MARKET DATA

Peternak Ayam Broiler Teriak Rugi, Modal Rp22.000/Kg Dijual Rp16.000

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
10 June 2026 13:45
Peternak memanen telur ayam di peternakan kawasan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Pemerintah resmi menaikkan harga acuan daging dan telur ayam ras untuk mengimbangi penyesuaian tingkat harga di pasar yakni harga telur ayam di ti
Foto: Peternak Ayam (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peternak ayam broiler rakyat mengeluhkan kondisi usaha yang semakin tertekan akibat anjloknya harga jual ayam hidup (live bird) di tingkat peternak. Di tengah kenaikan biaya produksi, harga jual ayam justru masih berada jauh di bawah harga pokok produksi (HPP), membuat peternak menanggung kerugian hingga Rp7.000 per kilogram (kg).

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan mengatakan kondisi yang saat ini dialami peternak broiler tidak kalah berat dibanding peternak ayam petelur yang sebelumnya telah menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, dalam hal ini ke Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman.

Menurut Kusnan, sepanjang 2026 biaya produksi peternakan ayam broiler terus meningkat. Harga pakan tercatat naik secara akumulatif sekitar Rp800 per kg, dengan harga saat ini berada di kisaran Rp8.800-Rp9.400 per kg di tingkat pabrik.

Selain itu, harga DOC (day old chick) final stock saat panen juga berada di rentang Rp5.000-Rp6.000 per ekor, sehingga semakin membebani biaya produksi peternak.

Akibat kenaikan berbagai komponen tersebut, HPP ayam broiler saat ini diperkirakan telah mencapai Rp21.000-Rp22.000 per kg live bird.

Di sisi lain, harga live bird di pasar, khususnya wilayah Jabodetabek dan Banten, masih berkisar Rp15.000-Rp16.000 per kg.

Dengan kondisi tersebut, peternak rakyat diperkirakan menanggung kerugian sekitar Rp5.000-Rp7.000 per kg live bird atau setara Rp10.000-Rp14.000 per ekor ayam berbobot panen 2 kg.

Kusnan menilai kondisi tersebut tidak bisa berlangsung lama, karena berpotensi menggerus modal kerja peternak hingga menyebabkan banyak usaha budidaya berhenti beroperasi.

"Masalah unggas nasional hari ini bukan kekurangan produksi, melainkan belum optimalnya pasar dan distribusi. Ketika HPP sudah mencapai Rp21.000-Rp22.000 per kg, sementara harga live bird hanya Rp15.000-Rp16.000 per kg, maka yang dijual peternak bukan keuntungan, melainkan kerugian," kata Kusnan dalam keterangannya, dikutip Rabu (10/6/2026).

Ia menegaskan, persoalan utama yang saat ini dihadapi peternak bukan lagi produksi, melainkan bagaimana memperbesar pasar agar mampu menyerap melimpahnya produksi ayam dan telur nasional.

Karena itu, Permindo meminta pemerintah tidak hanya fokus pada pengaturan produksi, tetapi juga memperkuat sisi hilir melalui perluasan pasar dan distribusi.

Minta Pemerintah Segera Bertindak

Kusnan mendorong keterlibatan aktif Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, serta BUMN pangan dalam membangun sistem penyerapan dan distribusi yang lebih kuat.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah memperluas penjualan produk unggas di jaringan ritel modern nasional, mulai dari minimarket hingga supermarket.

Selain itu, pemerintah juga diminta membangun mekanisme penyerapan ayam dan telur secara berkelanjutan melalui Bulog atau BUMN pangan sebagai instrumen stabilisasi pasar saat terjadi surplus produksi.

Ia juga mengusulkan, agar produk ayam dan telur lebih banyak diserap melalui berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penanganan stunting, bantuan sosial pangan, cadangan pangan pemerintah, hingga kebutuhan institusi negara seperti sekolah, pesantren, rumah sakit, TNI, dan Polri.

Selain itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat distribusi antarwilayah dan antarpulau melalui dukungan logistik, pengembangan rantai dingin (cold chain), pembangunan cold storage regional, hingga penyusunan peta produksi dan kebutuhan unggas nasional yang lebih akurat.

"Sekitar 70% populasi ayam pedaging dan ayam petelur nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga kerap memicu kelebihan pasokan dan tekanan harga di tingkat peternak," ujarnya.

Kusnan menegaskan, peternak rakyat tidak meminta bantuan langsung maupun subsidi dari pemerintah. Yang dibutuhkan adalah pasar yang lebih luas dan sistem distribusi yang mampu menyerap hasil produksi secara adil.

"Peternak tidak meminta subsidi. Peternak meminta pasar diperbesar, distribusi diperbaiki, dan hasil produksi rakyat diserap secara adil," tegas dia.

Ia meyakini, apabila sistem pasar, distribusi, dan penyerapan produk unggas dapat diperkuat, maka harga ayam dan telur akan terbentuk secara lebih sehat tanpa harus terus bergantung pada kebijakan pengurangan produksi.

Dengan demikian, peternak memperoleh harga yang layak, masyarakat mendapatkan protein hewani dengan harga terjangkau, dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Buntut Harga Telur Anjlok, Kementan Minta MBG Lebih Banyak Menu Telur


Most Popular
Features