Rupiah Lemah-Biaya Operasional Naik, Bos Mal Pilih Lakukan Langkah Ini

Martya Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 08/06/2026 21:50 WIB
Foto: Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja dalam Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengelola pusat perbelanjaan menghadapi tekanan biaya yang semakin besar di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan sejumlah komponen biaya operasional. Alih-alih menaikkan harga kepada konsumen maupun penyewa, pelaku usaha mal memilih memperkuat berbagai program promosi untuk mendongkrak penjualan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, tekanan global mulai dirasakan langsung oleh industri pusat perbelanjaan. Salah satunya berasal dari kenaikan biaya operasional akibat pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).


"Dampak global semakin terasa, nilai tukar rupiah (terhadap dolar AS) meningkat, naik terus. Saat ini biaya-biaya operasional di pusat perbelanjaan meningkat. Terutama dari sisi biaya logistik, kemudian harga gas, karena CNG (gas alam terkompresi), itu ada unsur nilai USD-nya, dolar Amerika Serikatnya, sehingga kami mengalami biaya gas naik setiap bulan," kata Alphonzus dalam Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Kenaikan biaya tersebut, lanjutnya, terjadi ketika kondisi penjualan belum sepenuhnya pulih. Menurut dia, pengelola pusat perbelanjaan juga tidak bisa serta-merta membebankan kenaikan biaya kepada para penyewa.

"Namun di satu sisi kami pusat perbelanjaan tidak bisa menaikkan kepada para penyewa, ataupun harus selektif, karena sedang berada di low season. Penjualan sedang belum maksimal, tetapi biaya operasi naik," ujarnya.

Selain tekanan akibat pelemahan rupiah, APPBI juga menghadapi kenaikan beban operasional di sejumlah daerah. Alphonzus mengatakan, beberapa pemerintah daerah mulai mencari sumber pendapatan tambahan setelah adanya pengurangan dana alokasi daerah dari pemerintah pusat.

"Kemudian juga beberapa pemerintah daerah, karena dana alokasi daerahnya dikurangi, itu mereka juga mencari pendapatan tambahan dengan cara menaikkan pajak-pajak. Jadi ini yang kami alami di beberapa daerah, sehingga biaya operasional menjadi naik," ungkap dia.

Meski dihimpit kenaikan biaya dari berbagai sisi, APPBI menegaskan, kenaikan harga bukan menjadi pilihan utama. Menurut Alphonzus, langkah tersebut justru dapat semakin menekan daya beli masyarakat yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

"Menaikkan harga itu adalah langkah terakhir di tengah situasi daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan, menaikkan harga sekiranya itu menjadi opsi terakhir," tegasnya.

Karena itu, strategi yang dipilih industri pusat perbelanjaan saat ini adalah memperbesar transaksi dan mendorong konsumsi masyarakat melalui berbagai program belanja.

"Jadi opsinya apa? Opsinya adalah meningkatkan penjualan, itulah yang dilakukan, kenapa kita menyelenggarakan banyak program-program, termasuk BINA Holiday, ini salah satunya," ujar Alphonzus.

Ia menjelaskan, program-program promosi sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari strategi industri ritel, terutama pada momen-momen besar seperti Natal, Tahun Baru, Ramadan, Idulfitri, libur sekolah hingga Hari Kemerdekaan.

"Acara BINA Holiday sebetulnya di pusat perbelanjaan dan teman-teman peritel selalu di momen-momen tertentu itu dibuat, diselenggarakan," katanya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pelaksanaan program tersebut semakin diperkuat dan melibatkan berbagai pihak.

"Hanya saja dalam 2-3 tahun terakhir ini lebih diintensifkan, lebih dikoordinasikan. Karena untuk memastikan bahwa betul-betul terjadi transaksi yang maksimal, terjadi konsumsi masyarakat yang tinggi. Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kita, terutama target-target yang diberikan oleh pemerintah," ujar Alphonzus.

Menurut dia, penguatan program promosi menjadi semakin penting karena industri ritel saat ini tengah menghadapi periode low season yang lebih panjang dari biasanya. Setelah Ramadan dan Idulfitri yang menjadi puncak penjualan, sektor ritel biasanya memasuki masa perlambatan. Namun tahun ini kondisi tersebut berlangsung lebih lama karena Ramadan dan Idulfitri jatuh pada kuartal pertama.

"Penyelenggaraan tahun ini menjadi lebih spesial karena di tengah kondisi, pertama, adalah sekarang industri ritel di Indonesia itu berada di dalam periode low season," katanya.

"Namun demikian tahun ini periode low seasonnya menjadi lebih panjang, karena Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal di triwulan 1. Triwulan 2 dan triwulan 3 menjadi low season yang panjang, yang lebih panjang daripada biasanya," sambung dia.

Untuk mendongkrak transaksi, APPBI telah menyiapkan sejumlah agenda promosi besar dalam beberapa bulan ke depan. Mulai dari Festival Jakarta Great Sale, Solo Raya Great Sale hingga Indonesia Shopping Festival yang akan digelar pada Agustus mendatang.

"Minggu ini akan di-launching Festival Jakarta Great Sale. Ini juga dimaksudkan adalah selain memperingati hari kelahiran Jakarta juga untuk mendorong penjualan. Solo Raya Great Sale juga sedang dipersiapkan," ujarnya.

"Bulan Agustus kami akan menyelenggarakan Indonesia Shopping Festival dengan memberikan berbagai macam hadiah lebih besar dari tahun sebelumnya," tambah Alphonzus.

Ia menegaskan seluruh program tersebut merupakan upaya industri pusat perbelanjaan dan ritel untuk menjaga penjualan sekaligus menahan kenaikan harga di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.

"Ini adalah dimaksudkan kita berusaha semaksimal mungkin untuk menahan kenaikan harga, dengan cara mendorong penjualan semaksimal mungkin. Jadi sekali lagi, kami bersama teman-teman ritel berkomitmen untuk menaikan harga itu adalah langkah opsi terakhir. Yang akan kami lakukan adalah dengan membuat berbagai macam program-program belanja seperti BINA Holiday ini salah satunya," pungkasnya.

 

 

Caption foto: Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja dalam Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026).


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pengusaha Minta Pemerintah Jamin Pasokan Gula & Garam Impor