Mencekam! Kota Besar Inggris Ini Chaos, Rumah Dibakar-Toko Dihancurkan
Jakarta, CNBC Indonesia - Kota Belfast, Irlandia Utara, Inggris dilanda kerusuhan rasial yang mencekam setelah sebuah video penyerangan menggunakan pisau di wilayah utara kota tersebut beredar luas di media sosial. Langkah demonstran yang bertindak anarkis dengan membakar mobil, memecahkan jendela, serta menargetkan sejumlah bisnis lokal ini memicu lonjakan ketegangan rasial yang hebat pada Rabu, (10/06/2026).
Aksi unjuk rasa yang berujung pada kekerasan massal di jalanan Belfast ini dipicu oleh kemarahan publik atas insiden penusukan sadis terhadap seorang pria berusia 40-an tahun bernama Stephen Ogilvie. Akibat serangan fatal yang menyasar area wajah, leher, dan punggung tersebut, korban kini harus kehilangan mata kirinya dan masih dalam perawatan intensif di rumah sakit.
Tersangka pelaku penyerangan telah diidentifikasi sebagai Hadi Alodid, seorang warga negara Sudan berusia 30 tahun yang memegang status pengungsi resmi di Inggris Raya. Alodid telah dihadapkan ke pengadilan Belfast dan dijatuhi dakwaan percobaan pembunuhan serta langsung ditahan untuk masa pemeriksaan selama empat minggu ke depan.
Meskipun otoritas keamanan telah menyerukan agar masyarakat tetap tenang, gelombang aksi anarkis dari kelompok sayap kanan tetap tidak terbendung hingga menyasar area pemukiman warga. Sekelompok pria bermasker dilaporkan bergerak dari rumah ke rumah di bagian timur kota untuk memaksa para imigran keluar sembari membakar tempat tinggal mereka.
"Kelompok pria bermasker yang membakar keluarga-keluarga keluar dari rumah mereka tidak lain adalah tindakan pengecut yang menjijikkan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan komunitas. Ini adalah tindakan premanisme murni," kecam Menteri Pertama Irlandia Utara Michelle O'Neill dengan nada sangat marah atas kekacauan jalanan tersebut.
Pernyataan senada juga dilayangkan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mengutuk keras aksi penargetan terhadap kelompok minoritas berdasarkan latar belakang asal-usul mereka. Sementara itu, Menteri Kehakiman Irlandia Utara Naomi Long mengecam keras keterlibatan para komentator sayap kanan luar negeri yang sengaja memanfaatkan penderitaan korban untuk memicu perpecahan rasial di masyarakat.
"Ada aktor-aktor beritikad buruk, baik di Inggris maupun lebih jauh... yang sengaja mendorong orang-orang untuk turun ke jalan, sengaja mempersenjatai rasa sakit dan penderitaan dari seorang pria yang terluka dan komunitas yang ketakutan," tutur Naomi Long yang juga meminta masyarakat menjauh dari papan ketik media sosial demi mencegah bangkitnya sejarah konflik politik kelam di Irlandia Utara.
Ironisnya, narasi kekerasan justru terus diamplifikasi oleh tokoh sayap kanan Inggris Tommy Robinson yang menyerukan aksi turun ke jalan secara nasional melalui platform digital. Seruan provokatif tersebut bahkan dibagikan ulang oleh miliarder teknologi Elon Musk kepada ratusan juta pengikutnya di aplikasi X dengan narasi yang membenarkan aksi protes keras tersebut.
"Hanya dengan memprotes secara berulang-ulang dan lantang maka akan ada perubahan," tulis Elon Musk di akun media sosial miliknya yang langsung menuai kecaman luas dari para politisi Inggris karena dinilai ikut campur dalam politik dalam negeri mereka.
Di sisi lain, pihak keluarga korban Stephen Ogilvie justru menolak keras aksi kerusuhan yang mengatasnamakan kemalangan anggota keluarga mereka. Perwakilan keluarga menegaskan bahwa tindakan anarkis di jalanan sama sekali tidak diinginkan dan meminta masyarakat untuk tetap menjaga perdamaian.
"Kami memiliki banyak migran yang memberikan kontribusi sangat berharga bagi negara kami, termasuk dalam sistem layanan kesehatan dan sektor perhotelan kami, dan kami bergantung pada mereka untuk membuat negara kami berjalan. Kami tidak ingin tragedi mengerikan ini digunakan untuk memecah belah orang atau memicu permusuhan," tegas pihak keluarga korban dalam pernyataan resmi mereka.
Situasi keamanan di Inggris Raya sendiri memang sedang berada dalam tensi tinggi setelah sebelumnya kerusuhan serupa juga pecah di wilayah Southampton, Inggris. Gelombang protes massa di sana dipicu oleh polemik seputar penanganan kepolisian terhadap kasus pembunuhan seorang remaja yang berujung pada perdebatan sengit mengenai kebijakan imigrasi dan sistem pemolisian di negara tersebut.
(tps/tps) Add
source on Google