Bos Pengusaha Mebel Ngaku Mulai Waspadai Efek Rupiah Lemah, Siaga PHK?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 08/06/2026 18:25 WIB
Foto: Ada Perang Dagang, Pengusaha Mebel RI Incar Ceruk Pasar AS-Eropa

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah dan berbagai tantangan global mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi industri mebel dan kerajinan nasional. Meski demikian, pelaku usaha menilai situasi saat ini belum dapat langsung disimpulkan akan berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan potensi tekanan terhadap tenaga kerja tidak bisa diabaikan, mengingat sektor ini menyerap banyak tenaga kerja atau sektor padat karya.

"Terdapat potensi tekanan terhadap tenaga kerja memang ada, karena sektor ini padat karya dan sangat bergantung pada permintaan ekspor global, daya beli domestik, kurs, serta biaya bahan baku. HIMKI mencatat sektor ini menopang jutaan pekerja langsung dan tidak langsung, sehingga setiap perlambatan order akan cepat terasa di pabrik, terutama UKM dan industri menengah," kata Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).


Di tengah berbagai tantangan tersebut, HIMKI menilai kondisi industri saat ini masih berada dalam fase kewaspadaan. Pelaku usaha masih berupaya menjaga operasional perusahaan sambil menunggu perkembangan permintaan pasar dalam beberapa waktu ke depan.

"Kami tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat bahwa PHK besar pasti terjadi. Pandangan yang lebih tepat industri saat ini berada dalam fase sangat hati-hati. Perusahaan akan lebih dulu menahan ekspansi, mengurangi lembur, mengefisienkan produksi, dan menjaga cashflow. " katanya.

Ia menegaskan, PHK merupakan opsi terakhir yang akan dipilih pelaku usaha apabila tekanan pasar berlangsung dalam waktu panjang.

"PHK biasanya menjadi pilihan paling terakhir bila tekanan order, biaya, dan pasar berlangsung panjang," ujar

Di situasi saat ini, penguatan ekosistem industri dinilai menjadi faktor penting agar industri furnitur nasional mampu bertahan sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global. Sobur menilai ada beberapa negara yang mampu mengembangkan ekosistem mebel dengan baik.

Selain itu, pengusaha mendorong penguatan daya saing industri melalui ekosistem yang lebih terintegrasi, yakni menempatkan Indowood untuk menguatkan sektor hulu dan IFEX sebagai untuk menuju pasar global agar rantai nilai industri dapat berjalan lebih efisien.

"Tiongkok berhasil karena membangun ekosistem. Vietnam tumbuh cepat karena membangun ekosistem. Indonesia harus melakukan hal yang sama. Karena itu IFEX bukan sekadar pameran produk dan Indowood bukan sekadar pameran mesin. Keduanya adalah instrumen strategis untuk membangun daya saing industri furnitur Indonesia dari hulu hingga hilir," tegas Abdul Sobur.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rudal Iran Hantam Israel - Rupiah Tertekan PHK Mengintai