Gencatan Senjata Mandek, Trump "Ompong" di Timur Tengah
Jakarta, CNBC Indonesia - Gencatan senjata yang dimediasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di sejumlah titik konflik Timur Tengah belum mampu menghentikan kekerasan sepenuhnya. Dalam sepekan terakhir, serangan masih terjadi di Jalur Gaza, Lebanon selatan, Israel utara hingga Kuwait, meskipun sejumlah kesepakatan damai telah diumumkan oleh Washington.
Trump bahkan mengakui bahwa gencatan senjata yang berlaku saat ini lebih menyerupai upaya meredam intensitas konflik ketimbang menghentikan perang secara total.
"Penembakan dilakukan dengan cara yang lebih moderat," kata Trump pada Rabu, menggambarkan kondisi rapuh dari kesepakatan yang telah dinegosiasikan pemerintahannya, seperti dikutip Reuters.
Di Gaza, AS berhasil memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada 10 Oktober 2025. Kesepakatan itu mencakup penghentian pertempuran, pembebasan seluruh sandera Hamas, pelepasan tahanan Palestina oleh Israel, penarikan bertahap pasukan Israel, peningkatan bantuan kemanusiaan, serta pembukaan akses perbatasan menuju Mesir.
Namun implementasi kesepakatan tersebut masih menghadapi banyak hambatan. Hamas belum menyetujui pelucutan senjata, sementara Israel dan Hamas masih berselisih mengenai distribusi bantuan kemanusiaan. Rekonstruksi Gaza juga belum berjalan signifikan, sedangkan Israel menyatakan ingin memperluas wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Akibatnya, serangan udara Israel di Gaza tetap berlangsung. Sejak gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 900 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk sembilan orang dalam serangan terbaru pada Kamis. Di sisi lain, serangan sporadis kelompok militan Palestina juga telah menewaskan empat tentara Israel.
Situasi serupa terjadi di Lebanon. Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang disepakati setelah konflik pada 2024 hanya terlaksana sebagian. Ketegangan kembali meningkat sejak Maret ketika perang yang melibatkan Iran pecah, mendorong Hizbullah kembali melancarkan serangan roket ke Israel dan memicu operasi militer Israel di Lebanon selatan.
Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari pada 16 April 2026 setelah adanya komunikasi langka antara pemerintah Israel dan Lebanon. Meski intensitas serangan ke Beirut menurun, pertempuran di wilayah selatan tetap berlangsung. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 3.500 orang tewas sejak 2 Maret, sementara Israel melaporkan 26 tentaranya dan empat warga sipil tewas akibat serangan Hizbullah.
Iran juga menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian penting dari upaya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Namun proposal terbaru yang mensyaratkan Hizbullah meninggalkan wilayah Lebanon selatan ditolak kelompok tersebut sehingga bentrokan masih berlanjut.
Sementara itu, hubungan AS dan Iran juga belum sepenuhnya stabil. Setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menargetkan program nuklir dan rudal balistik Teheran, kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada awal April dan memulai serangkaian perundingan tidak langsung.
Kesepakatan permanen hingga kini belum tercapai. Meski pembicaraan yang dimediasi Pakistan dan Qatar terus berlangsung, kedua pihak masih saling melancarkan serangan. Iran bahkan menargetkan sejumlah negara Teluk Persia, termasuk Kuwait, pada pekan ini.
Para analis menilai kegagalan ketiga gencatan senjata tersebut berakar pada tidak tercapainya kesepakatan politik jangka panjang. Fase awal penghentian konflik memang berhasil menurunkan skala peperangan, tetapi tidak mampu menyelesaikan isu-isu utama yang menjadi sumber pertikaian.
"Ketika tidak ada pergerakan dan tidak ada cakrawala politik, sangat sulit bagi gencatan senjata untuk bertahan, karena tidak ada insentif nyata bagi pihak-pihak yang terlibat dalam gencatan senjata tersebut untuk terus mematuhinya jika hal itu sebenarnya tidak menghasilkan perubahan apapun," ujar Urban Coningham, peneliti di Royal United Services Institute.
Menurutnya, melemahnya pengaruh lembaga internasional serta meningkatnya ketegasan kekuatan-kekuatan regional turut memperkecil peluang tercapainya perdamaian yang lebih permanen di Timur Tengah.
(tfa/luc) Add
source on Google