasi kuliner' untuk menggambarkan kemunculan warteg fancy. Dalam artian, warteg fancy mengambil atribusi-atribusi warteg tradisional yang 'merakyat', tetapi esensi merakyat itu pelan-pelan dilepaskan atau dirancang untuk naik kelas.
"Kalau ada indikasi warteg [fancy] ini lebih mahal daripada rata-rata warteg tradisional, itu merupakan gentrifikasi kuliner. Kalau harganya kompetitif, itu mengacu ke 'darurat on-the-go'. Artinya, mereka sedang berlayar di pasar kelas menengah yang sensitif dengan harga," kata Repa kepada CNBC Indonesia.
Dalam monografi 'Fenomena Warteg'Â yang ia tulis, Repa mengatakan esensi seseorang datang ke warteg "bukan untuk mencari gengsi sosial, melainkan mengisi perut agar kenyang dengan harga terjangkau".
Repa mengatakan budaya warteg dibawa oleh perantau Tegal sejak 1940-an, berdasarkan patokan cerita dari mulut ke mulut. Warteg yang merupakan singkatan dari 'Warung Tegal' kemudian tumbuh pesat di kota-kota besar, terutama Jakarta.
"Warteg bukan sekadar tempat makan murah, tapi ruang sosial yang mencerminkan identitas, solidaritas perantau, dan strategi bertahan hidup kelas pekerja," tertulis dalam monografi 'Fenomena Warteg'.
Dampak ke Warteg Tradisional
Repa menilai kemunculan warteg fancy tidak akan berdampak besar bagi kelangsungan warteg tradisional. Pasalnya, kekuatan warteg tradisional adalah basis pelanggan yang loyal. Ia tak menampik soal efek 'kejut' ketika warteg fancy ramai dikunjungi di awal-awal berdiri.
"Namun, sifat warteg tradisional biasanya lebih takut dengan warteg yang lebih sederhana, lebih murah, dan lebih banyak," ujar Repa.
Lebih lanjut, ia mengatakan kekuatan warteg fancy ini perlu dilihat dari data kunjungan. Jika yang datang adalah kalangan inklusif atau publik, artinya ada anomali yang terjadi. Namun, jika demografi pengunjung mirip dengan nuansa di kafe-kafe viral lainnya, daya tahan warteg fancy ini disinyalir tak akan lama.
"Maksimal kalau tetap buka bisa 5 tahun. Kalau di 8 bulan pertama sudah menurun dan sepi, artinya ada permasalahan sensitif terkait harga, rasa, dan porsi," ia menjelaskan.
Foto: Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Ida dari Universitas Indonesia juga memiliki pendapat serupa. Ia mengatakan warteg fancy yang ada saat ini merupakan tren sesaat, terlebih masyarakat cenderung antusias mencoba hal-hal yang dianggap 'baru'.
"Warteg fancy seolah menjadi 'hal baru' yang menarik untuk dicoba. Apalagi di era digital, peran media sosial berperan kontributif dalam mempromosikannya dan berhasil menarik kelas menengah," kata Ida.
Foto: Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Ketua Koordinator Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, mengatakan untuk saat ini kemunculan warteg fancy belum berdampak secara serius terhadap warteg tradisional. Pasalnya, masing-masing memiliki segmen pelanggan yang berbeda.
"Warteg fancy pelanggannya orang kantoran, sedangkan yang tradisional para sopir, ojol, dan pedagang asongan," ujarnya.
Ia mengatakan Kowantara pada dasarnya tidak keberatan dengan adanya fenomena warteg fancy. Namun, ia menggarisbawahi agar warteg fancy tidak dibuka di lokasi yang berdekatan dengan warteg tradisional.
"Kalau sampai bersaing, tiba-tiba dibangun dekat dengan warteg tradisional, itu yang jadi masalah," kata Mukroni.
Saat ini, tekanan nyata yang dihadapi pedagang warteg tradisional adalah lonjakan harga plastik kemasan, imbas perang di Timur Tengah. Selain itu, penetapan WFH bagi ASN setiap hari Jumat juga dinilai menjadi tantangan.
Mukroni mengatakan ASN merupakan salah satu pangsa pasar utama warteg. Berkurangnya aktivitas kantor berpotensi mengilangkan waktu puncak penjualan bagi warteg.
"Kehilangan 'Prime Time', yakni jam makan siang, adalah sumber pendapatan terbesar [bagi warteg]. Jika kantor sepi selama 3 hari dalam seminggu, potensi pendapatan harian bisa anjlok 50%-70%," kata Mukroni.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Foto: Kartini Bohang
Foto: Kartini Bohang
Foto: Kartini Bohang
Foto: Kartini Bohang
Foto: Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi warteg di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)