MARKET DATA

Kementan dan BRIN Berkolaborasi di Sektor Pangan, Ini Poin Pentingnya

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
09 June 2026 13:55
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BRIN Arif Satria saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari RIzky)
Foto: Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BRIN Arif Satria saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari RIzky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman resmi menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk mempercepat pencapaian swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang memungkinkan para peneliti BRIN memanfaatkan fasilitas riset milik Kementerian Pertanian di seluruh Indonesia.

Amran menyebut kerja sama ini sebagai tonggak penting dalam pembangunan sektor pertanian. Menurutnya, riset menjadi salah satu kunci utama untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan dan berkelanjutan.

"Terima kasih Pak Kepala BRIN (Arif Satria). Ini adalah tonggak sejarah, hari ini kita tanda tangan MoU, kita kolaborasi. Yang pertama, seluruh lab kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia," kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan bersama fasilitas penelitian tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi baru, baik berupa varietas unggul maupun metode budidaya yang dapat meningkatkan hasil produksi petani.

"Karena, kita bisa menghasilkan sesuatu produk secara eksponensial atau produktivitas meningkat yang signifikan kalau hasil penelitian kita berhasil, penelitian kita berhasil, menemukan varietas baru, metode-metode baru, dan seterusnya. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih," ujarnya.

Menurut Amran, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan. Selain itu, pemerintah juga ingin mendorong hilirisasi sehingga setiap wilayah mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, energi, hingga protein.

"Mimpi kita di lapangan sejalan dengan gagasan besar Bapak Presiden, kita harus swasembada pangan yang berkelanjutan, kemudian hilirisasi pada gilirannya semua pulau mandiri pangan, energi, protein, dan seterusnya, sehingga inflasi terjaga dengan baik," ucap dia.

Untuk mencapai target tersebut, Kementan berencana membangun klaster-klaster komoditas unggulan yang didukung langsung oleh para peneliti dan ahli di bidangnya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BRIN Arif Satria saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari RIzky)Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BRIN Arif Satria saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari RIzky) Foto: Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BRIN Arif Satria saat konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari RIzky)

"Contoh program prioritas kita, perkebunan yang demand-nya tinggi: kakao, kopi, mete, tebu. Ini demand-nya tinggi tingkat dunia. Ini kita buat klaster. Kemudian ahli tebu, ahli kakao, ahli bawang putih hortikultura kita tempatkan di situ. Anggarannya ada," jelas Amran.

Ia pun memastikan program tersebut mendapat dukungan anggaran yang memadai. Bahkan, penerapan hasil riset nantinya tidak dilakukan dalam skala kecil, melainkan langsung pada hamparan lahan yang luas dengan pendampingan intensif.

"Anggaran kita ada. Jadi anggaran kita besar, total anggaran kita (Kementan) kan kurang lebih Rp40 triliun, besar sekali. Nah ini nanti sambil membina petani. Jadi bukan percobaan satu hektar dua hektar, ini 10.000, 5.000 kita awasi bersama, 2.000 hektare seperti itu," tuturnya.

Ia pun menegaskan kerja sama tersebut murni berbentuk kolaborasi, bukan pengalihan peneliti BRIN ke Kementerian Pertanian.

"Nggak dialihkan, kolaborasi. Tetap, jadi hanya berkantor di kementerian, di Cimanggu, Bogor, di seluruh Indonesia, di mana pun berada. Jadi lab kita, kantor kita itu besar, sangat besar," ucap dia.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai kerja sama dengan Kementerian Pertanian akan memperkuat kontribusi riset dalam mendukung target swasembada dan ketahanan pangan nasional.

"Hari ini alhamdulillah ini pertemuan yang sangat bersejarah, karena Pak Menteri Pertanian, Pak Wamentan, dan BRIN, ini sudah sepakat untuk bisa memperkuat kolaborasi dan sinergi, khususnya dalam riset dan hilirisasi hasil riset produk-produk pertanian," kata Arif dalam kesempatan yang sama.

Arif mengatakan, para peneliti BRIN akan didorong untuk lebih aktif terlibat dalam pembangunan sektor pertanian, termasuk mendukung pencapaian target produksi berbagai komoditas strategis.

"Nah oleh karena itu melalui kesepakatan ini, insyaallah periset BRIN kita dorong dan kita semangati untuk bisa memberikan kontribusinya dalam pembangunan pertanian, pencapaian swasembada, ketahanan pangan secara lebih konkrit lagi," ujarnya.

Arif menambahkan, BRIN siap mengerahkan seluruh kapasitas riset yang dimiliki, mulai dari pengembangan varietas tahan perubahan iklim hingga teknologi kecerdasan buatan (AI), genomik, robotik, dan smart farming untuk mendukung pembangunan pertanian nasional.

Ia juga optimistis target peningkatan produktivitas komoditas strategis dapat dicapai melalui penguatan riset. Untuk bawang putih misalnya, pemerintah menargetkan produktivitas mencapai 35 ton per hektare.

"Ini kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare. Ini angka yang fantastis, kita ingin mengalahkan negara-negara lain yang sudah bisa menghasilkan 35 ton per hektare," tutur dia.

"Maka riset kita akan kuat betul, kita perkuat untuk bisa mensupport pencapaian target itu," sambung Arif.

Sementara untuk kedelai, BRIN telah memiliki inovasi yang mampu menghasilkan produktivitas hingga 4,6 ton per hektare.

"Sekarang ini sudah ada inovasi yang 4,6 ton per hektare. Sudah ada 4,6 ton per hektare, kita tinggal kembangkan. Aku yakin di bawah beliau (Mentan Amran) aku yakin, sangat yakin," pungkasnya.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bagikan Daging Kurban, Bos Bulog Ucap Syukur RI Swasembada Beras


Most Popular
Features